TAMPUBOLON

Senin, 25 November 2013

Masalah adalah Pelajaran



 Tidak ada manusia yang terlahir tanpa masalah. Banyak di antara kita menganggap masalah adalah momok yang menyeramkan, dan tentunya tidak ada manusia yang mau menerima suatu masalah. Tapi apabila kita mau melihat sisi lain dari suatu masalah kita bisa mendapatkan pelajaran baru dalam hidup ini. Masalah memberikan kita pengalaman yang belum tentu orang lain dapatkan. Kita bisa menjadi lebih dewasa dan kuat dalam menjalani hidup ini.
Jadi ucapkan salam dan selamat datang pada masalah, dan jalani dengan kesabaran.
Masalah adalah cara Tuhan agar kita belajar dan mengambil hikmah dibalik itu semua.
Di balik cobaan pasti tersimpan buah yang manis.
Ingatlah semakin TUHAN memberikan cobaan,maka kita adalah termasuk golongan orang orang yang di sayangi TUHAN.
Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Maka, hadapilah dan ubahlah menjadi kekuatan untuk sukses anda. Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur keberhasilan. Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.

Read more:

Dunia memberi apa Yang kita Fokuskan



Add caption
 Dunia memberi apa Yang kita Fokuskan
 Tidak ada manusia yang terlahir tanpa masalah. Banyak di antara kita menganggap masalah adalah momok yang menyeramkan, dan tentunya tidak ada manusia yang mau menerima suatu masalah. Tapi apabila kita mau melihat sisi lain dari suatu masalah kita bisa mendapatkan pelajaran baru dalam hidup ini.
Masalah memberikan kita pengalaman yang belum tentu orang lain dapatkan. Kita bisa menjadi lebih dewasa dan kuat dalam menjalani hidup ini.
Jadi ucapkan salam dan selamat datang pada masalah, dan jalani dengan kesabaran.
Masalah adalah cara Tuhan agar kita belajar dan mengambil hikmah dibalik itu semua.
Di balik cobaan pasti tersimpan buah yang manis.
Ingatlah semakin TUHAN memberikan cobaan,maka kita adalah termasuk golongan orang orang yang di sayangi TUHAN.
Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Maka, hadapilah dan ubahlah menjadi kekuatan untuk sukses anda. Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur keberhasilan. Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.


Jumat, 22 November 2013

Satu Hati Satu Jiwa



Satu pohon dapat Membuat jutaan     Batang korek Api,
tapi satu batang korek api dapat membakar jutaan pohon.

Jadi......
Satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif.

Korek api mempunyai kepala,
tetapi tidak mempunyai otak,
oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil,
sang korek api langsung terbakar.

Kita mempunyai kepala, dan juga otak,
jadi kita tidak perlu kebakaran jenggot hanya karena gesekan kecil,
jadi dengan menggunakan otak,
kita dapat mengurangi stress.

Ketika burung hidup,
ia makan semut.

Ketika burung mati, semut makan burung.

Waktu terus berputar sepanjang jaman.
Siklus kehidupan terus berlanjut.

Jangan merendahkan siapapun dalam hidup. Akan tetapi kita harus menunjukkan penghargaan pada orang lain,
bukan karena siapa mereka,
tetapi karena siapakah diri kita sendiri.

Kita mungkin berkuasa tapi waktu lebih berkuasa daripada kita.....

Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak
teman di Sekeliling kita, kita PD melakukan apa saja.

Waktu kita tak berdaya, barulah kita sadar siapa saja sahabat sejati kita.

Tapi waktu kita down, kita baru sadar selama ini siapa saja teman yang hanya memperalat & menggunakan kita...

Waktu kita sakit,
kita baru tahu bahwa sehat itu sangat penting, jauh melebihi harta.

Manakala kita miskin, kita baru tahu jadi orang harus banyak
memberi / bersedekah dan saling membantu.

Ketika kita tua,
kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan.

Dan, setelah di ambang ajal,
kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Hidup tidaklah lama, sudah saatnya kita bersama² membuat

HIDUP LEBIH BERHARGA:

Saling menghargai
Saling
membantu dan memberi
Saling mendukung
Jadilah teman setia tanpa syarat & apa adanya

Seribu satu alasan bisa Anda buat untuk kegagalan Anda,
tidak ada yang terbaik,
pilih salah satu dan pecahkan.
Never miss a great offer (Jangan pernah melewatkan tawaran yang besar )

Selasa, 19 November 2013

Setiap Orang Berhak Meraih Impianya dengan cara apapun



      Percaya Anda dapat Berhasil, maka Anda            Pun Akan benar-benar Berhasil

Keberhasilan berarti banyak hal yang mengagumkan dan positif. Keberhasilan berarti kesejahteraan pribadi: rumah yang bagus, liburan, perjalanan, pengalaman baru, jaminan keuangan untuk anak dan istri. Keberhasilan berarti memperoleh kehormatan, kepemimpinan, disegani oleh rekan bisnis, dan populer di kalangan teman.

