Percaya Anda dapat Berhasil, maka Anda Pun
Akan benar-benar Berhasil
Keberhasilan berarti banyak hal yang
mengagumkan dan positif. Keberhasilan berarti kesejahteraan pribadi: rumah yang
bagus, liburan, perjalanan, pengalaman baru, jaminan keuangan untuk anak dan
istri. Keberhasilan berarti memperoleh kehormatan, kepemimpinan, disegani oleh
rekan bisnis, dan populer di kalangan teman.
Keberhasilan terutama berarti kebebasan: kebebasan dari kekhawatiran,
ketakutan, frustrasi, dan kegagalan. Keberhasilan berarti rasa hormat kepada
diri sendiri, terus menerus mendapatkan kebahagiaan yang lebih riil dan
kepuasan dari hidup ini, mampu mengerjakan lebih banyak bagi mereka yang
bergantung kepada Anda, dan yang kasih sayangnya begitu Anda hargai.
Keberhasilan berarti menang.
Keberhasilan – prestasi – adalah tujuan hidup!
Setiap manusia menginginkan keberhasilan. Setiap orang menginginkan yang
terbaik dari hidup ini. Tak seorang pun senang akan kemiskinan atau hidup dalam
keadaan paspasan. Tak seorang pun senang merasa inferior; tak seorang pun
senang dipermainkan.
Salah satu dari kearifan pembangun keberhasilan yang paling praktis terdapat di
dalam kutipan Kitab Suci yang mengatakan bahwa iman dapat memindahkan gunung.
Percaya, benar-benar percaya bahwa Anda dapat memindahkan gunung, maka Anda pun
mampu melakukannya. Kesangsian berjalan bersama-sama dengan kegagalan.
Barangkali Anda pernah mendengar orang berkata, "Omong kosong kalau Anda
mengira dapat memindahkan gunung hanya dengan mengatakan 'Gunung, pindahlah.'
Benar-benar tidak mungkin."
Mereka yang berpikir seperti ini mengelirukan kepercayaan atau iman dengan
angan-angan. Dan memang benar, Anda tidak dapat memindahkan gunung dengan
mengangankannya saja. Anda tidak akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik
hanya dengan mengangankannya. Anda juga tidak akan mendapatkan rumah besar
hanya dengan mengangankannya. Anda tidak dapat menjadi pemimpin hanya dengan
mengangankan menjadi pemimpin.
Akan tetapi kita dapat memindahkan gunung dengan kepercayaan yang kuat. Cara
terbaik untuk memperoleh keberhasilan adalah dengan percaya bahwa Anda dapat
berhasil.
Tidak ada yang gaib atau rahasia mengenai kekuatan kepercayaan. Kepercayaan
bekerja sebagai berikut. Kepercayaan, sikap
"Saya-positif-saya-dapat," membangkitkan kekuatan, keterampilan dan
energi yang diperlukan untuk berhasil. Jika Anda percaya
"Saya-dapat-me-lakukannya" dan benar-benar percaya, maka
"bagaimana melakukannya" pun berkembang secara otomatis.
Setiap hari, di setiap kota dan desa, orang-orang muda memulai pekerjaan yang
baru. Masing-masing "mengangankan" bahwa suatu hari mereka akan
menikmati keberhasilan yang mengiringi mereka menuju puncak. Namun, mayoritas
orang muda ini benar-benar tidak mempunyai kepercayaan yang diperlukan untuk
mencapai jenjang tertinggi. Dan mereka pun tidak pernah mencapai puncak. Percaya
bahwa tidak mungkin untuk mendaki tinggi, mereka pun tidak menemukan anak
tangga yang menuju ke tempat tertinggi. Sikap mereka adalah sikap orang
"kebanyakan."
Akan tetapi, sejumlah kecil orang muda ini benar-benar percaya bahwa mereka
akan berhasil. Mereka mendekati pekerjaan dengan sikap
"Saya-akan-mencapai-puncak." Dan dengan kepercayaan besar, mereka pun
mencapai puncak. Percaya bahwa mereka akan berhasil – dan itu bukannya tidak
mungkin – mereka belajar dan mengamati sikap orang-orang yang sudah berhasil.
Jadi, mereka belajar bagaimana orang yang sukses mendekati masalah dan
mengambil keputusan. Dengan mengamati sikap orang yang berhasil, mereka pun
menjadi berhasil.
Cara melakukannya selalu muncul untuk orang yang percaya ia dapat melakukannya.
Seorang teman saya yang masih muda dua tahun lalu memutuskan untuk mendirikan
sebuah agen penjualan yang menjual mobil karavan. Banyak orang mengatakan bahwa
proyeknya tidak mungkin berhasil. Tabungannya kurang dari £1.000, dan ia
di-beritahu bahwa investasi modal minimum yang diperlukan berkali lipat jumlah
itu. "Lihatlah betapa berat persaingannya," teman-temannya
memperingatkan. "Selain itu, pengalaman praktis apa yang kamu miliki dalam
menjual karavan, apa lagi memanajemeni perusahaan besar?"
Akan tetapi, orang muda ini percaya kepada diri sendiri dan kemampuannya untuk
berhasil. Ia mengakui bahwa ia kekurangan modal, bahwa bisnis tersebut sangat
kompetitif, dan bahwa ia tidak mempunyai pengalaman.
"Akan tetapi," katanya, "semua bukti yang dapat saya kumpulkan
memperlihatkan bahwa industri karavan akan meluas. Dan yang terutama, saya
sudah mempelajari pesaing saya. Saya tahu saya dapat melakukan pekerjaan yang
lebih baik dalam menjual karavan dibandingkan siapa pun di wilayah ini. Saya
mungkin membuat beberapa kesalahan, tetapi saya akan memperbaikinya dan akan
tiba di puncak."
Kenyataannya memang begitu. Ia hanya mengalami sedikit kesulitan dalam
mendapatkan tambahan modal. Kepercayaannya yang mutlak bahwa ia dapat berhasil
dengan bisnis ini membuat dua orang investor menaruh kepercayaan kepadanya.
Dan, bersenjatakan kepercayaan yang bulat, ia melakukan "hal yang tidak
mungkin" – ia mendapat inventaris terbatas tanpa uang muka dari seorang
pengusaha pabrik karavan.
Tahun lalu ia menjual karavan dengan nilai lebih dari £300.000. "Tahun
depan," katanya, "saya akan menjual senilai lebih dari
£600.000!" Kepercayaan, kepercayaan yang kuat menggerakkan pikiran untuk
mencari jalan dan sarana serta cara melakukannya. Dan percaya bahwa Anda dapat
berhasil membuat orang lain menaruh kepercayaan kepada Anda.
Mayoritas orang tidak menaruh kepercayaan yang besar akan kepercayaan. Beberapa
minggu yang lalu, seorang teman yang insinyur sipil menceritakan kepada saya
tentang pengalaman "memindahkan gunung."
"Bulan lalu," katanya, "departemen saya mengirim surat kepada
beberapa perusahaan rekayasa bahwa kami diberi wewenang untuk menarik beberapa
perusahaan untuk mendesain delapan buah jembatan sebagai bagian dari program
kami dalam pembangunan jalan raya. Jembatan-jembatan tersebut diharapkan
dibangun dengan biaya £1,5 juta. Perusahaan rekayasa yang dipilih akan mendapat
komisi 4 persen, atau £60.000 untuk kerja desainnya.
"Saya berbicara dengan 21 perusahaan rekayasa mengenai hal ini. Empat yang
terbesar segera memutuskan untuk menyerahkan proposal. Tujuh belas yang lain
adalah perusahaan kecil. Besarnya proyek membuat takut 16 dari 17 perusahaan
kecil ini. Mereka memeriksa proyek tersebut, menggelengkan kepala, dan berkata:
"Proyek ini terlalu besar untuk kami. Tidak ada gunanya mencoba."
"Akan tetapi, salah satu dari perusahaan kecil ini, sebuah perusahaan
dengan hanya tiga insinyur yang cakap, mempelajari rencananya dan berkata,
'Kami dapat mengerjakannya. Kami akan menyerahkan proposal.' Mereka melakukannya,
dan mereka mendapatkan pekerjaan itu."
Mereka yang percaya bahwa mereka dapat memindahkan gunung benar-benar dapat
melakukannya. Mereka yang percaya bahwa mereka tidak dapat benar-benar tidak
dapat melakukannya. Kepercayaan menggerakkan kekuatan untuk melaksanakan. Di
zaman modern ini kepercayaan mengerjakan hal-hal yang jauh lebih besar daripada
memindahkan gunung. Unsur yang paling esensial – sebenarnya satu-satunya unsur
yang esensial – di dalam penjelajahan luar angkasa dewasa ini adalah
kepercayaan bahwa ruang angkasa dapat dikuasai. Tanpa kepercayaan yang kuat dan
tidak tergoyahkan bahwa manusia dapat mengadakan perjalanan ke ruang angkasa,
para ilmuwan tidak akan mempunyai keberanian, minat, dan antusiasme untuk maju.
Kepercayaan bahwa kanker dapat disembuhkan akhirnya akan menghasilkan obat
untuk kanker. Sementara saya menulis buku ini ada pembicaraan tentang
pembangunan sebuah terowongan di bawah Terusan Inggris untuk menghubungkan
Inggris dengan Benua Eropa. Dibangun tidaknya terowongan ini bergantung pada
apakah orang-orang yang bertanggung jawab dalam pelaksanaannya percaya bahwa
terowongan tersebut dapat dibangun.
Kepercayaan akan hasil yang besar adalah kekuatan penggerak, daya di belakang
semua buku besar, drama besar, penemuan ilmiah yang besar. Kepercayaan akan
keberhasilan ada di balik semua bisnis yang berhasil, perusahaan yang berhasil,
dan organisasi politik yang berhasil, kepercayaan akan keberhasilan adalah satu
unsur dasar yang sepenuhnya esensial pada diri orang-orang yang berhasil.
Percayalah, benar-benar percaya bahwa Anda dapat berhasil, maka Anda pun akan
berhasil.
Selama bertahun-tahun saya sudah berbicara dengan banyak orang yang gagal dalam
usaha bisnis dan bermacam karier. Banyak alasan dan dalih diberikan mengenai
kegagalan mereka. Sesuatu yang sangat penting tersingkap ketika Anda berbicara
dengan seorang yang gagal. Dengan cara yang sambil lalu orang yang gagal
melontarkan komentar seperti, "Terus terang saja, saya rasa ini tidak akan
berhasil," atau "Saya ragu bahkan sebelum saya mulai," atau
"Sebenarnya, saya tidak terlalu heran usaha ini tidak berhasil."
Sikap "Baiklah – saya mau mencobanya, tetapi saya rasa ini tidak akan
berhasil" akan menyebabkan kegagalan.
Kesangsian adalah kekuatan yang negatif. Ketika pikiran tidak percaya atau
ragu, pikiran tersebut menarik "dalih" untuk menyokong
ketidakpercayaan tersebut. Keraguan, ketidakpercayaan, keinginan bawah sadar
untuk gagal, perasaan tidak benar-benar ingin berhasil, bertanggung jawab atas
sebagian besar kegagalan. Berpikir ragu, maka Anda gagal.
Berpikir menang, maka Anda berhasil.
Seorang penulis fiksi yang masih muda berbicara dengan saya belum lama ini
mengenai ambisinya dalam menulis. Saya menyebutkan nama salah seorang penulis
ulung di dalam bidangnya.
"Oh," katanya, "Tuan X memang penulis ulung, tetapi tentu saja
saya tidak dapat seberhasil beliau."
Sikapnya membuat saya sangat kecewa karena saya mengenal penulis yang ia
sebutkan namanya. Penulis ulung tersebut bukan orang yang super cerdas, super
perseptif, atau super apa pun kecuali super percaya. Ia percaya bahwa ia adalah
salah satu yang terbaik, dan ia pun bertindak dan berkarya sebagai yang
terbaik. Memang baik jika kita menghormati pemimpin. Belajar darinya.
Mengamatinya. Mempelajari dirinya. Tetapi, jangan memujanya. Percayalah Anda
dapat melebihinya. Percayalah Anda dapat men-gung gulinya. Siapa yang bertahan
pada sikap terbaik nomor dua pastilah menjadi orang nomor dua.
Coba lihat dengan cara ini. Kepercayaan adalah termostat yang mengatur apa yang
kita capai di dalam hidup. Pelajari orang yang berjalan dengan kaki terseret
dalam keadaan pas-pasan. Ia percaya dirinya kurang berharga sehingga ia pun
hanya menerima sedikit. Ia tidak percaya dirinya dapat mengerjakan hal-hal
besar, dan ia pun tidak mengerjakan hal-hal besar. Ia percaya dirinya tidak
penting, maka segala yang ia kerjakan mempunyai tanda tidak penting. Sementara
waktu berlalu, tidak adanya kepercayaan akan diri sendiri ini terlihat dalam
cara ia berbicara, berjalan, bertindak. Jika ia tidak menyesuaikan lagi
termostatnya, ia akan mengerut, tumbuh semakin kecil dan semakin kecil dalam
pandangannya sendiri. Dan, karena orang lain melihat diri kita seperti apa yang
kita lihat di dalam diri kita, ia tumbuh semakin kecil dalam pandangan
orang-orang di sekelilingnya.
Sekarang kita lihat orang muda yang maju dengan pesat. Ia percaya dirinya
sangat berharga, dan ia mendapat banyak. Ia percaya dapat menangani tugas yang
besar dan sulit – dan ia melakukannya. Semua yang ia kerjakan, cara ia
berhadapan dengan orang lain, karakternya, pikirannya, sudut pandangnya, semua
mengatakan, "Inilah dia orang yang profesional. Ia adalah orang
penting."
Setiap orang adalah produk dari pikirannya sendiri. Percayalah akan hal-hal
yang besar. Sesuaikan termostat Anda. Luncurkan serangan sukses dengan
kepercayaan jujur dan tulus bahwa Anda dapat berhasil. Percayalah akan
kebesaran dan tumbuhlah dalam kebesaran.
Beberapa tahun yang lalu sesudah berceramah di hadapan sekelompok usahawan di
Amerika Serikat, saya berbincang dengan salah seorang dari mereka yang
menghampiri saya, memperkenalkan dirinya dan berkata, "Saya benar-benar
menikmati ceramah anda. Dapatkah Anda meluangkan waktu beberapa menit? Saya
ingin sekali berbincang dengan Anda tentang suatu pengalaman pribadi.
"Sambil minum kopi ia bercerita dengan tenang:" Saya mempunyai sebuah
pengalaman pribadi yang berkaitan dengan apa yang Anda katakan tadi mengenai
membuat pikiran kita bekerja untuk kita dan bukannya membiarkannya bekerja
melawan kita. Saya belum pernah menceritakan kepada siapa pun bagaimana saya
mengangkat diri saya keluar dari dunia menengah, tetapi saya ingin sekali
menceritakannya kepada Anda."
"Silakan," saya meminta. "Saya ingin sekali mendengarnya."
"Begini, lima tahun yang lalu saya bekerja keras, dalam pekerjaan yang
biasa-biasa saja. Memang saya hidup lumayan menurut standar rata-rata, tetapi
masih jauh dari ideal. Rumah kami masih terlalu kecil, dan tidak ada uang untuk
membeli banyak barang yang kami inginkan. Syukurlah istri saya tidak banyak
mengeluh, tetapi tampak jelas ia menerima saja nasibnya tetapi ia tidak puas.
Saya semakin tidak puas. Ketika saya membiarkan diri saya
melihat bagaimana saya mengecewakan istri dan dua anak saya, saya memutuskan
untuk mengubah semuanya.
"Sekarang ini, kami mempunyai sebuah rumah baru yang bagus di atas tanah
yang luas, dan sebuah pondok kira-kira dua ratus kilometer di sebelah utara.
Tidak ada kekhawatiran apakah kami dapat mengirim anak-anak ke perguruan tinggi
yang baik, dan istri saya tidak lagi harus merasa bersalah setiap kali ia
membelanjakan uang untuk membeli beberapa pakaian baru. Musim panas yang akan
datang kami sekeluarga akan terbang ke Eropa untuk menghabiskan liburan selama
sebulan. Kami sekarang benar-benar hidup."
"Bagaimana ini semua bisa terjadi?" tanya saya.
"Semuanya terjadi," lanjutnya, "ketika, menurut ungkapan yang
Anda gunakan tadi, 'saya memanfaatkan kekuatan kepercayaan.' Lima tahun yang
lalu saya mengetahui adanya lowongan di sebuah perusahaan di sini di Detroit.
Kami waktu itu tinggal di Cleveland. Saya memutuskan untuk mencobanya, sambil
berharap dapat menghasilkan uang sedikit lebih banyak di sana. Saya tiba di
sini lebih awal yaitu pada hari Minggu malam, tetapi wawancaranya sendiri baru
akan dilakukan pada hari Senin.
"Sesudah makan malam saya duduk di kamar hotel dan entah karena apa saya
benar-benar merasa jijik dengan diri saya sendiri. 'Mengapa,' saya bertanya,
'saya hanya menjadi orang gagal kelas menengah? Mengapa saya berusaha
mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan langkah maju yang begitu kecil?"
"Sampai sekarang saya tidak tahu apa yang mendorong saya untuk
melakukannya, tetapi saya mengambil selembar kertas dan menuliskan nama lima
orang yang saya kenal baik selama beberapa tahun yang sudah jauh melampaui saya
dalam penghasilan dan kemajuan bisnis. Dua adalah bekas tetangga yang sudah
pindah ke subdivisi yang lebih baik. Dua lagi adalah bekas majikan saya, dan
yang ketiga adalah kakak ipar saya. "Kemudian, saya bertanya dalam hati
apa yang mereka punyai yang tidak saya miliki, selain pekerjaan yang lebih
baik? Saya membandingkan kecerdasan mereka dengan kecerdasan saya, tetapi
secara jujur saya tidak dapat melihat bahwa mereka lebih unggul dalam hal otak.
Secara jujur saya juga tidak dapat mengatakan mereka berpendidikan lebih baik
daripada saya, atau mempunyai integritas atau kebiasaan pribadi yang lebih
unggul.
"Akhirnya saya tiba pada satu lagi kualitas keberhasilan yang sering kita
dengar. Inisiatif. Di sini saya harus mengakui bahwa rekor saya jauh di bawah
teman-teman saya yang berhasil.
"Untuk pertama kali saya melihat titik lemah saya. Saya menemukan bahwa
saya memang suka menahan diri. Saya menggali ke dalam diri saya semakin dalam
dan lebih dalam lagi, dan menemukan alasan mengapa saya kurang memiliki
inisiatif adalah karena saya tidak percaya bahwa diri saya sangat berharga.
"Saya duduk di sana sepanjang malam meninjau kembali bagaimana kurangnya
kepercayaan akan diri sendiri telah mendominasi saya selama ini; bagaimana saya
menggunakan pikiran saya bekerja melawan diri saya sendiri. Saya mendapatkan
diri saya mengkhotbahi diri sendiri mengapa saya tidak dapat maju bukannya
mengapa saya dapat maju. Saya melihat rentetan sikap menurunkan nilai diri
sendiri ini tampak dalam semua yang saya kerjakan. Kemudian, kesadaran saya
timbul bahwa tak seorang pun akan percaya kepada saya sebelum saya percaya
kepada diri saya sendiri. "Sejak saat itu saya memutuskan, 'Saya tidak mau
lagi merasa sebagai orang kelas dua.
Sejak sekarang dan seterusnya saya tidak akan meremehkan diri sendiri.
"Keesokan paginya saya masih memiliki kepercayaan itu. Selama wawancara
saya menguji untuk pertama kalinya kepercayaan yang baru saya dapatkan. Sebelum
wawancara saya berharap memiliki keberanian untuk meminta $1.000, atau mungkin
bahkan $1.500 lebih banyak daripada yang saya peroleh dari pekerjaan saya yang
sekarang. Akan tetapi sekarang, sesudah saya menyadari bahwa saya adalah orang
yang berharga, saya menaikkannya menjadi $5.000. Dan saya mendapatkannya. Saya
menjual kualitas saya karena sesudah satu malam yang panjang dengan melakukan
analisis diri saya menemukan hal-hal di dalam diri saya yang membuat saya jauh
lebih mungkin laku.
"Dalam dua tahun sesudah saya melakukan pekerjaan itu, saya menegakkan
reputasi sebagai orang yang cakap dan mampu berbisnis. Kemudian kami mengalami
kemerosotan besar dalam bisnis. Ini malah membuat saya lebih berharga karena
saya adalah salah seorang yang terbaik dalam mendatangkan keuntungan bagi
perusahaan. Perusahaan diorganisasi ulang, dan saya diberi saham dalam jumlah
besar ditambah kenaikan gaji yang besar."
Jelaslah, dengan percaya kepada diri sendiri maka segala hal yang baik pasti
mulai terjadi.
Otak Anda adalah "pabrik pikiran." Pabrik yang juga sibuk
menghasilkan pikiran yang tak terhitung setiap jam.
Produksi di dalam pabrik pikiran Anda berada di ba wah pengawasan dua mandor,
salah satunya kita sebut saja Tuan Kemenangan, dan yang satu lagi, Tuan
Kekalahan. Tuan Kemenangan bertanggung jawab untuk menghasilkan pikiran-pikiran
yang positif. Ia berspesialisasi menghasilkan alasan-alasan mengapa Anda dapat,
mengapa Anda cakap, dan mengapa Anda akan berhasil.
Mandor yang satunya lagi, Tuan Kekalahan, menghasilkan pikiran negatif yang
menurunkan nilai diri. Ia adalah ahli dalam mengembangkan alasan-alasan mengapa
Anda tidak dapat, mengapa Anda lemah, me-ngapa Anda tidak memadai.
Spesialisasinya adalah rangkaian pikiran "mengapa-Anda-akan-gagal."
Baik Tuan Kemenangan maupun Tuan Kekalahan sangat patuh kepada Anda. Mereka
cepat menjalankan perintah. Yang perlu Anda lakukan untuk memberi isyarat
kepada kedua mandor hanyalah kesiapan mental sedikit saja. Jika isyaratnya
positif, Tuan Kemenangan akan melangkah maju dan segera bekerja. Begitu pula,
isyarat negatif membuat Tuan Kekalahan melangkah maju.
Untuk melihat bagaimana kedua mandor ini bekerja untuk Anda, coba contoh ini.
Katakan kepada diri sendri, "Hari ini benar-benar buruk," Ini
mengisyaratkan Tuan Kekalahan untuk bertindak, dan ia pun menghasilkan sejumlah
fakta untuk membuktikan bahwa Anda benar. Ia menyatakan bahwa hari ini terlalu
panas, atau terlalu dingin; bisnis akan buruk hari ini, penjualan akan turun,
orang lain akan gelisah, Anda mungkin jatuh sakit, istri Anda dalam suasana
hati yang tidak menyenangkan. Tuan Kekalahan benar-benar efisien. Dalam
beberapa saat saja, ia sudah membuktikan bahwa hari ini benar-benar buruk, dan
sebelum Anda menyadarinya, ini benar-benar menjadi hari yang buruk sekali!
Akan tetapi, katakan kepada diri sendiri, "Hari ini hari baik," dan
Tuan Kemenangan diisyaratkan untuk maju. Ia memberitahu Anda "Ini adalah
hari yang baik sekali. Cuaca cerah. Hidup ini menyenangkan sekali."
Walaupun turun hujan, ia akan mengatakan, "Betapa segarnya hujan ini. Ini
membuat kita senang menjalani hidup ini. Hari ini Anda dapat mengejar sebagian
kerja Anda." Dan pastilah hari ini ternyata memang hari yang benar-benar
baik.
Dengan cara yang serupa, Tuan Kekalahan dapat memperlihatkan kepada Anda
mengapa Anda tidak dapat berhasil. Tuan Kemenangan akan memperlihatkan kepada
Anda bahwa Anda dapat. Tuan Kekalahan akan meyakinkan Anda bahwa Anda akan
gagal, sementara Tuan Kemenangan akan memperlihatkan mengapa Anda akan
berhasil.
Sekarang, semakin banyak pekerjaan yang Anda berikan kepada salah satu dari
kedua orang mandor ini semakin kuat ia jadinya. Jika Tuan Kekalahan diberi
banyak pekerjaan, ia mengambil tempat lebih banyak di dalam otak Anda.
Akhirnya, ia akan mengambil alih seluruh divisi pembuat pikiran, dan hampir
semua pikiran akan menjadi bersifat negatif.
Satu-satunya tindakan yang bijaksana adalah memecat Tuan Kekalahan. Anda tidak
membutuhkannya. Anda tidak menginginkan dia berada di dekat Anda sambil
mengatakan kepada Anda bahwa Anda tidak dapat, bahwa Anda tidak dapat
mengerjakannya, bahwa Anda akan gagal, dan seterusnya. Tuan Kekalahan tidak
akan membantu Anda tiba di tempat yang Anda tuju, maka pecat saja dia. Gunakan
Tuan Kemenangan seratus persen selalu. Ketika ada pikiran memasuki benak Anda,
minta Tuan Kemenangan agar bekerja untuk Anda. Ia akan memperlihatkan bagaimana
Anda dapat berhasil.
Jangan percaya kepada si pesimis yang takut akan Abad Atom. Katakan kepadanya
bahwa ini adalah waktu yang paling menyenangkan untuk menjalani hidup. Katakan
kepadanya tentang industri baru, terobosan ilmiah baru, pasar yang semakin luas
– semua berarti peluang. Ini adalah berita baik.
Sesungguhnya, semua isyarat menunjuk ke arah permintaan akan orang-orang
tingkat tertinggi di dalam setiap bidang–orang-orang yang mempunyai kemampuan
superior untuk mempengaruhi orang lain, untuk mengarahkan kerja mereka, untuk
melayani mereka dalam kapasitas kepemimpinan. Dan orang-orang yang akan mengisi
posisi pemimpin ini adalah semua orang dewasa atau yang menjelang dewasa
sekarang ini. Salah seorang dari mereka adalah Anda.
Jaminan adanya "boom" tentu saja bukanlah jaminan akan keberhasilan
pribadi. Selama beberapa dasawarsa, Amerika Serikat selalu mengalami
"boom." Akan tetapi, secara sekilas saja tampak bahwa ratusan ribu
orang – sebenarnya, mayoritas dari mereka – memang berjuang tetapi tidak pernah
benar-benar berhasil. Kebanyakan tetap biasa-biasa saja walaupun peluang
semakin banyak selama dua dasawarsa terakhir. Dan di dalam periode
"boom" yang mendatang, kebanyakan orang akan terus khawatir, takut,
merangkak menjalani kehidupan dengan merasa diri tidak penting, tidak dihargai,
tidak mampu mengerjakan apa yang mereka ingin kerjakan.
Akibatnya, prestasi mereka hanya akan menghasilkan ganjaran yang kecil,
kebahagiaan yang kecil. Mereka yang mengubah peluang menjadi penghasilan (dan
saya secara tulus percaya Anda adalah salah seorang dari mereka, karena kalau
tidak maka anda tidak akan mau repot-repot membaca buku ini) adalah orang
bijaksana yang belajar bagaimana berpikir sendiri untuk berhasil.
Masuklah. Pintu menuju keberhasilan terbuka lebih lebar daripada yang pernah
terjadi sebelumnya. Catatlah bahwa Anda akan bergabung dengan kelompok pilihan
yang akan mendapatkan yang diinginkan dalam hidup ini. Inilah langkah pertama
menuju keberhasilan. Inilah langkah dasar. Langkah ini tidak dapat dihindari.
Langkah Satu: Percayalah kepada diri sendiri, percayalah Anda dapat berhasil.
Bagaimana Mengembangkan Kekuatan Kepercayaan
Berikut ini adalah tiga pedoman untuk mendapatkan dan mengokohkan kekuatan
kepercayaan:
1. Berpikir Sukses, jangan berpikir gagal. Di tempat kerja, dan di rumah,
gantilah berpikir gagal dengan berpikir sukses. Sewaktu menghadapi situasi yang
sulit, berpikirlah, "Saya akan menang," bukan "Saya akan
kalah." Ketika Anda bersaing dengan orang lain, berpikirlah, "Saya
sama dengan yang terbaik," bukan "Saya tidak masuk hitungan."
Jika peluang muncul, berpikirlah "Saya dapat melakukannya," jangan
pernah berpikir "Saya tidak dapat."
Biarkan pikiran utama "Saya-akan-berhasil" mendominasi proses
berpikir Anda. Berpikir sukses mengkondisi-kan pikiran Anda untuk rencana yang
menghasilkan keberhasilan. Berpikir gagal mengerjakan yang persis berlawanan.
Berpikir gagal mengkon-disikan pikiran memikirkan pikiran-pikiran lain yang
menghasilkan kegagalan.
2.Ingatkan diri Anda secara teratur bahwa Anda lebih baik daripada yang Anda
kira. Orang yang sukses bukanlah orang yang super. Sukses tidak mensyaratkan
super-intelek. Juga tidak ada yang mistis mengenai sukses. Sukses tidak
didasarkan pada nasib. Orang yang sukses hanyalah orang biasa yang telah
mengembangkan kepercayaan kepada diri sendiri dan apa yang mereka kerjakan.
Jangan pernah mengakui keraguan Anda atau mengesankan kepada orang lain bahwa
Anda bukan orang kelas satu.
3.Percaya Besar. Besar-kecilnya keberhasilan Anda ditentukan oleh
besar-kecilnya kepercayaan Anda. Pikirkanlah tujuan-tujuan yang kecil, maka
harapkanlah hasil-hasil yang kecil pula. Pikirkanlah tujuan-tujuan yang besar
dan dapatkan keberhasilan besar. Ingat ini pula. Gagasan besar dan rencana
besar acap kali lebih mudah – yang pasti tidak lebih sulit – dibandingkan
gagasan kecil dan rencana kecil. Ralph J. Cordiner, Ketua Dewan General
Electric Company, mengatakan hal ini di dalam konferensi kepemimpinan:
"... Kita memerlukan dari setiap orang yang bercita-cita menjadi pemimpin
– untuk dirinya sendiri dan perusahaannya – suatu tekad untuk menjalankan
program pribadi pengembangan diri. Tak seorang pun akan memerintahkan seseorang
untuk berkembang . . . Apakah seseorang tertinggal di belakang atau bergerak
maju di dalam bidangnya adalah masalah ketekunan pribadinya sendiri. Ini
membutuhkan waktu, kerja dan pengorbanan. Tak seorang pun dapat melakukannya
untuk Anda."
Advis Cordiner sehat dan praktis. Hayatilah. Orang-orang yang mencapai puncak
di dalam manajemen perusahaan, penjualan, rekayasa, kerja keagamaan, penulisan,
akting, dan di dalam bidang-bidang lain tiba di sana dengan mengikuti secara
sadar dan terus menerus suatu rencana untuk pengembangan dan pertumbuhan diri.
Program pelatihan apa pun – dan buku ini adalah program pelatihan demikian –
harus melakukan tiga hal. Program tersebut harus memberikan isi, apa yang harus
dilakukan. Kedua, program tersebut harus menyediakan metode, bagaimana
mengerjakannya. Dan ketiga, program tersebut harus memenuhi tes pembuktian,
yaitu mendatangkan hasil.
Unsur apa dari program pelatihan pribadi Anda untuk mendapatkan keberhasilan
dibangun atas sikap dan teknik orang-orang yang sukses. Bagaimana mereka
mengatasi rintangan? Bagaimana mereka menimbulkan respek dari orang lain? Apa
yang memisahkan mereka dari orang biasa? Bagaimana mereka berpikir?
Unsur bagaimana dari rencana Anda untuk pengembangan dan pertumbuhan diri
adalah serangkaian pedoman konkret untuk bertindak. Ini didapatkan di dalam
tiap bab. Pedoman ini manjur. Terapkan pedoman tersebut dan lihat sendiri
hasilnya?
Bagaimana dengan bagian terpenting dari pelatihan – hasil?
Penerapan secara cermat program yang disajikan di sini akan membawa
keberhasilan kepada Anda pada skala yang sekarang mungkin tampak tidak mungkin.
Dirinci menjadi komponennya, program pelatihan pribadi Anda untuk sukses akan
memberi Anda serangkaian ganjaran: ganjaran berupa respek yang lebih dalam dari
keluarga Anda, kekaguman dari teman dan rekan sekerja Anda, perasaan berguna,
perasaan menjadi seseorang, mempunyai status, penghasilan yang meningkat dan
standar hidup yang lebih tinggi.
Pelatihan Anda dilakukan sendiri. Tidak akan ada orang yang mengawasi Anda,
yang mengatakan apa yang harus Anda kerjakan, dan bagaimana mengerjakannya.
Buku ini akan menjadi pedoman Anda, tetapi hanya Anda sendirilah yang dapat
mengerti diri Anda. Hanya anda yang dapat memerintahkan diri Anda untuk
menerapkan pelatihan ini. Hanya anda yang dapat mengecek kemajuan Anda. Hanya
anda yang dapat mengambil tindakan koreksi seandainya sedikit menyimpang.
Singkatnya, Anda akan melatih diri Anda sendiri untuk mencapai keberhasilan
yang lebih besar dan semakin besar.
Anda sudah mempunyai laboratorium dengan peralatan lengkap di mana Anda dapat bekerja
dan belajar. Laboratorium Anda ada di sekeliling Anda. Labo ratorium Anda
terdiri atas manusia. Laboratorium mi menyuplai Anda dengan tiap kemungkinan
contoh tindakan manusia. Dan tidak ada batas untuk apa yang dapat Anda pelajari
segera sesudah Anda memandang diri Anda sebagai ilmuwan di dalam laboratorium
Anda sendiri. Dan yang lebih penting, tidak ada yang harus dibeli. Tidak ada
sewa yang harus dibayar. Tidak ada ongkos apa pun. Anda dapat menggunakan
laboratorium ini sesuka Anda, dan gratis.
Sebagai direktur dari laboratorium milik Anda sendiri, Anda akan ingin
melakukan apa yang dilakukan oleh tiap ilmuwan: Mengamati dan bereksperimen.
Kebanyakan orang mengerti begitu sedikit tentang mengapa orang bertindak
sebagaimana yang mereka perbuat, walaupun mereka dikelilingi oleh banyak orang
sepanjang hidup mereka. Alasannya adalah, kebanyakan orang bukan pengamat yang
terlatih. Salah satu tujuan penting dari buku ini adalah membantu Anda melatih
diri Anda untuk mengamati; untuk mengembangkan wawasan ke dalam tindakan
manusia. Anda akan ingin mengajukan pertanyaan kepada diri Anda seperti,
"Mengapa ada orang yang mempunyai banyak teman, dan yang lain hanya
mempunyai sedikit teman?" "Mengapa John begitu berhasil, dan Tom
hanya biasa-biasa saja?" "Mengapa orang akan senang sekali menerima
apa yang dikatakan oleh seseorang kepada mereka, tetapi mengabaikan orang lain
yang mengatakan hal yang sama kepada mereka?"
Segera sesudah terlatih, Anda akan memperoleh pelajaran yang berharga hanya
melalui proses mengamati yang sangat sederhana. Di sini diketengahkan dua saran
khusus untuk membantu Anda menjadikan diri Anda pengamat yang terlatih. Pilih
untuk studi khusus ini dua orang yang paling berhasil dan paling tidak berhasil
yang Anda kenal. Kemudian, amati seberapa dekat teman Anda yang sukses
mengikuti prinsip-prinsip keberhasilan. Perhatikan pula bagaimana mempelajari
kedua ekstrem akan membantu Anda melihat kebijaksanaan yang tidak mungkin salah
dalam mengikuti kebenaran yang diikhtisarkan di dalam buku ini.
Setiap kontak yang Anda buat dengan orang lain memberi Anda kesempatan untuk
melihat prinsip pengembangan keberhasilan yang sedang bekerja. Sasaran Anda
adalah membuat tindakan sukses menjadi suatu kebiasaan. Semakin banyak kita
berlatih, semakin cepat menjadi sifat kedua untuk bertindak dengan cara yang
diinginkan.
Kebanyakan dari kita mempunyai teman yang suka berkebun. "Menyenangkan
sekali menyaksikan tanaman bertumbuh," kata mereka. "Lihat bagaimana
tanaman berespons terhadap sinar matahari dan hujan. Lihat bagaimana mereka
bertumbuh sejak Anda melihat mereka minggu lalu."
Yang pasti, mengasyikkan sekali menyaksikan apa yang terjadi ketika manusia
bekerja sama dengan alam secara seksama. Akan tetapi, ini tidak ada
sepersepuluh mengasyikannya dibandingkan menyaksikan diri Anda berespons
terhadap program manajemen-pikiran yang dilaksanakan secara cermat.
Menyenangkan sekali untuk merasakan diri Anda bertumbuh semakin percaya diri,
semakin efektif, semakin berhasil hari demi hari, bulan demi bulan. Tidak ada –
sama sekali tidak ada – di dalam hidup ini yang memberi Anda kepuasan lebih
besar dibandingkan mengetahui bahwa Anda berada pada jalan menuju sukses dan
pencapaian. Dan tidak ada yang berdiri sebagai tandatangan yang lebih besar
daripada memanfaatkan diri Anda sepenuhnya. Di bawah ini adalah tiga gagasan
yang akan membantu Anda mendapatkan manfaat maksimum dari buku ini:
1.Baca seluruh buku sesegera mungkin. Akan tetapi, jangan membacanya dengan
terlalu cepat. Biarkan tiap gagasan dan tiap prinsip meresap sehingga Anda
dapat melihat secara persis bagaimana gagasan dan prinsip tersebut berlaku bagi
Anda.