Keberhasilan terutama berarti kebebasan: kebebasan dari kekhawatiran, ketakutan, frustrasi, dan kegagalan. Keberhasilan berarti rasa hormat kepada diri sendiri, terus menerus mendapatkan kebahagiaan yang lebih riil dan kepuasan dari hidup ini, mampu mengerjakan lebih banyak bagi mereka yang bergantung kepada Anda, dan yang kasih sayangnya begitu Anda hargai.

Keberhasilan berarti menang.
Keberhasilan – prestasi – adalah tujuan hidup!
Setiap manusia menginginkan keberhasilan. Setiap orang menginginkan yang terbaik dari hidup ini. Tak seorang pun senang akan kemiskinan atau hidup dalam keadaan paspasan. Tak seorang pun senang merasa inferior; tak seorang pun senang dipermainkan.

Salah satu dari kearifan pembangun keberhasilan yang paling praktis terdapat di dalam kutipan Kitab Suci yang mengatakan bahwa iman dapat memindahkan gunung.
Percaya, benar-benar percaya bahwa Anda dapat memindahkan gunung, maka Anda pun mampu melakukannya. Kesangsian berjalan bersama-sama dengan kegagalan. Barangkali Anda pernah mendengar orang berkata, "Omong kosong kalau Anda mengira dapat memindahkan gunung hanya dengan mengatakan 'Gunung, pindahlah.' Benar-benar tidak mungkin."

Mereka yang berpikir seperti ini mengelirukan kepercayaan atau iman dengan angan-angan. Dan memang benar, Anda tidak dapat memindahkan gunung dengan mengangankannya saja. Anda tidak akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik hanya dengan mengangankannya. Anda juga tidak akan mendapatkan rumah besar hanya dengan mengangankannya. Anda tidak dapat menjadi pemimpin hanya dengan mengangankan menjadi pemimpin.

Akan tetapi kita dapat memindahkan gunung dengan kepercayaan yang kuat. Cara terbaik untuk memperoleh keberhasilan adalah dengan percaya bahwa Anda dapat berhasil.
Tidak ada yang gaib atau rahasia mengenai kekuatan kepercayaan. Kepercayaan bekerja sebagai berikut. Kepercayaan, sikap "Saya-positif-saya-dapat," membangkitkan kekuatan, keterampilan dan energi yang diperlukan untuk berhasil. Jika Anda percaya "Saya-dapat-me-lakukannya" dan benar-benar percaya, maka "bagaimana melakukannya" pun berkembang secara otomatis.

Setiap hari, di setiap kota dan desa, orang-orang muda memulai pekerjaan yang baru. Masing-masing "mengangankan" bahwa suatu hari mereka akan menikmati keberhasilan yang mengiringi mereka menuju puncak. Namun, mayoritas orang muda ini benar-benar tidak mempunyai kepercayaan yang diperlukan untuk mencapai jenjang tertinggi. Dan mereka pun tidak pernah mencapai puncak. Percaya bahwa tidak mungkin untuk mendaki tinggi, mereka pun tidak menemukan anak tangga yang menuju ke tempat tertinggi. Sikap mereka adalah sikap orang "kebanyakan."

Akan tetapi, sejumlah kecil orang muda ini benar-benar percaya bahwa mereka akan berhasil. Mereka mendekati pekerjaan dengan sikap "Saya-akan-mencapai-puncak." Dan dengan kepercayaan besar, mereka pun mencapai puncak. Percaya bahwa mereka akan berhasil – dan itu bukannya tidak mungkin – mereka belajar dan mengamati sikap orang-orang yang sudah berhasil. Jadi, mereka belajar bagaimana orang yang sukses mendekati masalah dan mengambil keputusan. Dengan mengamati sikap orang yang berhasil, mereka pun menjadi berhasil.