2.Berikutnya, habiskan satu minggu untuk mempelajari, benar-benar mempelajari,
tiap bab. Rencana yang bagus sekali adalah menuliskan di atas sepotong kartu
kecil prinsip yang diringkas pada akhir tiap bab. Tiap pagi selama seminggu
katakan kepada diri Anda sendiri, "Hari ini, saya akan menerapkan
prinsip-prinsip ini." Kemudian, baca ulang. Bawa kartu tersebut bersama
Anda. Sepanjang hari bersangkutan baca kartu tersebut beberapa kali. Tiap malam
tinjau seberapa baik Anda sudah berhasil dalam menerapkan tiap prinsip. Buat
resolusi untuk bekerja lebih baik lagi besok.
3. Sesudah Anda menghabiskan waktu seminggu dengan tiap bab, baca ulang buku tersebut
sedikitnya satu kali sebulan selama setahun. Tiap kali Anda membacanya,
evaluasi prestasi Anda sendiri. Siaplah selalu untuk membuat perbaikan lebih
jauh dalam diri Anda.
Dan berjanjilah untuk melatih diri Anda sesuai jadwal, suatu jadwal yang pasti.
Kebanyakan orang merasa terganggu secara fisik jika mereka melewatkan waktu
makan atau menukar aktivitas siang mereka dengan aktivitas malam. Luangkan
sejumlah waktu yang pasti tiap hari untuk melatih diri Anda dalam
prinsip-prinsip keberhasilan.
Jika bermanfaat, mari kita saling berbagi informasi dengan like dan share.
Sembuhkan Diri Anda dari Dalih, Penyakit Kegagalan
Post sebelumnya Percaya Anda dapat
berhasil maka Anda pun akan benar-benar berhasil sudah saya tampilkan ini adalah kelanjutan ceritanya.
Pelajarilah manusia sementara Anda berpikir untuk berhasil. Pelajari mereka
secara sangat cermat untuk menemukan mengapa mereka berhasil, dan kemudian
terapkan prinsip penghasil sukses pada kehidupan Anda sendiri. Mulailah segera.
Perdalamlah studi Anda mengenai manusia, dan Anda akan menemukan bahwa orang
yang tidak sukses menderita penyakit pikiran yang mematikan pikiran. Kita
menyebut penyakit ini penyakit dalih (excusitis) atau penyakit kegagalan.
Setiap orang gagal mengidap penyakit ini dalam tahap lanjut, dan kebanyakan
orang "rata-rata" pernah setidaknya mengalami serangan ringan
penyakit ini. Anda akan mendapatkan bahwa dalih menjelaskan perbedaan antara
orang yang mengalami kemajuan dan orang yang tidak. Anda akan mendapatkan bahwa
semakin berhasil orang bersangkutan, semakin kurang cenderung ia membuat dalih.
Orang yang tidak pernah ke mana-mana, dan tidak mempunyai rencana untuk tiba di
suatu tempat selalu mempunyai setumpuk dalih untuk menjelaskan mengapa. Orang
dengan prestasi sedang-sedang saja cepat sekali menjelaskan mengapa mereka
belum berhasil, mengapa mereka tidak berhasil, mengapa mereka tidak dapat
berhasil, dan mengapa mereka bukan orang yang berhasil.
Pelajari kehidupan orang yang sukses, maka Anda akan menemukan kebenaran ini –
bahwa semua dalih yang dibuat oleh orang yang sedang-sedang saja boleh jadi
ada, tetapi tidak dibuat oleh orang yang sukses. Saya tidak pernah bertemu atau
mendengar tentang seorang eksekutif bisnis, perwira militer, wiraniaga, tokoh
profesional yang sangat sukses atau pemimpin dalam bidang apa pun yang tidak
dapat menemukan satu atau lebih dalih besar untuk mereka bersembunyi di
belakangnya.
Roosevelt dapat saja bersembunyi di balik tungkainya yang lumpuh; Truman dapat
saja menggunaan dalih "tidak berpendidikan perguruan tinggi;" dan
Eisenhower dapat saja bersembunyi di balik serangan jantung yang dideritanya.
Seperti semua penyakit, penyakit dalih menjadi semakin buruk jika tidak diobati
dengan tepat dan segera.
Korban dari penyakit pikiran ini mengalami proses mental berikut ini:
"Saya tidak bekerja sebaik yang seharusnya. Apa yang dapat saya gunakan
sebagai alibi yang akan membantu saya supaya tidak kehilangan muka? Coba kita
lihat, kesehatan yang buruk? kurangnya pendidikan? terlalu tua? terlalu muda?
nasib buruk? kesialan pribadi? istri? cara keluarga membesarkan saya?"
Segera sesudah korban penyakit kegagalan ini memilih dalih yang
"bagus," ia hidup bersama dalih tersebut. Kemudian, ia mengandalkan
dalih tersebut untuk menjelaskan kepada dirinya sendiri dan orang lain mengapa
ia tidak maju-maju. Dan tiap kali korbannya membuat dalih, dalih tersebut
menjadi tertanam lebih dalam di dalam pikiran bawah sadarnya.
Pikiran, positif atau negatif, semakin kuat jika dipupuk dengan pengulangan
terus menerus. Pada mulanya, korban penyakit dalih mengetahui alibinya sedikit
banyak merupakan kebohongan. Akan tetapi, semakin sering ia mengulanginya,
semakin yakin ia jadinya bahwa dalih itu benar sepenuhnya, dan bahwa alibi
tersebut adalah alasan sebenarnya mengapa ia tidak berhasil seperti yang
seharusnya. Prosedur Satu, dalam program individual Anda untuk berpikir sukses,
ialah memberi vaksin diri Anda terhadap penyakit dalih, penyakit kegagalan.
Dalih muncul dalam bermacam bentuk, tetapi jenis yang terburuk dari penyakit
ini adalah dalih kesehatan, dalih inteligensi, dalih usia, dan dalih nasib.
Sekarang, mari kita lihat bagaimana kita dapatmelindungi diri dari keempat
penyakit yang lazim ini.
Empat Bentuk Dalih yang Paling Lazim
Pertama, Tetapi Kesehatan Saya Buruk. Dalih kesehatan berkisar dari "Saya
merasa tidak enak badan,"hingga yang lebih spesifik "Ada yang tidak
beres de- ngan diri saya."
Kesehatan yang "buruk," di dalam ribuan bentuknya yang berbeda,
digunakan sebagai dalih untuk kegagalan melakukan apa yang seseorang ingin
lakukan, kegagalan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar, kegagalan
untuk menghasilkan uang lebih banyak, kegagalan untuk mencapai keberhasilan.
Jutaan orang menderita dalih kesehatan. Namun, dalam kebanyakan kasus, apakah
ini merupakan dalih yang sah? Pikirkan sejenak tentang semua orang yang sangat
berhasil yang Anda kenal yang dapat – tetapi tidak mau – menggunakan kesehatan
sebagai dalih. Teman-teman saya yang menjadi dokter atau ahli bedah mengatakan
kepada saya bahwa tidak ada orang yang memiliki kesehatan sempurna. Ada sesuatu
yang kurang beres pada fisik semua orang. Banyak yang menyerah sepenuhnya atau
sebagian kepada dalih kesehatan, tetapi orang yang berpikiran sukses tidak.
Dua pengalaman terjadi pada diri saya pada suatu siang yang mengilustrasikan
sikap yang benar dan sikap yang salah terhadap kesehatan. Saya baru saja
selesai memberikan ceramah ketika seorang berusia sekitar tiga puluh tahun
meminta untuk berbicara dengan saya secara empat mata. Ia memuji ceramah saya,
tetapi kemudian berkata, "Saya khawatir gagasan Anda tidak banyak berguna
buat saya. Kebetulan jantung saya lemah, dan saya harus sering-sering
memeriksakan diri ke dokter." Ia menjelaskan bawa ia sudah menemui empat
orang dokter, tetapi mereka tidak dapat menemukan penyakitnya. Ia meminta saran
saya tentang apa yang harus ia lakukan. "Baiklah," saya berkata,
"Saya tidak tahu apa-apa tentang jantung, tetapi sebagai sesama orang
awam, ada tiga hal yang akan saya kerjakan. Pertama, saya akan mengunjungi
spesialis jantung terbaik yang dapat saya temui, dan menerima diagnosisnya
sebagai keputusan final. Anda sudah mengecek dengan empat dokter dan tak
seorang pun menemukan sesuatu yang aneh dengan jantung Anda. Biarkan dokter
kelima menjadi dokter terakhir yang memberikan keputusan. Kemungkinan besar
jantung Anda memang sehat. Namun, jika Anda terus khawatir tentangnya, akhirnya
Anda mungkin benar-benar mengidap penyakit jantung yang serius. Mencari-cari
penyakit akhirnya sering benar-benar menyebabkan Anda malah mengidapnya.
"Kedua, saya akan menganjurkan Anda membaca buku bagus karya Dr.
Schindler, How to Live 365 Days a Year. Dr. Schindler memperlihatkan di dalam
buku ini bahwa tiga dari empat ranjang di rumah sakit diisi oleh orang yang
mengidap EII – Emotionally Induced Illness (penyakit yang disebabkan oleh
emosi). Bayangkan, tiga dari empat orang yang sakit sekarang ini akan sehat
jika mereka sudah belajar bagaimana menangani emosi mereka. Baca buku Dr.
Schindler dan kembangkan progam Anda untuk manajemen emosi.
Ketiga, saya bertekad untuk hidup sampai saya mati. "Saya terus
menjelaskan kepada orang yang menderita ini beberapa nasihat yang saya terima
bertahun-tahun lalu dari seorang teman saya, seorang pengacara, yang mengidap
penyakit TBC. Pengacara ini tahu bahwa ia harus menjalani hidup yang terbatas
oleh banyak aturan, tetapi hal ini tidak pernah menghentikannya menjalankan
praktek hukum, menghidupi keluarga yang baik, dan benar-benar menikmati hidup.
Teman saya, yang kini berusia 78 tahun, inengekspresikan filosofinya dengan
kata-kata ini: "Saya akan hidup hingga saya mati, dan saya tidak akan
mencampur aduk hidup dan mati. Sementara saya masih ada di muka bumi ini saya
akan terus hidup. Mengapa harus hanya setengah hidup? Setiap menit yang
dihabiskan orang untuk khawatir soal kematian sama saja orang itu sudah mati
selama satu menit itu."
Pada saat itu saya harus pergi untuk mengejar pesawat. Di dalam pesawat terbang
pengalaman kedua yang jauh lebih menyenangkan terjadi. Sesudah ke-bisingan
selama lepas landas, saya mendengar bunyi berdetik. Dengan heran, saya melirik
pria yang duduk di sebelah saya, karena bunyi itu tampaknya berasal darinya.
Ia tersenyum lebar, dan berkata. "Oh, ini bukan bom. Ini cuma jantung
saya." Saya jelas tampak bingung, maka ia pun melanjutkan mengatakan
kepada saya apa yang sudah terjadi. Tiga minggu lalu ia menjalani operasi di
mana dokter memasang katup plastik ke dalam jantungnya. Bunyi berdetik
tersebut, ia menjelaskan, akan berlanjut selama beberapa bulan hingga jaringan
baru tumbuh menutupi katup buatan tersebut. Saya bertanya apakah yang akan ia
lakukan. "Oh," katanya, "saya punya beberapa rencana besar. Saya
akan belajar hukum sekembalinya saya ke Minnesota. Suatu hari nanti saya
berharap dapat bekerja di pemerintahan. Dokter mengatakan saya harus bersantai
selama beberapa bulan, tetapi sesudah itu saya akan menjadi seperti baru
lagi."
Nah, Anda mempunyai dua cara untuk menghadapi masalah kesehatan. Orang yang
pertama, yang bahkan tidak yakin bahwa ada yang tidak beres dengan fisiknya,
merasa khawatir, depresi, dalam perjalanan menuju kekalahan, menginginkan
seseorang untuk menyokong bahwa ia tidak dapat bergerak maju. Orang kedua,
sesudah menjalani operasi yang sangat sulit, tetap optimistis, berhasrat
mengerjakan sesuatu. Perbedaannya terletak pada bagaimana mereka berpikir
tentang kesehatan!
Saya pernah mempunyai pengalaman yang sangat langsung dengan dalih kesehatan.
Saya menderita diabetes. Sesudah mengetahui saya mengidap penyakit ini, saya
diperingatkan, "Diabetes adalah penyakif fisik; tetapi kerusakan terbesar
ditimbulkan karena sikap negatif terhadap penyakit ini. Khawatirlah tentang
penyakit ini maka Anda akan benar-benar mengalami kesulitan." Dengan
sendirinya, sejak tahu tentang penyakit diabetes yang saya idap, saya harus
mengenal banyak penderita diabetes lain. Saya akan ceritakan kepada Anda
tentang dua ekstrem. Seorang teman yang mengidap penyakit yang ringan termasuk
ke dalam kelompok yang hidup merana. Terobsesi oleh ketakutan akan cuaca, ia
biasanya secara menggelikan mengenakan pakaian tebal. Ia takut bekerja terlalu
keras sehingga ia hampir tidak melakukan apa pun. Ia menghabiskan sebagian
besar energi mentalnya untuk khawatir tentang apa yang mungkin terjadi. Ia
membosankan orang lain dengan menceritakan kepada mereka "betapa
mengerikan" penyakitnya. Penyakitnya yang sebenarnya bukanlah diabetes. Ia
adalah korban dari dalih kesehatan. Ia mengasihani diri hingga menjadi invalid.
Ekstrem yang lain adalah seorang manajer divisi di sebuah perusahaan penerbitan
besar. Ia mengidap penyakit yang serius: ia menggunakan insulin kira-kira 30
kali lebih banyak daripada orang yang pertama tadi. Tetapi, ia tidak hidup
untuk menjadi sakit. Ia hidup untuk menikmati pekerjaannya dan
bersenang-senang. Suatu hari ia berkata kepada saya, "Memang sulit, tetapi
begitu juga bercukur, bukan? Itulah sebabnya saya tidak akan berpikir untuk
tiduran saja di ranjang. Ketika saya disuntik, saya memuji orang yang menemukan
insulin."
Seorang teman baik saya, profesor perguruan tinggi yang terkenal, pulang dari
Eropa pada tahun 1945, kehilangan satu lengannya. Walaupun cacat, John selalu
tersenyum dan membantu orang lain yang kurang beruntung. Ia sama optimisnya
dengan siapa saja yang saya kenal. Suatu hari saya dan dia berbicara panjang
lebar tentang cacat yang dialaminya.
"Itu cuma satu lengan," katanya. "Tentu saja dua lebih baik dari
satu. Tetapi mereka cuma memotong satu lengan saya. Semangat saya seratus
persen utuh. Saya bersyukur untuk itu." Seorang teman saya yang juga
berlengan satu adalah seorang pemain golf yang ulung. Suatu hari saya bertanya
kepadanya bagaimana ia mampu mengembangkan suatu gaya yang nyaris sempurna dengan
hanya satu tangan. Saya katakan kepadanya bahwa banyak pegolf dengan dua lengan
tidak dapat melakukan sebaik dirinya. Jawabannya adalah, "Menurut
pengalaman saya, satu lengan dan sikap yang tepat akan selalu mengalahkan dua
lengan dengan sikap yang salah."
Ia benar. Sikap yang tepat dan satu lengan akan selalu mengalahkan sikap yang
salah dan dua lengan. Pikirkan tentang pernyataan itu sejenak. Hal ini berlaku
tidak hanya di lapangan golf, tetapi juga di dalam setiap segi kehidupan.
Empat Hal yang Dapat Anda Lakukan untuk Menaklukkan Dalih Kesehatan
Vaksin terbaik untuk mencegah dalih kesehatan terdiri atas empat dosis:
Jangan berbicara tentang kesehatan Anda. Semakin Anda berbicara mengenai suatu
penyakit, bahkan cuma pilek, semakin buruk tampaknya penyakit itu. Berbicara
tentang cuaca buruk sama seperti menaburkan pupuk di atas rumput. Selain itu,
berbicara tentang kesehatan Anda adalah kebiasaan yang buruk. Kebiasaan ini
membosankan orang lain. Kebiasaan ini membuat Anda tampak egosentris dan nyinyir.
Orang yang berpikiran sukses mengalahkan kecenderungan alami untuk berbicara
tentang kesehatan mereka yang "buruk." Orang mungkin (saya tekankan
mungkin) mendapatkan sedikit simpati, tetapi ia tidak mendapatkan respek dan
loyalitas dengan menjadi pengeluh kronis.
Jangan khawatir tentang kesehatan Anda. Dr. Walter Alvarez, pensiunan konsultan
untuk Mayo Clinic yang terkenal di dunia, belum lama ini menulis: "Saya
selalu meminta kepada orang-orang yang suka cemas untuk melatih kendali diri.
Sebagai contoh, ketika saya melihat laki-laki ini, (orang yang yakin bahwa
dirinya mengidap penyakit kandung empedu walaupun delapan pemeriksaan sinar-X
yang terpisah memperlihatkan bahwa organ tersebut sepenuhnya normal) saya
memintanya berhenti meminta agar kandung empedunya diperiksa dengan sinar-X.
Saya meminta ratusan orang yang khawatir mengenai jantung mereka untuk berhenti
menjalani elektrokardiogram." Bersyukurlah secara tulus bahwa kesehatan
Anda baik sebagaimana adanya. Ada sebuah pepatah kuno yang pantas diulang:
"Saya merasa kasihan kepada diri sendiri karena saya mempunyai sepatu
butut hingga saya bertemu dengan orang yang tidak mempunyai kaki."
Daripada mengeluh tentang "perasaan tidak enak badan," jauh lebih
baik bersyukur bahwa Anda sehat sebagaimana adanya sekarang. Hanya dengan
bersyukur akan kesehatan yang Anda miliki merupakan vaksinasi yang manjur
terhadap berkembangnya penyakit baru dan penyakit yang sesungguhnya.
Sering-sering ingatkan diri Anda: "Jauh lebih baik letih karena bekerja
daripada letih karena menganggur." Hidup adalah untuk dinikmati. Jangan
disia-siakan. Jangan melewatkan hidup dengan berpikir diri Anda akan berbaring
di ranjang rumah sakit.
Tetapi Anda Harus Mempunyai Otak yang Cerdas untuk Berhasil. Dalih inteligensi
atau "Saya kurang cerdas" adalah lazim. Sebenarnya, dalih ini begitu
lazim sehingga barangkali hingga 95 persen dari orang di sekeliling kita
mengidapnya dalam pelbagai tingkat. Berbeda dengan kebanyakan jenis dalih lain,
orang yang menderita jenis penyakit khusus ini menderita dalam diam. Tidak
banyak orang mau mengakui secara terbuka bahwa mereka merasa kurang cerdas.
Mereka lebih suka merasakannya sendiri jauh di dalam.
Kebanyakan dari kita membuat dua kesalahan dasar sehubungan dengan inteligensi:
1. Kita meremehkan kekuatan otak kita, dan
2. Kita terlalu menganggap hebat kekuatan otak, orang lain.
Karena kedua kesalahan ini, banyak orang sering merendahkan nilai diri mereka
sendiri. Mereka gagal menghadapi situasi yang menantang karena merasa bahwa
untuk itu "diperlukan otak yang cerdas." Akan tetapi, kemudian
datanglah orang yang tidak peduli mengenai inteligensi, dan ia mendapatkan
pekerjaan itu.
Yang penting sebenarnya bukanlah berapa banyak inteligensi yang Anda miliki,
tetapi bagaimana Anda menggunakan apa yang benar-benar Anda punyai. Pikiran
yang memandu inteligensi Anda jauh lebih penting daripada kuantitas kekuatan
otak Anda. Biarlah saya ulangi sekali lagi, karena ini sangat penting – pikiran
yang memandu inteligensi Anda jauh lebih penting daripada berapa banyak
inteligensi yang mungkin Anda punyai.
Dalam menjawab pertanyaan, "Haruskah anak anda menjadi seorang
ilmuwan?" Dr. Edward Teller, salah seorang ahli ilmu fisika terkemuka,
berkata, "Anak tidak memerlukan otak yang dapat berpikir cepat agar menjadi
ilmuwan, ia juga tidak memerlukan ingatan yang menakjubkan, dan juga tidak
perlu bahwa ia harus mendapatkan nilai yang sangat tinggi di sekolah.
Satu-satunya hal yang penting adalah si anak mempunyai tingkat minat yang
tinggi akan ilmu pengetahuan."
Minat, antusiasme – itulah faktor yang sangat penting bahkan di dalam ilmu
pengetahuan!
Dengan sikap yang positif, optimistis dan kooperatif seseorang dengan IQ 100
akan berpenghasilan lebih besar, mendapatkan respek lebih besar dan mencapai
keberhasilan lebih besar dibandingkan orang yang negatif, pesimistis, dan tidak
kooperatif dengan IQ 120.
Jika Anda mempunyai cukup ketekunan untuk bertahan pada sesuatu – tugas atau
proyek – hing-ga-selesai, maka Anda jauh lebih baik daripada orang dengan
inteligensi yang menganggur, walaupun inteligensi itu mungkin mendekati genius.
Ketekunan adalah 95 persen dari kemampuan.
Pada suatu acara reuni tahun lalu, saya bertemu seorang teman kuliah yang sudah
sepuluh tahun tidak berjumpa. Chuck adalah mahasiswa yang sangat cerdas dan
lulus dengan mendapat kehormatan. Tujuannya ketika saya terakhir kali bertemu
dengannya adalah memiliki perusahaan sendiri.
Saya bertanya kepada Chuck perusahaan apa yang akhirnya ia dirikan.
"Ah," ia mengakui, "saya tidak jadi mendirikan perusahaan
sendiri. Saya tidak akan mengakui hal ini kepada siapa pun lima tahun yang
lalu, atau bahkan satu tahun yang lalu, tetapi sekarang saya siap
membicarakannya.
"Mengingat kembali pendidikan saya di perguruan tinggi, saya melihat bahwa
saya menjadi ahli dalam mengetahui mengapa perusahaan yang akan saya dirikan
tidak akan berhasil. Saya pelajari semua perangkap yang dapat dimengerti,
setiap alasan mengapa suatu perusahaan kecil akan gagal. 'Anda harus mempunyai
modal besar.' 'Pastikan bahwa daur bisnisnya benar.' 'Apakah ada permintaan
besar untuk apa yang akan Anda tawarkan?' 'Apakah industri lokal stabil?' –
seribu satu macam hal harus diperiksa. "Yang paling menyakitkan adalah
bahwa ebera-pa dari teman sekolah saya yang lama yang tampaknya tidak terlalu
pandai, dan bahkan tidak kuliah di perguruan tinggi, sekarang sudah sangat
mapan di dalam perusahaan yang mereka dirikan sendiri. Tetapi saya, saya hanya
berjalan terseret-seret, mengaudit pengiriman barang. Seandainya saya dilatih
lebih baik dalam hal mengapa perusahaan kecil dapat berhasil, saya pasti akan
menjadi jauh lebih baik sekarang ini, dalam segala hal." Pikiran yang
memandu inteligensi Chuck jauh lebih penting daripada besarnya inteligensi
Chuck.
Mengapa beberapa orang yang brilian gagal?
Saya sudah lama kenal dekat dengan seorang pria yang memenuhi syarat sebagai
seorang genius, yang mempunyai inteligensi abstrak yang tinggi. Walaupun
inteligensinya sangat tinggi, ia adalah salah satu dari orang paling tidak
berhasil yang saya kenal. Ia mempunyai pekerjaan tingkat menengah (ia takut
akan tanggung jawab). Ia tidak pernah menikah (ia dibuat takut oleh angka
perceraian yang tinggi). Ia hanya mempunyai sedikit teman (orang bosan
dengannya). Ia tidak pernah menaruh investasi dalam bidang properti jenis apa
pun (ia takut kehilangan uangnya). Orang ini menggunakan kekuatan otaknya yang
hebat untuk membuktikan mengapa segalanya tidak akan berhasil, bukannya
mengarahkan kekuatan mentalnya dalam mencari cara-cara untuk berhasil.
Karena cara berpikir negatif yang memandu otaknya yang hebat, orang ini sedikit
sekali memberikan sumbangan dan tidak menghasilkan apa pun. Dengan sikap yang
berubah, ia sebenarnya dapat mengerjakan hal-hal besar. Ia mempunyai otak yang
cerdas yang dapat menjadi dasar bagi keberhasilan yang luar biasa, tetapi
sayangnya, ia tidak mempunyai kekuatan pikiran.
Seorang lain lagi yang saya kenal terkena wajib militer segera sesudah
mendapatkan gelar Ph.D.nya. Bagaimana ia menjalani tahun-tahunnya di Angkatan
Darat? Bukan sebagai seorang perwira. Bukan sebagai staf ahli. Alih-alih, ia
mengemudi truk. Mengapa? Karena dirinya dipenuhi sikap negatif terhadap sesama
serdadu ("Saya lebih unggul daripada mereka"), terhadap metode
angkatan darat dan prosedur ("Mereka bodoh"), terhadap disiplin
("Itu untuk orang lain, bukan untuk saya"), terhadap segalanya,
termasuk dirinya sendiri ("Saya bodoh karena tidak memikirkan cara untuk
melepaskan diri dari hukuman ini").
Ia tidak mendapatkan respek dari siapa pun. Semua pengetahuannya yang besar
terkubur. Sikapnya yang negatif mengubahnya menjadi pelayan. Ingat, cara
berpikir yang memandu inteligensi Anda jauh lebih penting dari berapa banyak
inteligensi yang Anda miliki. Bahkan gelar Ph.D. tidak dapat mengalahkan
prinsip sukses dasar ini!
Phil, seorang teman saya, adalah salah seorang dari pejabat senior di sebuah
biro iklan besar. Sebagai direktur penelitian pemasaran untuk biro tersebut, ia
melakukan pekerjaan kelas satu.
Namun, Phil bukan orang yang "cerdas." Sama sekali bukan. Ia hampir
tidak tahu apa-apa mengenai teknik penelitian. Ia bukan lulusan perguruan
tinggi (walaupun orang-orang yang bekerja untuknya semua memiliki gelar). Dan
Phil tidak berpura-pura mengetahui semua sisi teknis dari penelitian. Lalu apa
yang memungkinkannya memperoleh £30.000 setahun sementara tak seorang pun dari
bawahannya memperoleh £9.000?
Jawabannya adalah, Phil adalah insinyur "manusia." Phil 100 persen
bersikap positif. Ia dapat mengilhami orang lain ketika mereka kurang
bersemangat. Ia antusias. Ia membangkitkan antusiasme; ia mengerti manusia, dan
karena ia dapat benar-benar melihat apa yang membuat mereka bergerak, ia
menyukai mereka.
Bukan otak Phil, melainkan bagaimana ia memanajemeni otak-otak itu, yang
membuatnya tiga kali lebih berharga bagi perusahaannya dibandingkan orang yang
IQ-nya lebih tinggi.
Dari setiap 100 pelajar yang mendaftar di perguruan tinggi, kurang dari 50 akan
lulus. Saya ingin tahu soal ini, maka saya meminta penjelasan kepada Direktur
Penerimaan di sebuah universitas besar. "Bukan kurangnya
inteligensi," katanya. "Kami tidak menerima mereka jika mereka tidak
mempunyai kemampuan yang memadai. Dan itu bukan uang. Siapa saja yang ingin
membiayai dirinya sendiri di perguruan tinggi sekarang ini dapat melakukannya.
Alasan yang sebenarnya adalah sikap. Anda akan heran." katanya,
"berapa banyak orang keluar karena mereka tidak menyukai dosen mereka,
mata kuliah yang harus mereka ambil, dan rekan mereka sesama mahasiswa."
Alasan yang sama, berpikir negatif, menjelaskan mengapa pintu menuju posisi
eksekutif puncak tertutup bagi banyak eksekutif junior yang masih muda. Sikap
murung, negatif, pesimistis, mencela inilah, bukan inteligensi yang kurang
memadai, yang menahan ribuan eksekutif muda. Seperti yang dikemuka-kan oleh
seorang eksekutif kepada saya, "Jarang sekali kami melewatkan promosi
untuk eksekutif muda karena orang bersangkutan kurang cerdas. Hampir selalu
sikapnyalah yang membuatnya gagal."
Saya pernah ditugaskan oleh sebuah perusahaan asuransi untuk mempelajari
mengapa 25 persen agen tingkat atas menjual lebih dari 75 persen asuransi
sementara 25 persen agen kelas bawah hanya menjual 5 persen dari volume total.
Ribuan arsip personalia dicek secara cermat. Penelitian tersebut membuktikan
bahwa tidak ada perbedaan yang berarti dalam hal inteligensi. Begitu pula
perbedaan dalam pendidikan tidak menjelaskan perbedaan dalam sukses menjual.
Perbedaan orang yang sangat berhasil dan sangat tidak berhasil akhirnya
menunjuk pada perbedaan dalam sikap, atau perbedaan dalam manajemen pikiran.
Kelompok atas kurang khawatir, lebih antusias, dan memiliki kesukaan tulus akan
orang lain.
Kita tidak dapat berbuat banyak mengubah jumlah kemampuan asli, tetapi kita
pasti dapat mengubah cara kita menggunakan apa yang kita miliki.
Pengetahuan adalah kekuatan – jika Anda menggunakannya secara konstruktif.
Berkaitan erat dengan dalih inteligensi adalah beberapa cara berpikir yang
keliru mengenai pengetahuan. Kita sering mendengar bahwa pengetahuan adalah
kekuatan. Akan tetapi pernyataan ini hanya benar separuhnya. Pengetahuan adalah
kekuatan yang potensial. Pengetahuan baru menjadi kekuatan jika diterapkan –
dan hanya jika pemakaiannya konstruktif.
Ada kisah bahwa ilmuwan besar Einstein pernah ditanya ada berapa kaki (sekitar
30cm) dalam satu mil. Einsten menjawab, "Saya tidak tahu. Mengapa?
saya harus mengisi otak saya dengan fakta yang dapat saya temukan dalam waktu
dua menit di dalam buku acuan yang standar?"
Einstein mengajarkan kita suatu pelajaran yang sangat besar. Ia merasa bahwa
lebih penting menggunakan otak kita untuk berpikir daripada menggunakannya
sebagai gudang fakta.
Suatu kali Henry Ford terlibat dalam perkara pencemaran nama dengan Chicago
Tribune. Tribune tersebut menyebut Ford ignoramus (orang yang tidak tahu
apa-apa), dan Ford, orang yang terhormat, berkata, "Buktikan."
Tribune mengajukan pertanyaan sederhana seperti "Siapa Benedict
Arnold?" "Kapan Perang Revolusioner pecah?" dan lain-lain, yang
kebanyakan tidak dapat dijawab oleh Ford yang kurang mendapat pendidikan
formal.
Akhirnya ia menjadi sangat jengkel dan berkata, "Saya tidak tahu jawaban
untuk pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi dalam waktu lima menit saya bisa
mendapatkan orang yang dapat menjawabnya."
Henry Ford tidak pernah tertarik untuk memenuhi pikirannya dengan informasi. Ia
tahu bahwa kemampuan untuk mengetahui cara mendapatkan informasi lebih penting
daripada menggunakan pikiran sebagai garasi untuk fakta.
Berapakah harga seorang manusia–fakta? Belum lama ini saya menghabiskan malam
yang sangat menarik bersama seorang teman yang menjabat sebagai direktur sebuah
perusahaan manufakturing yang berkembang pesat. Pesawat TV kebetulan sedang
menyiarkan salah satu acara kuis yang paling populer. Orang yang ditanyai sudah
tampil selama beberapa minggu. Ia dapat menjawab segala macam persoalan, banyak
yang tampaknya tidak masuk akal.
Sesudah ia menjawab pertanyaan yang sangat aneh, sesuatu mengenai sebuah gunung
di Argentina, tuan rumah saya memandang ke arah saya dan berkata, "Berapa
banyak menurut Anda saya akan membayar orang muda itu seandainya ia bekerja
untuk saya?"
"Berapa?" tanya saya.
"Tidak lebih dari £100 – bukan per minggu, bukan per bulan, melainkan
seumur hidup. Saya sudah menilainya. "Ahli" itu tidak dapat berpikir.
Ia hanya dapat menghafal. Ia hanya ensiklopedi berjalan, dan saya kira dengan
£100 saya dapat membeli satu set ensiklopedi yang bagus.
"Yang saya inginkan di sekeliling saya," lanjutnya, "adalah
orang yang dapat memecahkan masalah, yang dapat memikirkan gagasan. Orang yang
dapat bermimpi dan kemudian mengembangkan mimpi tersebut ke dalam aplikasi
praktis; dan manusia–gagasan dapat menghasilkan uang. Manusia-fakta tidak
dapat."
Tiga Cara untuk Menyembuhkan Dalih Inteligensi
Tiga cara mudah untuk menyembuhkan dalih inteligensi adalah:
Jangan pernah meremehkan inteligensi Anda sendiri dan menganggap terlalu tinggi
inteligensi orang lain. Berkonsentrasilah pada apa yang Anda miliki. Temukan
bakat unggul Anda. Ingat, bukan berapa banyak inteligensi yang Anda miliki yang
penting, melainkan bagaimana Anda menggunakan otak Anda. Manajemenilah otak
Anda daripada khawatir mengenai IQ Anda.
Ingatkan diri Anda beberapa kali setiap hari. "Sikap saya lebih penting
daripada inteligensi saya." Di tempat kerja dan di rumah, praktekkan sikap
positif. Lihat alasan mengapa Anda dapat melakukannya, bukan alasan mengapa
Anda tidak dapat. Kembangkan sikap "Saya menang." Manfaatkan
inteligensi Anda untuk pemakaian positif yang kreatif. Gunakan otak Anda untuk
mencari cara-cara untuk menang, bukan membuktikan bahwa Anda akan kalah.
Ingat bahwa kemampuan berpikir jauh lebih bernilai daripada kemampuan mengingat
fakta. Gunakan pikiran Anda untuk menciptakan dan mengembangkan gagasan, untuk
mencari cara-cara baru dan lebih baik untuk mengerjakan segala sesuatunya. Tanya
diri Anda sendiri, "Apakah saya menggunakan kemampuan mental saya untuk
membuat sejarah, atau apakah saya menggunakannya hanya unuk merekam sejarah
yang dibuat oleh orang lain?"
Tidak Ada Gunanya. Saya Terlalu Tua (terlalu Muda). Dalih usia, penyakit
kegagalan karena tidak pernah merasa berada pada usia yang tepat, muncul dalam
dua bentuk yang mudah dikenali: variasi "Saya terlalu tua" dan
"Saya terlalu muda." Anda pernah mendengar ratusan orang dari segala
usia menjelaskan prestasi mereka yang sedang-sedang saja dalam hidup mereka
lebih kurang seperti ini: "Saya terlalu tua (atau terlalu muda) untuk
melakukan terobosan sekarang ini. Saya tidak dapat mengerjakan apa yang ingin
saya kerjakan, atau saya mampu kerjakan, karena rintangan usia."
Mengherankan sekali dan patut disayangkan bahwa hanya sedikit orang yang merasa
bahwa mereka berada dalam "usia yang cocok." Dalih ini menutup pintu
bagi peluang yang sebenarnya bagi ribuan orang. Mereka mengira usia mereka
salah, sehingga mereka bahkan tidak berniat untuk mencoba.
Variasi "Saya terlalu tua" adalah bentuk yang paling lazim dari dalih
usia. Penyakit ini menyebar dengan cara yang samar. Drama dan artikel majalah
tentang topik tersebut, "Mengapa Anda Terlalu Tua pada Usia Empat
Puluh" sangat populer, bukan karena menggambarkan fakta yang sebenarnya,
melainkan karena menarik banyak pikiran khawatir yang mencari dalih.
Bagaimana Mengatasi Dalih Usia
Dalih usia dapat disembuhkan. Beberapa tahun yang lalu sewaktu saya menjalankan
suatu program pelatihan penjualan, saya mendapatkan serum yang ampuh untuk
menyembuhkan penyakit ini sekaligus memberikan vaksin melawan kekambuhannya. Di
dalam program pelatihan itu ada seorang peserta yang bernama Cecil. Ia berusia
40 tahun, ingin mengangkat dirinya menjadi wiraniaga, tetapi mengira bahwa
dirinya sudah terlalu tua. "Bagaimanapun," ia menjelaskan. "Saya
harus memulai dari awal sekali. Dan pada usia empat puluh, saya sudah jauh
terlalu tua."
Saya berbicara dengan Cecil beberapa kali mengenai masalah "usia tua"
ini. Saya menggunakan obat yang sudah diuji dengan baik, "Anda setua yang
Anda rasakan," tetapi ternyata cara ini tidak manjur. (Terlalu sering
orang menjawab dengan ketus "Tetapi saya memang merasa tua!")
Akhirnya, saya menemukan metode yang ampuh. Suatu hari sesudah sesi pelatihan,
saya berkata, "C-cil, kapan usia produktif manusia dimulai?" Ia
berpikir beberapa detik dan menjawab, "Oh, ketika ia berusia sekitar 20
tahun, saya kira."
"Benar," saya membenarkan. "Nah kapan usia produktif manusia
berakhir?" Cecil menjawab, "Kalau ia tetap sehat dan menyukai
pekerjaannya, saya kira orang masih sangat berguna ketika ia berusia 70 atau
lebih."
"Baiklah," saya berkata, "banyak orang masih sangat produktif
sesudah mereka mencapai usia 70, tetapi marilah kita sepakati apa yang baru
saja Anda katakan. Tahun-tahun produktif manusia terentang dari usia 20 hingga
70. Itu berarti rentang waktu 50 tahun, atau setengah abad. Anda sekarang baru
berusia 40 tahun. Berapa tahun kehidupan produktif yang sudah Anda jalankan?"
"Dua puluh," jawabnya.
"Dan berapa tahun lagi yang tersisa?"
"Tiga puluh," jawabnya.
"Dengan kata lain, Anda bahkan belum mencapai setengah jalan; Anda baru
menggunakan 40 persen dari tahun-tahun produktif Anda."
Saya menatap Cecil dan mengetahui bahwa ia mengerti maksudnya. Ia sembuh dari
dalih usia. Cecil sekarang melihat bahwa ia masih mempunyai banyak tahun penuh
peluang yang tersisa. Ia berubah dari berpikir, "Saya sudah terlalu
tua," menjadi "Saya masih muda." Cecil kini sadar bahwa usia
kini tidak menjadi soal. Sikap terhadap usia itulah yang menjadikannya berkat
atau penghalang.
Menyembuhkan diri Anda dari dalih usia kerap membuka pintu menuju peluang yang
Anda kira sudah terkunci rapat. Seorang kerabat saya menghabiskan waktu
bertahun-tahun mengerjakan banyak hal yang berbeda – menjual, mengoperasikan
per-usahannya sendiri, bekerja di bank – tetapi ia tidak pernah benar-benar
menemukan apa yang sebenarnya ingin ia kerjakan. Akhirnya, ia menyimpulkan
bahwa satu hal yang ia ingin lakukan lebih dari segala yang lain adalah menjadi
pendeta.
Akan tetapi ia berpikir tentang hal itu, ia merasa dirinya sudah terlalu tua.
Ia kini berusia 45 tahun, mempunyai tiga anak, dan sedikit uang.
Akan tetapi untunglah ia mengumpulkan segenap kekuatannya dan berkata kepada
dirinya sendiri, "Empat puluh lima atau bukan, saya akan menjadi
pendeta." Dengan kepercayaan yang sangat besar, ia mulai mengikuti program
pendidikan untuk menjadi pendeta yang lamanya lima tahun. Lima tahun kemudian
ia ditahbiskan menjadi pendeta dan tinggal di tengah jemaah yang lumayan besar
di Amerika Serikat. Tua? Tentu saja tidak. Ia masih mempunyai 20 tahun
kehidupan produktif di depannya. Belum begitu lama saya berbicara dengan orang
ini dan ia berkata kepada saya, "Anda tahu, jika saya tidak mengambil
keputusan besar itu sewaktu saya berusia 45, saya akan menjalani sisa hidup
saya dengan menjadi tua dan tidak puas. Sekarang saya merasa sama mudanya
dengan 25 tahun yang lalu."
Dan ia memang hampir tampak semuda itu. Jika Anda menaklukkan dalih usia, Anda
pun memperoleh optimisme orang muda dan merasa muda. Ketika Anda mengalahkan
ketakutan Anda akan keterbatasan usia, Anda pun menambahkan tahun-tahun ke
dalam kehidupan Anda, dan juga keberhasilan.
Seorang bekas teman kuliah memberikan sudut pandang yang menarik mengenai
bagaimana mengalahkan dalih usia. Bill lulus dari Harvard dalam usia 20-an.
Sesudah 24 tahun berkecimpung dalam bisnis pialang saham, di mana selama itu ia
memperoleh penghasilan yang lumayan, Bill memutuskan bahwa ia ingin menjadi
profesor universitas. Teman-teman Bill memperingatkan bahwa ia akan terlalu
membebani dirinya dalam program belajar yang berat. Namun, Bill bertekad
mencapai tujuannya ini, dan mendaftar di University of Illinois – pada usia 51
tahun. Pada usia 55 tahun ia meraih gelarnya. Sekarang ini ia adalah Ketua
Jurusan Ekonomi di sebuah perguruan tinggi seni liberal murni. Ia juga
berbahagia. Ia tersenyum ketika berkata, "Saya masih mempunyai hampir
sepertiga dari tahun-tahun saya yang menyenangkan."
Usia tua adalah penyakit kegagalan. Kalahkan penyakit ini dengan menolaknya
menahan diri Anda.
Kapan seseorang itu terlalu muda? Variasi "Saya terlalu muda" dari
dalih usia mengakibatkan kerusakan yang besar pula. Sekitar satu tahun yang
lalu, seorang pemuda bernama Jerry yang berusia 23 tahun datang kepada saya
dengan sebuah masalah. Jerry adalah pemuda yang baik. Ia menjadi pasukan terjun
selama perang, dan kemudian melanjutkan kuliah. Sementara kuliah, Jerry
membiayai istri dan putranya dengan menjual untuk perusahaan transfer dan
penyimpanan. Ia telah melakukan pekerjaan yang baik sekali, baik di perguruan
tinggi maupun untuk perusahaannya.
Namun, hari ini Jerry merasa khawatir. "Dr. Schwartz," katanya,
"saya mempunyai sebuah masalah. Perusahaan tempat saya bekerja menawarkan
pekerjaan sebagai manajer penjualan. Ini akan menjadikan saya penyelia
(supervisor) atas delapan orang wiraniaga."
"Selamat, itu berita baik!" saya berkata. "Tetapi Anda tampaknya
khawatir."
"Ya," lanjutnya, "kedelapan orang yang akan saya selia berusia 7
hingga 21 tahun lebih tua dari saya. Apa menurut Anda yang harus saya lakukan?
Dapatkah saya menanganinya?"
"Jerry," saya menjawab, "manajer umum perusahaan Anda jelas
menganggap Anda cukup tua, karena kalau tidak ia tidak mungkin menawarkan
pekerjaan ini untuk Anda. Ingat saja tiga pokok ini dan segalanya akan berjalan
baik: pertama, jangan terlalu memperhatikan usia. Di pertanian, seorang anak
laki-laki dianggap dewasa kalau ia terbukti dapat melakukan pekerjaan seorang
dewasa. Usia tidak ada kaitannya dengan pengakuan kedewasaan. Dan ini berlaku
pada Anda. Jika Anda membuktikan diri mampu menangani pekerjaan seorang manajer
penjualan, Anda otomatis sudah cukup tua untuk itu.
"Kedua, jangan sombong. Perlihatkan respek kepada wiraniaga bawahan Anda.
Minta mereka memberikan saran. Buat mereka merasa bekerja untuk seorang kapten
tim, bukan diktator. Lakukan ini, dan orang-orang itu akan bekerja bersama
bersama Anda, bukan menentang Anda.
"Ketiga, biasakan diri membawahkan orang yang lebih tua bekerja untuk
Anda. Para pemimpin di segala bidang segera mendapatkan diri mereka lebih muda
dibandingkan banyak dari orang yang mereka pimpin. Jadi, biasakan diri
mempunyai bawahan yang lebih tua bekerja untuk Anda. Hal ini akan sangat membantu
pada tahun-tahun mendatang ketika peluang yang lebih besar muncul.
"Dan ingat, Jerry, usia Anda tidak akan menjadi penghalang jika Anda tidak
menjadikannya demikian."
Sekarang ini, Jerry berhasil baik. Ia menyukai bisnis transportasi dan sekarang
ia merencanakan untuk mengorganisasikan perusahaannya sendiri dalam beberapa
tahun mendatang.
Kemudaan menjadi kelemahan hanya jika orang muda memandangnya demikian. Anda
sering mendengar bahwa pekerjaan tertentu mensyaratkan kematangan fisik,
pekerjaan seperti menjual surat berharga dan asuransi. Sama sekali omong kosong
bahwa Anda harus mempunyai rambut kelabu, atau botak sama sekali, agar
mendapatkan kepercayaan investor. Yang benar-benar penting adalah seberapa baik
Anda menguasai pekerjaan Anda. Jika Anda menguasai pekerjaan Anda dan mengerti
orang lain, Anda cukup matang untuk menanganinya. Usia tidak mempunyai kaitan
dengan kemampuan, kecuali jika Anda meyakinkan diri Anda bahwa tahun-tahun itu
saja akan memberi Anda bahan yang Anda perlukan untuk menghasilkan nama baik.
Banyak orang muda merasa bahwa mereka dihambat oleh usia mereka yang masih
muda. Memang benar bahwa orang lain di dalam organisasi yang merasa tidak aman
dan takut kehilangan pekerjaan mungkin berusaha menghambat jalan Anda untuk
maju, dengan menggunakan usia atau alasan lain.
Namun, orang yang benar-benar cakap di dalam perusahaan tidak akan berbuat
begitu. Mereka akan memberi Anda tanggung jawab sebesar yang mereka rasa dapat
Anda tangani dengan baik. De-monstrasikan bahwa Anda mempunyai kemampuan dan
sikap positif dan kemudaan Anda akan dianggap sebagai keuntungan.
Ringkasnya, obat untuk dalih usia adalah:
Lihat usia Anda yang sekarang secara positif. Berpikirlah "Saya masih
muda," bukan "Saya sudah tua." Berlatihlah memandang ke depan ke
cakrawala baru, dan dapatkan antusiasme serta perasaan muda.
Hitung berapa banyak waktu produktif yang masih Anda miliki. Ingat, usia 30
berarti masih ada 80 persen kehidupan produktif yang dimiliki. Dan usia 50
berarti masih ada 40 persen – 40 persen yang terbaik – dari tahun-tahun penuh
peluang yang tersisa. Hidup sebenarnya lebih panjang daripada yang kebanyakan
orang duga!
Investasikan waktu masa depan dalam mengerjakan apa yang benar-benar ingin Anda
kerjakan. Terlalu terlambat jika Anda membiarkan pikiran Anda bersifat negatif
dan berpikir bahwa segalanya sudah terlambat. Berhentilah berpikir "Saya
seharusnya memulai bertahun-tahun yang lalu." Itu adalah berpikir gagal.
Sebagai gantinya berpikirlah, "Saya akan memulai sekarang, tahun-tahun
terbaik saya menanti di depan saya." Itulah cara orang sukses berpikir.
Tetapi Kasus Saya lain; Saya Menarik Nasib Buruk. Belum lama ini, saya
mendengar seorang insinyur dalam bidang lalu lintas mendiskusikan keamanan
jalan raya. Ia menunjukkan bahwa lebih dari 40.000 orang terbunuh setiap tahun
di dalam apa yang disebut kecelakaan lalu lintas. Pokok utama dari
pembicaraannya adalah bahwa tidak ada apa yang disebut sebagai kecelakaan yang
sesungguhnya. Yang kita sebut kecelakaan adalah akibat dari kelalaian manusia
atau kegagalan mekanis, atau kombinasi dari keduanya.
Apa yang dikatakan oleh ahli lalu lintas ini menyokong apa yang dikatakan oleh
orang bijak zaman dahulu: ada sebab untuk segalanya. Tidak ada yang terjadi
tanpa sebab. Tidak ada yang kebetulan mengenai cuaca sekarang ini. Ini adalah
akibat dari sebab yang spesifik. Dan tidak ada alasan untuk percaya bahwa
urusan manusia merupakan pengecualian.
Namun, hampir tidak ada hari yang berlalu tanpa Anda mendengar seseorang
menimpakan kesalahan pada nasib "buruk." Dan jarang sekali Anda tidak
mendengar seseorang menghubungkan keberhasilan orang lain dengan nasib
"baik."
Mari saya ilustrasikan bagaimana orang mengalah pada dalih nasib. Belum lama
ini saya makan siang bersama tiga orang eksekutif junior yang masih muda. Topik
percakapan hari itu adalah George C, yang baru saja sehari sebelumnya dipilih
dari kelompok mereka untuk mendapatkan promosi besar.
Mengapa George mendapatkan jabatan itu? Ketiga orang muda ini menggali untuk
menemukan segala macam alasan: nasib baik, katrol, menjilat, istri George dan
bagaimana wanita itu bermain mata dengan bos – yang semuanya tidak benar.
Kenyataannya George memang benar-benar memenuhi syarat. Ia selama ini bekerja
lebih baik dibandingkan yang lain. Ia bekerja lebih keras. Ia mempunyai
kepribadian yang lebih efektif.
Saya juga mengetahui bahwa para karyawan senior di perusahaan tersebut sudah
menghabiskan banyak waktu mempertimbangkan mana dari keempat orang tersebut
yang akan dipromosikan. Ketiga orang yang kecewa tersebut seharusnya menyadari
bahwa para eksekutif puncak tidak memilih eksekutif utama dengan jalan undian.
Saya berbicara mengenai keseriusan dalih nasib tersebut belum lama ini dengan
seorang wiraniaga dari perusahaan pembuat peralatan mesin. Ia menjadi
bersemangat mengenai masalah tersebut dan mulai berbicara tentang pengalamannya
sendiri dengan dalih tersebut.
"Saya tidak pernah mendengarnya disebut demikian sebelumnya,"
ujarnya, "tetapi ini adalah salah satu dari masalah paling sulit yang
harus digeluti oleh setiap eksekutif penjualan. Baru kemarin sebuah contoh yang
sempurna tentang apa yang Anda bicarakan terjadi di perusahaan saya.
"Salah seorang wiraniaga datang sekitar pukul empat dengan pesanan besar
untuk peralatan mesin. Seorang wiraniaga lain, yang volume penjualannya begitu
rendah sehingga ia menjadi masalah, berada di kantor saat itu. Mendengar John
menyampaikan berita baik tersebut, ia dengan agak iri mengucapkan selamat
kepadanya dan kemudian berkata, 'Wah, John, Anda kembali beruntung!'
"Nah, yang tidak mau diterima oleh wiraniaga yang lemah ini adalah bahwa
nasib tidak ada kaitannya dengan pesanan besar yang didapat oleh John. John
sudah menggarap pelangan itu selama berbulan-bulan. Ia sudah berulang kali
berbicara dengan selusin orang di luar sana. John tidak tidur selama beberapa
malam memikirkan secara persis apa yang terbaik untuk mereka. Kemudian ia
menemui empat insinyur kami untuk membuat desain pendahuluan dari peralatan
tersebut. John bukan beruntung, kecuali jika Anda boleh menyebut kerja yang
direncanakan secara cermat dan dilaksanakan secara sabar sebagai keberuntungan.
Seandainya nasib digunakan untuk mereorganisasi bisnis. Jika nasib menentukan
siapa yang mengerjakan apa dan siapa yang pergi ke mana, semua perusahaan di
negara ini akan berantakan. Asumsikan sejenak bahwa sebuah perusahaan dagang
yang besar diharapkan melakukan reorganisasi sepenuhnya berdasarkan nasib.
Untuk melaksanakan reorganisasi tersebut, nama-nama semua karyawan akan
dimasukkan ke dalam sebuah tong. Nama pertama yang keluar akan menjadi direktur
pengelola, kedua wakilnya, dan seterusnya hingga pesuruh kantor.
Kedengarannya bodoh, bukan? Nah, begitulah caranya nasib bekerja. Orang yang
naik hingga ke puncak di dalam pekerjaan apa pun – manajemen bisnis, penjualan,
hukum, rekayasa, akting, atau apa saja – tiba di sana karena mereka mempunyai
sikap yang unggul dan menggunakan pikiran sehat mereka dalam kerja keras.
Taklukkan Dalih Nasib dengan Dua Cara
Terimalah hukum sebab-akibat. Perhatikan kembali apa yang tampaknya sebagai
"nasib baik" seseorang. Anda tidak akan menemukan nasib baik,
melainkan persiapan, perencanaan, dan pikiran penghasil sukses yang mengawali
"keberuntungannya." Perhatikan kembali apa yang tampaknya merupakan
"nasib buruk" seseorang. Lihat, dan Anda akan menemukan alasan
spesifik tertentu. Tuan keberhasilan menerima suatu kemunduran; ia belajar dan
mendapatkan keuntungan. Tetapi ketika Tuan Kegagalan kalah, ia lalai untuk
belajar.
Jangan menjadi orang yang suka berangan-angan kosong. Jangan boroskan energi
mental Anda untuk memimpikan cara-cara tanpa usaha untuk mendapatkan
keberhasilan. Kita tidak menjadi berhasil hanya melalui nasib baik.
Keberhasilan datang dari pelaksanaan hal-hal dan penguasaan prinsip-prinsip
yang menghasilkan keberhasilan. Jangan mengandalkan nasib baik untuk
mendapatkan promosi, kemenangan, hal-hal yang baik dalam hidup ini. Sebaliknya,
berkonsentrasilah pada pengembangan kualitas-kualitas itu di dalam diri Anda
yang akan menjadikan Anda seorang pemenang.
Jika bermanfaat, mari kita saling berbagi informasi dengan like dan share.
Bagaimana Berpikir Besar
Buku Berpikir dan Berjiwa
Besar adalah buku pegangan utama
orang-orang yang ingin sukses hanya dengan bermodalkan impian. Cerita
selanjutnya tentang bagaimana berpikir besar hanyalah kelanjutan post
sebelumnya Percaya Anda dapat
berhasil maka Anda pun akan benar-benar berhasil -- Sembuhkan Diri Anda Dari
Dalih Penyakit Kegagalan -- Bangun Kepercayaan dan
Hancurkan Kekuatan. Mari kita lanjutkan.
Belum lama ini saya berbincang dengan seorang pejabat personalia dari salah
satu organisasi industri yang sangat besar. Empat bulan setiap tahun ia
mengunjungi akademi dan perguruan tinggi guna merekrut staf untuk program
pelatihan eksekutif ju-nior di perusahaannya. Nada umum dari komentarnya
menunjukkan bahwa ia berkecil hati karena sikap banyak anak muda yang ia ajak
berbicara.
"Hampir setiap hari saya mewawancarai antara 8 dan 12 mahasiswa senior,
semua termasuk posisi atas di dalam kelas mereka, dan semua setidaknya agak
berminat untuk bergabung dengan staf kami. Salah satu hal utama yang kami cari
di dalam wawancara penyaringan adalah motivasi diri individu. Kami ingin
mengetahui apakah ia termasuk jenis orang yang dapat, dalam waktu beberapa
tahun, memimpin proyek-proyek besar, memanajemeni kantor cabang atau pabrik,
atau dengan suatu cara lain memberikan sumbangan yang benar-benar besar bagi
perusahaan.
"Saya harus mengakui bahwa saya tidak terlalu senang dengan sasaran
kebanyakan orang muda yang saya wawancarai. Anda akan terkejut," ia
melanjutkan, "berapa banyak orang berusia 22 tahun yang lebih tertarik
akan rencana pensiun kami dibandingkan apa saja yang lain yang kami tawarkan.
Pertanyaan favorit kedua adalah, 'Apakah saya akan banyak bepergian?'
Kebanyakan orang muda tampaknya mendefinisikan kata sukses sinonim dengan
jaminan. Dapatkah kita mengambil risiko mempercayakan perusahaan kita kepada
orang-orang seperti itu?
"Yang tidak dapat saya mengerti adalah mengapa orang-orang muda dewasa ini
harus menjadi begitu ultrakonservatif, begitu berpandangan sempit mengenai masa
depan? Setiap hari tampaknya ada semakin banyak peluang. Negara ini membuat
kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan perkembangan industri. Populasi bertambah
dengan pesat.
Kecenderungan begitu banyak orang yang berpikiran kecil berarti ada jauh lebih
sedikit persaingan ketimbang yang Anda kira untuk karier yang sangat memberikan
harapan.
Sejauh berkenaan dengan sukses, orang tidak diukur menurut sentimeter, atau
kilogram, atau gelar akademis, atau latar belakang keluarga; mereka diukur
berdasarkan besar kecilnya cara berpikir mereka. Berapa besar kita berpikir
menentukan ukuran prestasi kita.
Sekarang, mari kita lihat bagaimana kita dapat memperbesar cara berpikir kita.
Pernahkah Anda bertanya kepada diri sendiri, "Apa kelemahan saya yang
terbesar?" Barangkali kelemahan terbesar manusia adalah sikap mencela diri
– yaitu kompleks inferioritas. Sikap mencela diri terlihat melalui cara yang
tak terhitung banyaknya. John melihat sebuah lowongan pekerjaan yang diiklankan
di koran. Pekerjaan ini persis seperti apa yang ia inginkan. Akan tetapi ia
tidak melakukan apa pun sehubungan dengan lowongan tersebut karena ia berpikir,
"Saya tidak cukup ahli untuk pekerjaan itu, jadi mengapa harus
repot-repot?" Atau, mungkin Jim ingin berkencan dengan Joan, tetapi ia
tidak menelepon Joan karena ia mengira gadis ini mungkin menolaknya.
Tom merasa Tuan Richards akan menjadi calon pembeli yang sangat baik untuk
produknya, tetapi Tom tidak menghubunginya karena ia merasa Tuan Richard adalah
orang yang terlalu penting untuk mau menemuinya. Pete mengisi formulir lamaran
untuk suatu pekerjaan. Salah satu pertanyaan berbunyi: "Berapa gaji awal
yang Anda harapkan?" Pete menuliskan angka yang kecil saja karena ia
merasa ia benar-benar tidak layak mendapatkan jumlah yang lebih besar seperti
yang ia inginkan.
Selama ribuan tahun para filsuf telah memberikan nasihat yang bagus: Kenali
diri Anda sendiri. Akantetapi kebanyakan orang tampaknya menafsirkan nasihat
ini sebagai Kenali diri Anda yang negatif. Kebanyakan evaluasi diri terdiri
atas pembuatan daftar mental yang panjang dari kesalahan seseorang,
ke-kurangannya dan ketidakmemadai dirinya.
Memang baik jika kita mengenali ketidakmampuan kita, karena hal ini
memperlihatkan kepada kita bidang-bidang yang masih dapat kita perbaiki. Akan
tetapi jika kita hanya mengenal sisi negatif diri kita, maka nilai diri kita
pun menjadi kecil.
Berikut ini adalah sebuah latihan untuk membantu Anda mengukur besarnya diri
Anda yang sebenarnya. Saya sudah menggunakannya dalam program pelatihan untuk
para eksekutif dan wiraniaga. Latihan ini berhasil.
Tentukan lima aset atau kelebihan utama Anda. Minta beberapa teman Anda yang
objektif untuk membantu – barangkali istri Anda, atasan Anda, dosen Anda –
memberikan opini yang jujur. (Contoh-contoh aset yang sering didaftar adalah
pendidikan, pengalaman, keterampilan teknis, penampilan, kehidupan rumah tangga
yang harmonis, sikap, kepribadian, inisiatif.)
Berikutnya, di bawah tiap aset, tulis nama tiga orang yang Anda ketahui sudah
mencapai keberhasilan besar, tetapi yang tidak mempunyai aset ini sebesar yang
Anda punyai.
Jika Anda sudah menyelesaikan latihan ini, Anda akan mendapatkan diri Anda
mengalahkan banyak orang yang berhasil pada setidaknya satu aset atau
kelebihan.
Hanya ada satu kesimpulan yang dapat Anda capai: Anda lebih besar daripada yang
Anda kira. Jadi, cocokkan cara berpikir Anda dengan ukuran diri Anda yang
sebenarnya. Berpikirlah sebesar diri Anda yang sebenarnya.
Ada orang yang dapat membanggakan dirinya bahwa ia mempunyai kosakata yang
besar. Akan tetapi apakah ia mempunyai kosakata pemikir besar? Mungkin tidak.
Orang yang menggunakan kata dan frase yang sulit dan kedengarannya tinggi yang
menyulitkan pendengar mereka untuk memahaminya, biasanya cenderung suka
menguasai dan congkak. Dan orang yang congkak biasanya adalah pemikir kecil.
Ukuran yang penting atas kosakata seseorang bukanlah jumlah suku kata di dalam
kata-kata yang ia gunakan. Sesungguhnya, satu-satunya hal yang penting mengenai
kosakata adalah efek yang ditim-bulan kata dan frase yang disampaikannya atas
cara berpikirnya sendiri dan cara berpikir orang lain.
Berikut ini adalah sesuatu yang sangat dasar: Kita tidak beprikir dalam kata
dan frase. Kita berpikir ha-nya dalam gambar dan/atau citra. Kata adalah bahan
mentah dari pikiran. Sewaktu diucapkan atau dibaca, instrumen yang mengagumkan
ini, otak, otomatis mengubah kata dan frase menjadi gambaran pikiran. Jika
seseorang mengatakan kepada Anda, "Jim membeli martil baru" Anda
melihat satu gambar. Tetapi jika Anda diberitahu, "Jim membeli sebuah
mobil merah" Anda melihat satu gambar lagi.
Gambar pikiran yang kita lihat dimodifikasi oleh jenis kata yang kita gunakan
untuk menamai dan menggambarkan hal-hal.
Sewaktu berbicara atau menulis Anda sedikit banyak menyerupai proyektor yang
menayangkan film di dalam pikiran orang lain. Dan gambar-gambar yang anda
ciptakan menentukan bagaimana Anda dan orang lain bereaksi.
Andaikan Anda memberitahu sekelompok orang, "Maaf, saya harus melaporkan
bahwa kita telah gagal" – apa yang orang-orang ini lihat? Mereka melihat
kekalahan dan semua kekecewaan dan kesedihan yang dibawa oleh kata
"gagal" Nah, seandainya sebagai gantinya Anda mengatakan, "Ini
adalah pendekatan baru yang saya kira akan berhasil." Mereka akan merasa
berbesar hati, siap untuk mencoba lagi.
Andaikan Anda mengatakan, "Kita menghadapi masalah." Anda sudah
menciptakan di dalam pikiran orang lain suatu gambar tentang sesuatu yang sulit
dan tidak menyenangkan untuk dipecahkan. Sebagai gantinya, katakanlah,
"Kita menghadapi tantangan," dan Anda menciptakan suatu gambar
pikiran tentang kegembiraan, sesuatu yang menyenangkan dan menggairahkan untuk
dilakukan.
Jika Anda berkata kepada orang, "Kita harus mengadakan pengeluaran
besar," mereka melihat uang yang dikeluarkan dan tidak pernah kembali. Ini
benar-benar tidak menyenangkan. Sebagai gantinya, katakanlah, "kita
membuat investasi besar," dan orang melihat suatu gambaran tentang sesuatu
yang akan mendatangkan laba nantinya. Suatu keadaan yang sangat menyenangkan.
Intinya adalah ini. Pemikir besar adalah ahli dalam menciptakan gambar yang
positif, memandang ke depan, optimistis baik di dalam pikiran mereka sendiri
maupun pikiran orang lain. Untuk berpikir besar kita harus menggunakan kata dan
frase yang menghasilkan citra atau gambar mental yang positif dan besar.
Di dalam kolom sebelah kiri di bawah ini terdapat contoh-contoh frase yang
menimbulkan pikiran kecil, negatif, dan menyebabkan depresi. Di dalam kolom di
sebelah kanan, situasi yang sama dibicarakan, tetapi dengan cara yang positif
dan besar.
Sementara Anda membaca contoh-contoh ini, bertanyalah kepada diri sendiri:
"Gambaran pikiran apa yang saya lihat?"
Pernyataan
yang Menimbulkan Citra Pikiran Kecil dan Negatif
|
Pernyataan
yang Menimbulkan Citra Pikiran Besar dan Positif
|
Tidak ada gunanya; kita sudah
kalah.
|
Kita belum kalah. Mari kita terus
berusaha. Ini ada segi lain yang baru.
|
Saya pernah sekali berkecimpung
dalam bisnis itu dan gagal. Tidak mau mencobanya lagi.
|
Saya memang bangkrut, tetapi itu
salah saya sendiri. Saya akan mencoba lagi.
|
Saya sudah berusaha, tetapi
produknya memang tidak laku. Orang tidak menginginkannya.
|
Sejauh ini saya memang tidak mampu
menjual produk ini. Tetapi saya tahu produk ini bagus dan saya akan menemukan
Formula yang akan membuatnya laku.
|
Pasarnya sudah jenuh. Bayangkan –
75 persen dari potensi yang ada sudah terjual. Lebih baik keluar.
|
Bayangkan, 25 persen dari pasar
masih belum terjual. Ikutkan saya. Ini tampaknya besar!
|
Pesanan mereka selama ini kecil.
Hentikan saja.
|
Pesanan mereka selama ini memang
kecil. Mari kita susun rencana untuk meningkatkan pesanan mereka.
|
Lima tahun adalah waktu yang
terlalu lama sebelum saya dapat masuk ke peringkat atas di perusahaan Anda.
Keluarkan saya.
|
Coba pikir, itu masih memberi saya
30 tahun untuk bekerja pada tingkat tinggi.
|
Pesaing memiliki semua kelebihan.
Bagaimana Anda berharap saya menjual melawan mereka?
|
Pesaing memang kuat. Tidak ada
yang menyangkal hal itu, tetapi tak seorang pun memiliki semua kelebihan.
Mari kita pikirkan bersama cara untuk mengalahkan mereka dalam permainan
mereka sendiri.
|
Tak seorang pun akan pernah
menginginkan produk itu.
|
Dalam bentuknya yang sekarang,
produk ini mungkin memang tidak mudah dijual, tetapi mari kita pertimbangkan
beberapa modifikasi.
|
Mari kita tunggu hingga resesi
terjadi, lalu kita beli stok.
|
Mari kita melakukan investasi
sekarang. Bertaruhlah untuk kemakmuran, bukan depresi
|
Saya terlalu muda (tua) untuk
pekerjaan itu.
|
Usia muda (tua) adalah keuntungan
yang mencolok.
|
Tidak akan berhasil, mari saya
buktikan.
Lima tahun bukanlah waktu yang terlalu lama.
|
Ini akan berhasil, mari saya
buktikan.
|
Citra: Gelap, muram, kekecewaan,
kesedihan kegagalan.
|
Citra: Cerah, penuh harapan,
sukses, menyenangkan, kemenangan.
|
Empat
Cara untuk Mengembangkan Kosakata Pemikir Besar
Di bawah ini adalah empat cara untuk membantu Anda mengembangkan kosakata
pemikir besar.
1. Gunakan kata dan frase yang besar, positif, dan riang untuk menggambarkan
perasaan Anda. Jika seseorang bertanya: "Bagaimana perasaan Anda hari
ini?" dan Anda menjawab dengan "Saya letih (sakit kepala, harapan ini
hari Sabtu, tidak begitu enak)" Anda sebenarnya membuat diri Anda merasa
lebih buruk. Praktekkan ini: cara ini sangat sederhana, tetapi mempunyai
kekuatan yang luar biasa. Setiap kali seseorang bertanya kepada Anda, "Apa
kabar?" atau "Bagaimana perasaan Anda hari ini?" jawablah dengan
"Baik sekali, terima kasih. Dan anda}" atau katakan "Baik sekali"
atau "Baik-baik saja." Katakan Anda merasa senang sekali pada setiap
kesempatan dan Anda pun akan benar-benar merasa senang – dan lebih besar pula.
Jadilah terkenal sebagai orang yang selalu merasa senang. Sikap ini membuat
Anda mempunyai banyak teman.
2. Gunakan kata dan frase yang cerah, ceria, dan menyenangkan untuk
menggambarkan orang lain. Jadikan ini peraturan untuk menggunakan kata yang
besar dan positif untuk semua teman dan rekan bisnis Anda. Jika Anda sedang
berdiskusi dengan seseorang tentang pihak ketiga yang tidak hadir, pastikan Anda
memujinya dengan kata dan frase yang besar seperti "Ia benar-benar orang
baik." "Kata orang ia bekerja sangat baik." Ekstra hati-hatilah
agar Anda tidak menggunakan bahasa yang mengecilkan seseorang. Cepat atau
lambat, pihak ketiga tersebut akan mendengar apa yang sudah diucapkan, dan
kemudian pembicaraan tersebut hanya akan merugikan anda.
3. Gunakan bahasa yang positif untuk membesarkan hati orang lain. Beri selamat
secara pribadi pada setiap kesempatan. Semua orang yang Anda kenal sangat
mengidamkan pujian. Berikan kata pujian khusus untuk istri atau suami Anda
setiap hari. Perhatikan dan puji orang yang bekerja bersama Anda. Pujian yang
diberikan secara tulus adalah sarana menuju sukses. Gunakanlah! Gunakan
berulang-ulang. Puji orang untuk penampilan mereka, pekerjaan mereka, prestasi
mereka, keluarga mereka.
4. Gunakan kata-kata positif untuk mengikhti-sarkan rencana kepada orang lain.
Ketika orang mendengar sesuatu seperti ini: "Ini ada kabar baik. Kita
menghadapi peluang yang baik sekali ..." pikiran mereka mulai menyala.
Akan tetapi ketika mereka mendengar sesuatu seperti "Suka atau tidak, kita
harus melaksanakan pekerjaan itu," citra pikiran adalah membosankan dan
mereka bereaksi sesuai dengannya. Janjikan kemenangan dan saksikan mata yang
menyala. Janjikan kemenangan dan dapatkan dukungan. Bangunlah istana, jangan
menggali kubur.
Lihat
Apa Kemungkinannya, Bukan Hanya Apa yang Ada
Pemikir besar melatih diri mereka untuk melihat bukan hanya apa yang ada,
tetapi apa kemungkinannya. Di sini ada empat contoh untuk mengilustrasikan
maksud pernyataan di atas.
1. Apa yang Memberi Nilai kepada Real Estate? Seorang agen real estate
yang sangat sukses dan berspesialisasi dalam tanah pertanian di pedesaan
memperlihatkan apa yang dapat dilakukan jika kita melatih diri melihat sesuatu
di mana ada sedikit atau tidak ada sesuatu pun yang eksis sekarang ini, yaitu
melihat kemungkinan-kemungkinannya.
"Kebanyakan tanah pedesaan di sekitar sini," teman saya berkata,
"tidak begitu menarik. Saya berhasil karena saya tidak berusaha menjual
tanah pertanian ini sebagaimana adanya.
"Saya mengembangkan seluruh rencana penjualan saya berdasarkan kemungkinan
apa saja yang dapat dihasilkan dari pertanian ini. Sekedar mengatakan kepada
calon pembeli, 'Pertanian ini luasnyasekian hektar yang terdiri atas tanah di
sepanjang tepi sungai dan sekian hektar hutan, dan sekian kilometer jauhnya
dari kota,' tidak akan menggugahnya dan membuatnya ingin membeli tanah
tersebut. Namun, jika Anda memperlihatkan suatu rencana konkret untuk melakukan
sesuatu dengan tanah pertanian tersebut, ia sudah tergugah minatnya untuk
membeli. Mari saya perlihatkan apa yang saya maksudkan."
Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah arsip. "Pertanian ini,"
katanya, "43 kilometer jauhnya dari kota terdekat, rumahnya perlu
diperbaiki, dan pertanian tersebut tidak diolah selama lima tahun. Sekarang,
inilah yang sudah saya lakukan. Saya menghabiskan dua hari penuh di tempat itu
minggu lalu hanya untuk mempelajarinya. Saya berjalan berkeliling pertanian
tersebut beberapa kali. Saya memperhatikan pertanian-pertanian lain di
sekitarnya. Saya mempelajari lokasi pertanian tersebut dalam kaitannya dengan
jalan raya yang sudah ada dan yang direncanakan akan dibangun. Saya bertanya
kepada diri sendiri, 'Untuk apa baiknya tanah pertanian ini?'
"Saya mendapatkan tiga kemungkinan." Ia memperlihatkan ketiga
kemungkinan itu kepada saya.
Tiap rencana diketik rapi dan tampak menyeluruh. Salah satu rencana adalah
mengubah pertanian menjadi tempat penyewaan kuda tunggang. Rencana tersebut
memperlihatkan mengapa gagasan tersebut bagus: kota yang sedang berkembang,
berkembangnya minat akan kegiatan di luar rumah, ada lebih banyak uang untuk
rekreasi, jalan yang bagus. Rencana tersebut juga memperlihatkan bagaimana
pertanian tadi dapat menampung kuda dalam jumlah lumayan besar sehingga
pemasukan dari tempat sewa tersebut akan besar. Keseluruhan gagasan sangat
tuntas, sangat meyakinkan – begitu meyakinkan sehingga saya dapat
"melihat" selusin pasangan menunggang kuda melewati pepohonan.
Dengan cara yang sama, agen real estate ini mengembangkan rencana yang kedua
untuk perkebunan dan rencana ketiga untuk kombinasi perkebunan dan peternakan
ayam.
"Nah, waktu saya berbicara dengan calon pembeli saya tidak perlu
meyakinkan mereka bahwa pertanian adalah investasi yang bagus sebagaimana
adanya. Saya membantu mereka melihat suatu gambaran tentang pertanian yang
berubah menjadi proyek yang menghasilkan uang.
"Selain menjual lebih banyak tanah pertanian dengan lebih cepat, cara saya
menjual dengan memperlihatkan kemungkinan-kemungkinan yang ada, memberikan
imbalan dengan cara yang lain. Saya dapat menjual suatu pertanian dengan harga
yang lebih tinggi dibandingkan pesaing saya. Orang dengan sendirinya membayar
lebih besar untuk luas tanah dan suatu gagasan daripada untuk luas tanahnya
saja. Oleh karena itu, lebih banyak orang menawarkan tanahnya kepada saya, dan
komisi yang saya peroleh dari tiap penjualan lebih besar.
Pelajaran yang dapat diambil di sini: "Jangan memandang sesuatu
sebagaimana adanya, tetapi pandanglah kemungkinan-kemungkinannya. Visualisasi
menambah nilai pada segala sesuatu. Pemikir besar selalu memvisualisasikan apa
yang dapat dilakukan pada masa datang. Ia tidak puas dengan masa sekarang.
2. Berapa Banyak Nilai Seorang Pelanggan? Seorang eksekutif sebuah
toserba berbicara di depan suatu rapat manajer. Ia mengatakan, "Saya
mungkin sedikit ketinggalan zaman, tetapi saya termasuk aliran yang percaya
bahwa cara terbaik untuk membuat pelanggan datang kembali adalah dengan memberi
mereka pelayanan yang ramah dan sopan. Suatu hari saya sedang berjalan melewati
toko kami ketika saya kebetulan mendengar seorang wiraniaga berdebat dengan
seorang pelanggan. Pelanggan tersebut pergi dengan marah.
"Sesudahnya, wiraniaga tadi berkata kepada rekannya, 'Saya tidak akan
membiarkan pelanggan kelas teri menyita semua waktu saya dan menyuruh saya
membongkar toko untuk menemukan apa yang ia inginkan. Ia benar-benar tidak
pantas mendapatkannya.'
"Saya pun melangkah pergi," eksekutif tadi melanjutkan, "tetapi
saya tidak dapat menyingkirkan komentar itu dari benak saya. Ini serius sekali,
saya pikir, jika wiraniaga kami menganggap pelanggan sebagai kelas teri. Saya
memutuskan saat itu bahwa konsep ini harus diubah. Ketika kembali ke
kantorsaya, saya memanggil akuntan kami dan memintanya untuk mencari tahu
berapa banyak yang dibelanjakan rata-rata pelanggan di toko tahun lalu. Angka
yang dihasilkannya mengejutkan saya. Menurut perhitungan cermat akuntan kami,
pelanggan yang biasa saja menghabiskan £500 setahun di toko kami.
"Hal berikutnya yang saya lakukan adalah mengadakan rapat dengan semua
penyelia (supervisor), menjelaskan kejadian tersebut kepada mereka. Lalu, saya
memperlihatkan kepada mereka berapa nilai seorang pelanggan sebenarnya. Segera
sesudah saya membuat mereka melihat bahwa seorang pelanggan tidak boleh dinilai
hanya pada satu penjualan, tetapi secara tahunan, pelayanan pelanggan jelas
membaik."
Pokok yang diajukan oleh eksekutif tersebut berlaku pada jenis bisnis apa pun.
Bisnis ulanglah yang menghasilkan laba. Acap kali tidak ada laba sama sekali
pada beberapa penjualan pertama. Pengeluaran potensial dari para pelanggan
harus dipertimbangkan, bukan hanya apa yang ia beli hari ini.
Menghargai pelanggan setinggi-tingginya akan mengubah mereka menjadi pelanggan
besar yang tetap. Memberikan nilai yang rendah kepada pelanggan mengakibatkan
mereka membeli di tempat lain.
Seorang mahasiswa mengilustrasikan hal ini ke-pada saya, menjelaskan mengapa ia
tidak mau makan lagi di kantin tertentu.
"Untuk makan siang hari ini," mahasiswa tadi memulai, "saya
memutuskan untuk mencoba kantin baru yang dibuka dua minggu lalu. Setiap sen
sangat berarti bagi saya saat ini, maka saya mengirit sedapat mungkin. Melewati
bagian masakan daging saya melihat ada daging kalkun yang kelihatannya enak,
dan harganya tercantum jelas £2,50 per porsi.
"Ketika saya membayar, kasir memandang nampan saya dan mengatakan '£5.00!'
Saya dengan halus memintanya mengecek lagi karena menurut hitungan saya makanan
yang saya ambil hanya berjumlah £4,00. Ia menatap saya dengan mencibir dan
mengecek kembali. Yang keliru ternyata harga kalkun tersebut. Ia menagih saya
£3,50 seporsi dan bukan £2,50. Saya menunjuk label harga yang terbaca jelas
£2,50.
"Gadis itu sangat kasar. 'Saya tidak peduli berapa harga yang tertulis di
sana. Harganya seharusnya £3,50. Lihat, ini daftar harga saya untuk hari ini.
Pasti ada yang salah memasang label harga itu. Anda harus membayar £3,50.'
"Kemudian saya coba menjelaskan kepadanya bahwa satu-satunya alasan saya
memilih daging kalkun itu adalah karena harganya yang £2,50. Jika diberi harga
£3,50 saya pasti memilih makanan yang lain.
"Gadis tadi tetap berkeras, 'Anda tetap harus membayar £3,50.' Saya
akhirnya membayar sejumlah itu karena tidak mau berdiri terus di sana dan
membuat keributan. Akan tetapi, saya memutuskan saat itu juga bahwa saya tidak
akan kembali ke kantin itu lagi. Saya membelanjakan sekitar £500 setahun untuk
makan siang, dan Anda boleh pastikan mereka tidak akan melihat sesen pun dari
uang itu." Itu adalah sebuah contoh tentang pandangan yang kecil. Kasir
tersebut begitu peduli dengan uang dalam jumlah yang kecil sehingga ia tidak
berpikir tentang £500 yang potensial.
3. Kasus Tukang Susu yang Buta. Mengherankan sekali berapa banyak orang
yang buta terhadap kemungkinan (potensi). Beberapa tahun yang lalu seorang
tukang susu yang masih muda datang ke rumah kami untuk menawarkan agar kami
menjadi pelanggan. Saya menjelaskan kepadanya bahwa kami sudah berlangganan
susu setiap hari dan sangat puas dengan pelayanan yang diberikan. Lalu, saya
menyarankan agar ia menghubungi tetangga di sebelah rumah dan berbicara dengan
nyonya rumah di sana.
Tukang susu tersebut menjawab, "Saya sudah berbicara dengan nyonya
tersebut, tetapi mereka hanya memerlukan satu liter susu tiap dua hari, dan itu
tidak cukup berharga untuk membuat kami singgah di sana."
"Mungkin saja begitu," saya berkata, "tetapi ketika Anda
berbicara dengan tetangga kami itu, tidakkah Anda lihat bahwa permintaan susu
di rumah tangga itu akan bertambah dalam jumlah besar dalam satu bulan atau
lebih? Akan ada tambahan baru di sana yang akan menghabiskan banyak susu."
Tukang susu tersebut terbengong-bengong sejenak, dan kemudian berkata,
"Bagaimana saya menjadi begitu buta?"
Hari ini keluarga yang semula hanya membeli satu liter susu tiap dua hari ini
membeli 7 liter susu tiap dua hari dari tukang susu yang mempunyai pandangan ke
depan. Anak laki-laki pertama di keluarga itu kini mempunyai dua adik laki-laki
dan seorang adik perempuan. Dan saya diberitahu bahwa akan ada satu lagi segera
menyusul. Betapa butanya kita kadang-kadang? Lihatlah kemungkinannya, bukan
hanya apa yang ada sekarang.
Guru sekolah yang hanya berpikir tentang Jim-my sebagaimana anak itu sekarang –
seorang anak nakal yang bodoh – tentu saja tidak akan membantu perkembangan
anak tersebut. Akan tetapi guru yang melihat potensi yang ada pada diri Jimmy,
akan berusaha membantunya sebaik mungkin.
4. Apa yang Menentukan Berapa Besar Nilai Diri Anda? Sesudah suatu sesi
pelatihan beberapa ming-gu yang lalu, seorang pemuda datang menemui saya dan
bertanya apakah ia boleh berbicara dengan saya selama beberapa menit. Saya tahu
bahwa anak muda ini, yang kini berusia sekitar 26 tahun, selama ini merupakan
anak yang sangat kurang mampu. Ia pernah mengalami banyak sekali kemalangan
menjelang dewasa. Saya juga tahu bahwa ia sudah berusaha keras menyiapkan diri
untuk masa depan yang mantap.
Sambil minum kopi, kami dengan cepat menyusun masalah teknisnya dan diskusi
kami beralih pada bagaimana orang dengan sedikit harta milik harus memandang ke
arah masa depan. Komentarnya memberikan jawaban yang terus terang dan sehat.
"Saya punya kurang dari £70 di bank. Pekerjaan saya sebagai juru tulis
tidak menghasilkan banyak uang dan tidak menuntut banyak tanggung jawab. Mobil
saya sudah berumur empat tahun dan saya bersama istri tinggal di sebuah flat
kecil di lantai dua.
"Tapi, profesor," ia melanjutkan, "Saya bertekad untuk tidak
membiarkan apa yang belum saya miliki menghentikan kemajuan saya."
Itu adalah pernyataan yang membangkitkan minat, maka saya mendesaknya untuk
menjelaskan.
"Begini," ia melanjutkan, "Saya sudah menganalisis banyak orang
belakangan ini, dan saya melihat bahwa orang yang tidak mempunyai banyak harta
memandang diri mereka sebagaimana adanya sekarang. Itu saja yang mereka lihat.
Mereka tidak melihat ke masa depan, mereka cuma menatap masa sekarang yang
menyedihkan.
"Tetangga saya merupakan contoh yang baik. Ia selalu mengeluh mengenai
pekerjaannya yang bergaji kecil, pipa leding yang selalu bocor, keberuntungan
yang diperoleh orang lain, berbagai rekening yang menumpuk. Ia mengingatkan
dirinya begitu sering tentang kemiskinannya sehingga sekarang ia hanya
mengasumsikan bahwa ini adalah keadaan dirinya yang permanen. Ia bertindak
seolah ia dihukum seumur hidup untuk tinggal di flatnya yang menyedihkan."
Teman saya jelas berbicara dari hatinya yang tulus, dan sesudah diam sejenak ia
menambahkan, "Jika saya memandang diri saya semata sebagaimana adanya –
mobil tua, pendapatan kecil, apartemen murah, diet sederhana – tidak melihat
seorang pun, melainkan hanya orang yang gagal, maka saya tidak akan menjadi
siapa pun dan hanya menjadi orang gagal seumur hidup.
"Tetapi, saya memutuskan untuk memandang diri saya sebagai orang
sebagaimana yang saya inginkan dalam beberapa tahun mendatang. Saya memandang
diri saya bukan hanya sebagi juru tulis, melainkan sebagai seorang eksekutif.
Saya tidak melihat apartemen yang kumuh. Saya melihat sebuah rumah yang bagus
di pinggiran kota. Dan ketika saya memandang diri saya sendiri dengan cara itu,
saya merasa lebih besar dan berpikir lebih besar. Dan saya mempunyai banyak
sekali pengalaman pribadi untuk membuktikan bahwa saya berada pada jalan yang
benar."
Bukankah merupakan rencana yang hebat untuk menambahkan nilai pada diri
sendiri? Orang muda ini berada pada jalur ekspres menuju sukses. Ia telah
menguasai prinsip dasar bahwa yang penting bukan apa yang orang miliki,
melainkan berapa banyak yang ia rencanakan untuk ia capai.
Nilai yang diberikan dunia atas diri kita ditentukan kan oleh harga yang kita
berikan kepada diri kita sendiri.
Di bawah ini adalah cara Anda dapat mengembangkan kekuatan diri Anda untuk
melihat apa ke-mungkinan yang ada, bukan hanya apa yang ada. Saya menyebutnya
latihan "menambah nilai."
1. Praktekkan menambahkan nilai pada segala sesuatu. Ingat contoh real estate.
Bertanyalah kepada diri sendiri, "Apa yang dapat saya lakukan untuk
"menambah nilai" pada ruangan ini, atau rumah ini, atau bisnis
ini?" Cari gagasan untuk membuat sesuatu bernilai lebih besar. Sesuatu –
entah itu ruangan, rumah atau bisnis – mempunyai nilai sebanding dengan gagasan
untuk pemakaiannya.
Praktekkan menambahkan nilai pada manusia. Sementara Anda bergerak semakin
tinggi dan semakin tinggi di dalam dunia sukses, semakin banyak tugas Anda
menjadi tugas yang bersifat "pe-nyeliaan" (supervisory). Tanyakan,
"Apa yang dapat saya lakukan untuk "menambah nilai" pada bawahan
saya? Apa yang dapat saya lakukan untuk membantu mereka menjadi lebih efektif?"
Ingat, untuk menghasilkan yang terbaik di dalam diri seseorang, Anda harus
lebih dahulu memvisualisasikan yang terbaik dalam diri orang yang bersangkutan.
Praktekkan menambahkan nilai pada diri Anda sendiri. Jalankan wawancara dengan
diri sendiri setiap hari. Tanyakan, "Apa yang dapat saya lakukan untuk
membuat diri saya lebih berharga sekarang ini?" Visualisasikan diri Anda
bukan sebagaimana Anda sekarang, tetapi sebaimana Anda dapat menjadi apa
nantinya. Kemudian cara-cara spesifik untuk mencapai nilai potensial Anda akan muncul
dengan sendirinya. Coba saja dan lihat hasilnya.
Seorang manajer sekaligus pemilik yang sudah pensiun dari sebuah percetakan (60
karyawan) menjelaskan kepada saya bagaimana penggantinya dipilih.
"Lima tahun yang lalu," teman saya memulai, "saya memerlukan
seorang akuntan untuk bertanggung jawab atas keuangan dan rutin kantor kami.
Orang yang saya angkat – namanya Harry – baru berusia 26 tahun. Ia tidak tahu
apa-apa tentang bisnis percetakan, tetapi riwayat kerja sebelumnya me-nunjukan
bahwa ia adalah seorang akuntan yang ahli. Namun, satu setengah tahun yang lalu
saya mengangkatnya menjadi manajer umum perusahaan.
"Mengingat kembali saat itu, saya menyadari Harry mempunyai satu ciri yang
menempatkannya di depan semua orang yang lain. Ia secara tulus dan aktif
tertarik akan perusahaan secara keseluruhan, bukan hanya dalam membayar
rekening dan membuat catatan. Setiap kali ia melihat bagaimana ia dapat
membantu karyawan lain, ia mengajukan sarannya. Setiap kali ia melihat
bagaimana ia dapat membantu atasannya, ia melakukan hal yang sama.
"Tahun pertama Harry bersama saya, beberapa orang karyawan keluar. Ia
mengajukan skema yang ia janjikan akan mengurangi biaya umum dengan biaya yang
sangat rendah. Rencananya berhasil.
"Harry mengerjakan banyak hal lain pula yang membantu perusahaan, bukan
hanya departemennya sendiri. Ia membuat studi biaya rinci untuk bagian produksi
kami dan menyingkapkan bagaimana suatu investasi yang besar dalam mesin cetak
baru akan menghasilkan keuntungan yang besar. Sekali kami mengalami kemerosotan
kerja yang sangat buruk. Harry mendatangi bagian 'penetap harga' dan berkata,
'Saya tidak tahu banyak mengenai bidang Anda, tetapi bersediakah Anda
mengizinkan saya mencoba membantu?' Dan ia melakukannya. Harry muncul dengan
beberapa gagasan yang sangat bagus untuk membantu kami mendapatkan lebih banyak
kontrak untuk percetakan kami.
"Ketika seorang karyawan baru bergabung dengan staf, Harry merasa sudah
menjadi tugasnya untuk membuat pendatang baru itu merasa nyaman.
"Ketika saya pensiun, Harry adalah satu-satunya orang yang logis untuk
mengambil alih.
"Akan tetapi, jangan salah paham," teman saya melanjutkan.
"Harry tidak berusaha menonjolkan dirinya di hadapan saya. Ia juga bukan
sekadar orang yang sok sibuk. Ia tidak agresif dengan cara yang negatif. Ia
tidak menusuk dari belakang, atau berkeliling memberikan perintah. Ia
benar-benar menolong, bertindak seolah semua yang ada di dalam perusahaan
melibatkan dirinya. Ia menjadikan urusan perusahaan sebagai urusannya."
Kita semua dapat mengambil pelajaran dari Harry. Sikap "saya sudah
melakukan tugas saya dan itu cukup" adalah cara berpikir yang kecil dan
negatif. Pemikir besar memandang diri mereka bukan sebagai individu belaka,
melainkan sebagai anggota tim, menang atau kalah bersama tim. Mereka membantu
dengan segala cara yang dapat mereka lakukan, bahkan ketika tidak ada
kompensasi atau imbalan langsung dan seketika untuk tindakan mereka. Orang yang
tidak menghiraukan masalah yang dihadapi teman sekerja dengan komentar,
"Oh, itu bukan urusan saya, biarkan saja dia yang cemas!" tidak
mempunyai sikap yang paling dibutuhkan untuk menjadi pemimpin.
Berlatihlah menjadi pemikir besar. Lihat kepentingan perusahaan identik dengan
kepentingan Anda sendiri. Barangkali hanya sedikit sekali orang yang bekerja di
perusahaan besar mempunyai minat yang tulus dan tidak egois akan perusahaan.
Itulah sebabnya hanya relatif sedikit orang yang memenuhi syarat sebagai
pemikir besar. Dan yang sedikit ini adalah orang-orang yang akhirnya diberi
pekerjaan dengan tanggung jawab paling besar dan gaji paling tinggi.
Banyak orang yang memiliki potensi untuk maju membiarkan hal-hal kecil yang
tidak penting menghambat jalan mereka menuju sukses. Mari kita lihat empat
contoh:
1. APA YANG DIPERLUKAN UNTUK MEMBUAT PIDATO YANG BAIK?
Hampir semua orang ingin mempunyai "kemampuan" untuk tampil sebagai
pembicara kelas satu di muka umum. Hanya sedikit orang yang berhasil mewujudkan
keinginan mereka, dan kebanyakan orang tetap menjadi pembicara yang tidak
efektif di muka umum.
Mengapa? Alasannya sederhana. Kebanyakan orang berkonsentrasi pada hal-hal
kecil yang sepele dalam berbicara dengan mengorbankan persoalan besar yang
penting. Dalam menyiapkan diri untuk berpidato, kebanyakan orang melengkapi
diri dengan sekumpulan instruksi mental seperti "Saya harus ingat untuk
berdiri tegak," "Jangan berjalan berkeliling dan jangan gunakan tangan Anda," "Jangan biarkan
hadirin melihat Anda menggunakan catatan Anda," "Ingat, jangan
membuat kesalahan gramatika," "Pastikan dasi Anda lurus,"
"Berbicaralah dengan jelas, tetapi jangan terlalu keras," dan
seterusnya.
Nah, apa yang terjadi ketika pembicara tersebut bangkit untuk berbicara? Ia
takut karena ia telah memberi dirinya daftar panjang hal-hal yang tidak boleh
ia lakukan. Ia menjadi bingung dalam menyampaikan pidatonya dan mendapatkan
dirinya bertanya-tanya dalam hati "Apakah saya berbuat kesalahan?"
Pendeknya, ia gagal. Ia gagal karena ia berkonsentrasi pada kualitas yang
kecil, sepele, dan relatif tidak penting dari seorang pembicara yang baik, dan
gagal berkonsentrasi pada hal-hal besar yang menjadikan seseorang pembicara
yang baik: pengetahuan tentang apa yang akan ia bicarakan dan keinginan kuat
untuk menyampaikannya kepada orang lain.
Ujian yang sesungguhnya atas seorang pembicara bukanlah apakah ia berdiri tegak
atau apakah ia membuat banyak kesalahan gramatika, melainkan apakah hadirin
mengerti apa yang ia ingin sampaikan? Kebanyakan dari pembicara terkemuka
mempunyai cacat kecil; beberapa dari mereka bahkan mempunyai suara yang tidak
enak didengar. Namun, mereka memiliki kualitas yang benar-benar penting. Mereka
mempunyai sesuatu untuk dikatakan dan mereka merasakan hasrat yang menyala agar
orang lain mendengarnya.
2. APA YANG MENYEBABKAN PERTENGKARAN?
Pernahkah Anda berhenti sejenak untuk bertanya diri apakah yang menyebabkan
pertengkaran? Sedikitnya 99 persen pertengkaran dimulai karena persoalan kecil
yang tidak penting seperti ini: John pulang ke rumah dengan sedikit letih dan
sedikit gelisah. Hidangan makan malam yang disajikan kurang sesuai dengan
seleranya sehingga ia memalingkan wajah dan mengeluh. Hari yang dilewati Joan
juga tidak terlalu menyenangkan, sehingga ia menuntut, "Baiklah, apa yang
engkau harapkan dengan uang belanja yang kecil?" atau "Mungkin saya
dapat memasak makanan yang lebih pantas se-Andainya saya mempunyai kompor baru
seperti yang tampaknya dimiliki semua orang yang lain." Ini menghina harga
diri John, sehingga ia balas menyerang dengan, "Dengar, Joan, sama sekali
bukan uangnya yang kurang. Engkau saja yang tidak tahu cara mengaturnya."
Dan begitulah seterusnya. Sebelum terjadi gencatan senjata, segala macam
tuduhan dibuat untuk menyerang satu sama lain. Seks, uang, janji pranikah dan
pascanikah, dan banyak lagi persoalan lain dilontarkan. Kedua pihak
meninggalkan pertempuran dalam keadaan gugup dan tegang. Tidak ada yang
dibereskan, tetapi John dan Joan sudah dilengkapi dengan amunisi baru untuk
membuat pertengkaran berikutnya lebih keras lagi. Hal-hal kecil, cara berpikir
kecil, menyebabkan argumen. Jadi, untuk menghapus pertengkaran, hapuslah cara
berpikir picik.
Berikut ini adalah sebuah teknik yang bekerja dengan baik. Sebelum mengeluh
atau menuduh atau memarahi seseorang, atau meluncurkan serangan balasan sebagai
pembelaan diri, bertanyalah kepada diri sendiri: "Apakah ini benar-benar
penting?" Dalam kebanyakan hal, tidak cukup penting, dan Anda pun berhasil
menghindari konflik.
Bertanyalah kepada diri sendiri, "Apakah benar-benar penting seandainya ia
menjatuhkan abu rokok di atas karpet atau lupa menutup tube pasta gigi, atau
terlambat pulang ke rumah?"
"Apakah benar-benar penting seandainya ia memboroskan sedikit uang atau
mengundang beberapa orang yang tidak saya sukai?"
Jika Anda merasa ingin mengambil tindakan negatif, bertanyalah kepada diri
sendiri, "Apakah ini benar-benar penting?" Jawaban untuk pertanyaan
itu bekerja secara ajaib dalam membangun situasi rumah yang lebih baik.
Jawabannya juga berlaku di kantor. Cara ini manjur ketika dalam perjalanan
pulang ke rumah seorang pengemudi lain memotong jalan di depan Anda. Cara ini
manjur di dalam situasi apa pun dalam kehidupan yang cenderung menimbulkan
pertengkaran.
3. JOHN MENDAPATKAN KANTOR YANG TERKECIL DAN IA GAGAL.
Beberapa tahun yang lalu, saya menyaksikan bagaimana cara berpikir picik
mengenai akomodasi kantor menghancurkan peluang seorang pemuda untuk
mendapatkan karier yang menguntungkan dalam periklanan.
Empat orang eksekutif muda, semua pada tingkat status yang sama, dipindahkan ke
kantor yang baru. Tiga kantor baru tersebut sama dalam ukuran dan dekorasi.
Yang keempat lebih kecil dan lebih sederhana.
J.M. diberi kantor yang keempat, dan ini ternyata merupakan pukulan menyedihkan
bagi harga dirinya. Segera saja ia merasa dirinya mengalami diskriminasi.
Pikiran negatif, kemarahan, kegetiran, rasa iri menumpuk. J.M. mulai merasa
dirinya tidak mampu. Akibatnya ia semakin menaruh dendam kepada rekan-rekan,
eksekutifnya. Bukannya bekerja sama dengan mereka, ia malah berusaha sedapat
mungkin merusak usaha mereka. Segalanya menjadi semakin buruk, dan J.M.
mengalami penurunan begitu buruk sehingga tiga bulan kemudian para direktur
tidak mempunyai pilihan lain selain memecatnya.
Cara berpikir picik mengenai persoalan kecil menghancurkan diri J.M. Dalam
ketergesaannya merasa didiskriminasikan, ia gagal untuk menyadari bahwa
perusahaan sedang berkembang dengan pesat dan ruang kantor benar-benar sangat
berharga. Bahkan tidak terpikir olehnya bahwa eksekutif yang mengatur pembagian
kantor-kantor tersebut bahkan tidak tahu mana kantor yang kecil. Satu-satunya
orang di perusahaan tersebut yang menganggap kantor sebagai indeks nilai
dirinya adalah J.M. sendiri.
Cara berpikir kecil mengenai hal-hal yang tidak penting seperti melihat nama
Anda tercantum paling akhir pada lembaran gaji, atau menerima salinan karbon
keempat dari memo kantor, dapat menyakiti Anda. Berpikirlah besar dan tak satu
pun hal-hal kecil ini dapat menahan diri Anda.
4. BAHKAN GAGAP MERUPAKAN HAL KECIL.
Seorang wiraniaga mengatakan kepada saya bahwa bahkan gagap hanyalah soal kecil
dalam hal kewira-niagaan jika orang bersangkutan mempunyai kualitas yang
benar-benar penting.
"Saya mempunyai seorang teman yang juga seorang wiraniaga," ia
mengakui, "yang senang bergurau, walaupun kadang leluconnya sama sekali
tidak lucu. Beberapa bulan yang lalu seorang pemuda mengunjungi teman saya yang
suka bergurau ini dan meminta pekerjaan sebagai penjual. Pemuda ini sangat
gagap, dan teman saya segera melihat peluang untuk memperdayakan saya. Teman
saya mengatakan kepada pelamar yang gagap tersebut bahwa saat ini tidak ada
lowongan di perusahaannya, tetapi salah seorang temannya (saya) mempunyai
lowongan. Ia menelepon saya dan memberikan laporan yang bagus mengenai orang
ini. Tanpa curiga saya berkata, 'Kirim dia segera.'
"Tiga puluh menit kemudian masuklah pemuda tersebut. Ia belum mengucapkan
lebih dari tiga patah kata ketika saya menyadari mengapa teman saya begitu
antusias mengirimnya ke tempat saya. 'S-s-s-aya J-J-Jack R.,' katanya. 'Pak G.
mengirim saya untuk berbicara tentang p-p-p-pekerjaan.' Hampir tiap kata yang
ia ucapkan merupakan perjuangan, dan saya berkata kepada diri sendiri,
"Orang ini tidak dapat menjual uang satu dolar dengan harga satu
sen." Saya jengkel kepada teman saya, tetapi saya merasa kasihan kepada
pelamar yang masih muda ini. Saya pikir yang paling sedikit dapat saya lakukan
adalah mengajukan beberapa pertanyaan basa-basi sambil saya memikirkan alasan
untuk menyingkirkannya tanpa melukai perasaannya terlalu banyak.
"Namun, sementara kami berbicara, saya mengetahui bahwa orang muda ini
cerdas, bahwa ia dapat membawa diri dengan sangat baik. Sayang sekali ia sangat
gagap. Akhirnya, saya memutuskan mengakhiri wawancara dengan mengajukan satu
pertanyaan terakhir: 'Apa yang membuat Anda berpikir Anda dapat menjual?'
"'Baiklah,' katanya, 'Saya c-c-cepat belajar, s-s-saya suka kepada orang,
s-s-saya pikir Anda mempunyai perusahaan yang baik, dan saya i-i-ingin
menghasilkan u-u-uang. Saya tahu saya m-m-memang sulit berb-b-bi-cara,
t-t-tetapi itu tidak mengganggu s-s-saya, jadi mengapa ini harus
meng-g-g-ganggu orang lain?'
"Jawabannya membuktikan kepada saya bahwa ia memiliki semua kualifikasi
yang benar-benar penting bagi seorang wiraniaga. Saya memutuskan memberinya
kesempatan. Dan percaya atau tidak, ia berhasil sangat baik."
Bahkan cacat dalam berbicara di dalam profesi yang menuntut kemampuan berbicara
yang baik merupakan hal yang sepele jika orang bersangkutan mempunyai kualitas
yang besar.
Praktekkan tiga prosedur ini untuk membantu diri Anda tidak memikirkan hal-hal
sepele di atas:
1. Usahakan mata Anda tetap terfokus pada sasaran yang besar. Banyak kali kita
seperti wiraniaga yang, karena gagal menghasilkan penjualan, melaporkan kepada
manajernya, "Ya, tetapi saya meyakinkan si pelanggan bahwa ia
keliru." Dalam menjual, sasaran yang besar adalah menghasilkan penjualan,
bukan memenangkan argumen.
Dalam perkawinan, sasaran yang besar adalah kedamaian, kebahagiaan, ketenangan
– bukan memenangkan pertengkaran atau mengatakan, "Bukankah dulu sudah
saya katakan ..."
Dalam bekerja dengan karyawan, sasaran yang besar adalah mengembangkan potensi
mereka sepenuhnya, bukan mempersoalkan kesalahan kecil.
Dalam hidup bertetangga, sasaran yang besar adalah respek timbal balik dan
persahabatan – bukan mencari-cari agar Anda dapat melaporkan mereka kepada
polisi karena anjing mereka kadang menyalak pada malam hari.
Dalam bahasa militer, "Jauh lebih baik kalah dalam pertempuran dan
memenangkan perang, daripada memenangkan pertempuran dan kalah dalam
perang."
Usahakan agar mata Anda tetap menatap sasaran yang besar.
2. bertanyalah "Apakah ini benar-benar penting?" Sebelum menjadi
tergugah secara negatif, bertanyalah kepada diri sendiri, "Apakah cukup
penting bagi saya untuk menjadi marah?" Tidak ada cara yang lebih baik
untuk menghindari frustrasi karena persoalan kecil daripada menggunakan obat
ini. Setidaknya 90 persen dari pertengkaran dan permusuhan tidak akan pernah
terjadi jika kita menghadapi situasi yang mengganggu dengan pertanyaan
"Apakah ini benar-benar penting?"
3. Jangan jatuh kedalam perangkap hal-hal yang sepele. Dalam berpidato,
memecahkan masalah, memberi nasihat kepada karyawan, pikirkanlah hal-hal yang
benar-benar penting, hal-hal yang benar-benar menentukan. Jangan menjadi
tenggelam di bawah persoalan yang dangkal. Berkonsentrasilah pada hal-hal yang
penting.
Ikuti Tes Ini untuk Mengukur Besarnya Pikiran Anda
Di dalam kolom sebelah kiri di bawah ini terdapat beberapa situasi yang lazim.
Di kolom tengah dan kanan adalah perbandingan dari bagaimana pemikir yang picik
dan pemikir besar memandang situasi yang sama. Uji diri Anda, kemudian putuskan
pendekatan mana yang akan membawa Anda ke tempat yang Anda tuju – cara berpikir
picik atau berpikir besar?
Situasi yang sama ditangani dengan dua cara yang sepenuhnya berbeda. Pilihannya
ada di tangan Anda.
Situasi
|
Pendekatan
Pemikir Picik
|
Pendekatan
Pemikir Besar
|
Rekening Pengeluar-an
|
Memikirkan cara menaikan
pendapatan dengan menambahkan rekening pengeluaran.
|
Memikirkan cara untuk menaikkan
pendapatan dengan menjual lebih banyak barang.
|
Percakapan
|
Berbicara tentang kualitas negatif
teman, ekonomi, perusahaan, pesaing.
|
Berbicara tentang kualitas positif
teman, perusahaan, pesaing.
|
Perkembang-an
|
Percaya akan penghematan atau
paling banter status quo.
|
Percaya akan ekspansi.
|
Masa Depan
|
Memandang masa depan itu terbatas.
|
Memandang masa depan itu penuh
harapan.
|
Kerja
|
Mencari cara untuk menghindari
kerja.
|
Mencari lebih banyak cara dan hal
untuk dikerjakan, khususnya membantu orang lain.
|
Kompetisi
|
Bersaing dengan yang rata-rata
|
Bersaing dengan yang terbaik.
|
Masalah Anggaran
|
Memikirkan cara menghemat uang
dengan mengurangi hal-hal yang perlu.
|
Memikirkan cara untuk menaikkan
pendapatan dan membeli lebih banyak barang yang perlu.
|
Tujuan
|
Menetapkan tujuan yang rendah.
|
Menetapkan tujuan yang tinggi.
|
Visi
|
Hanya melihat cara yang terbatas.
|
Asyik dengan jangka panjang.
|
Jaminan
|
Asyik dengan masalah jaminan.
|
Menganggap jaminan hanya sebagai
penyerta dalam keberhasilan
|
Persahabatan
|
Bergaul dengan para pemikir picik.
|
Bergaul dengan orang yang penuh
gagasan besar dan progresif.
|
Kesalahan
|
Membesar-besarkan kesalahan kecil.
Mengubah kesalahan kecil menjadi persoalan besar.
|
Mengabaikan kesalahan kecil yang
kurang penting.
|
Ingat, Berpikir Besar Selalu Memberikan Imbalan
1. Jangan mengidap kompleks inferioritas. Taklukkan kebiasaan mencela diri.
Berkonsentrasilah pada aset atau kelebihan Anda. Anda lebih baik daripada yang
Anda duga.
2. Gunakan kosakata pemikir besar. Gunakan kata-kata yang besar, cerah, ceria.
Gunakan kata-kata yang menjanjikan kemenangan, harapan, kebahagiaan,
kesenangan; hindari kata-kata yang menimbulkan gambaran tidak menyenangkan
berupa kegagalan, kekalahan, kesedihan.
3. Bentangkan visi Anda. Lihat apa kemungkinannya, bukan hanya apa yang ada.
Praktekkan menambahkan nilai pada benda, pada orang, dan pada diri sendiri.
4. Dapatkan pandangan yang besar mengenai pekerjaan Anda. Berpikirlah,
benar-benar berpikir bahwa pekerjaan Anda yang sekarang benar-benar penting.
Bahwa promosi berikutnya bergantung terutama pada bagaimana Anda berpikir
mengenai pekerjaan Anda yang sekarang.
5. Jangan berpikir tentang hal-hal yang sepele. Fokuskan perhatian Anda pada
sasaran yang besar. Sebelum terlibat di dalam persoalan yang kecil, bertanyalah
kepada diri sendiri, "Apakah ini benar-benar penting?"
Merubah Dunia Dengan 'Sifat Operasi Hitung Matematika'
Jika Anda pernah mengecap pendidikan di Sekolah Dasar (SD) tepatnya sewaktu
kelas 4 maka Anda sudah di perkenalkan sifat-sifat operasi hitung pada bilangan
bulat. Sifat-sifat operasi hitung bilangan bulat itu akan saya ingatkan kembali
dengan sederhana.
1. Sifat Komutatif
sifat komutatif disebut juga sifat pertukaran. Sifat Komutatif ini berlaku pada
operasi penjumlahan dan perkalian.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan penjumlahan berikut.
2 + 4 = 6
4 + 2 = 6
Jadi, 2 + 4 = 4 + 2.
Sifat seperti ini dinamakan sifat komutatif pada penjumlahan.
Sekarang, coba perhatikan perkalian berikut.
2 × 4 = 8
4 × 2 = 8
Jadi, 2 × 4 = 4 × 2.
Sifat seperti ini dinamakan sifat komutatif pada perkalian.
2. Sifat Asosiatif
Pada penjumlahan dan perkalian tiga bilangan bulat berlaku sifat asosiatif atau
disebut juga sifat pengelompokan.
Perhatikanlah contoh penjumlahan tiga bilangan berikut.
(2 + 3) + 4 = 5 + 4 = 9
2 + (3 + 4) = 2 + 7 = 9
Jadi, (2 + 3) + 4 = 2 + (3 + 4).
Sifat seperti ini dinamakan sifat asosiatif pada penjumlahan.
Sekarang, coba perhatikan contoh perkalian berikut.
(2 × 3) × 4 = 6 × 4 = 24
2 × (3 × 4) = 2 × 12 = 24
Jadi, (2 × 3) × 4 = 2 × (3 × 4).
Sifat ini disebut sifat asosiatif pada perkalian.
3. Sifat Distributif
Sifat distributif disebut juga sifat penyebaran.
Untuk lebih memahaminya, perhatikanlah contoh berikut.
Contoh 1
Apakah 3 × (4 + 5) = (3 × 4) + (3 × 5)?
Jawab:
3 × (4 + 5) = 3 × 9 = 27
(3 × 4) + (3 × 5) = 12 + 15 = 27
Jadi, 3 × (4 + 5) = (3 × 4) + (3 × 5) dan ini disebut sifat distributif
perkalian terhadap penjumlahan
Contoh 2
Apakah 3 × (4 – 5) = (3 × 4) – (3 × 5)?
Jawab:
3 × (4 – 5) = 3 × (–1) = –3
(3 × 4) – (3 × 5) = 12 – 15 = –3
Jadi, 3 × (4 – 5) = (3 × 4) – (3 × 5) dan ini disebut sifat distributif
perkalian terhadap pengurangan.
Dalam kehidupan ini, kita juga hidup di dalam
banyak tanda kurung. Tanda kurung yang pertama yaitu 'diri kita' lalu
kurung berikutnya 'keluarga' kemudian 'kota' lalu 'negara'
dan 'Dunia'.
(((((DIRI
KITA)KELUARGA)KOTA)NEGARA)DUNIA)
Kita sebagai seorang manusia tidak akan bisa
mengubah dunia tanpa terlebih dahulu mengubah diri kita sendiri dan dalam
matematika hal itu sudah diterapkan sejak kita SD
Cerita Sumber Inspirasi:
“Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa
sulit mengubah seluruh dunia ini, lalu aku putuskan untuk mengubah negaraku
saja. Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai
berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah
mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku. Kini aku semakin renta,
aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa
aku ubah adalah diriku sendiri. Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku
bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan
kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah
seluruh dunia ini.”