Cara melakukannya selalu muncul untuk orang yang percaya ia dapat melakukannya.
Seorang teman saya yang masih muda dua tahun lalu memutuskan untuk mendirikan sebuah agen penjualan yang menjual mobil karavan. Banyak orang mengatakan bahwa proyeknya tidak mungkin berhasil. Tabungannya kurang dari £1.000, dan ia di-beritahu bahwa investasi modal minimum yang diperlukan berkali lipat jumlah itu. "Lihatlah betapa berat persaingannya," teman-temannya memperingatkan. "Selain itu, pengalaman praktis apa yang kamu miliki dalam menjual karavan, apa lagi memanajemeni perusahaan besar?"

Akan tetapi, orang muda ini percaya kepada diri sendiri dan kemampuannya untuk berhasil. Ia mengakui bahwa ia kekurangan modal, bahwa bisnis tersebut sangat kompetitif, dan bahwa ia tidak mempunyai pengalaman.
"Akan tetapi," katanya, "semua bukti yang dapat saya kumpulkan memperlihatkan bahwa industri karavan akan meluas. Dan yang terutama, saya sudah mempelajari pesaing saya. Saya tahu saya dapat melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam menjual karavan dibandingkan siapa pun di wilayah ini. Saya mungkin membuat beberapa kesalahan, tetapi saya akan memperbaikinya dan akan tiba di puncak."

Kenyataannya memang begitu. Ia hanya mengalami sedikit kesulitan dalam mendapatkan tambahan modal. Kepercayaannya yang mutlak bahwa ia dapat berhasil dengan bisnis ini membuat dua orang investor menaruh kepercayaan kepadanya. Dan, bersenjatakan kepercayaan yang bulat, ia melakukan "hal yang tidak mungkin" – ia mendapat inventaris terbatas tanpa uang muka dari seorang pengusaha pabrik karavan.
Tahun lalu ia menjual karavan dengan nilai lebih dari £300.000. "Tahun depan," katanya, "saya akan menjual senilai lebih dari £600.000!" Kepercayaan, kepercayaan yang kuat menggerakkan pikiran untuk mencari jalan dan sarana serta cara melakukannya. Dan percaya bahwa Anda dapat berhasil membuat orang lain menaruh kepercayaan kepada Anda.
Mayoritas orang tidak menaruh kepercayaan yang besar akan kepercayaan. Beberapa minggu yang lalu, seorang teman yang insinyur sipil menceritakan kepada saya tentang pengalaman "memindahkan gunung."
"Bulan lalu," katanya, "departemen saya mengirim surat kepada beberapa perusahaan rekayasa bahwa kami diberi wewenang untuk menarik beberapa perusahaan untuk mendesain delapan buah jembatan sebagai bagian dari program kami dalam pembangunan jalan raya. Jembatan-jembatan tersebut diharapkan dibangun dengan biaya £1,5 juta. Perusahaan rekayasa yang dipilih akan mendapat komisi 4 persen, atau £60.000 untuk kerja desainnya.

"Saya berbicara dengan 21 perusahaan rekayasa mengenai hal ini. Empat yang terbesar segera memutuskan untuk menyerahkan proposal. Tujuh belas yang lain adalah perusahaan kecil. Besarnya proyek membuat takut 16 dari 17 perusahaan kecil ini. Mereka memeriksa proyek tersebut, menggelengkan kepala, dan berkata: "Proyek ini terlalu besar untuk kami. Tidak ada gunanya mencoba." "Akan tetapi, salah satu dari perusahaan kecil ini, sebuah perusahaan dengan hanya tiga insinyur yang cakap, mempelajari rencananya dan berkata, 'Kami dapat mengerjakannya. Kami akan menyerahkan proposal.' Mereka melakukannya, dan mereka mendapatkan pekerjaan itu."

Mereka yang percaya bahwa mereka dapat memindahkan gunung benar-benar dapat melakukannya. Mereka yang percaya bahwa mereka tidak dapat benar-benar tidak dapat melakukannya. Kepercayaan menggerakkan kekuatan untuk melaksanakan. Di zaman modern ini kepercayaan mengerjakan hal-hal yang jauh lebih besar daripada memindahkan gunung. Unsur yang paling esensial – sebenarnya satu-satunya unsur yang esensial – di dalam penjelajahan luar angkasa dewasa ini adalah kepercayaan bahwa ruang angkasa dapat dikuasai. Tanpa kepercayaan yang kuat dan tidak tergoyahkan bahwa manusia dapat mengadakan perjalanan ke ruang angkasa, para ilmuwan tidak akan mempunyai keberanian, minat, dan antusiasme untuk maju. Kepercayaan bahwa kanker dapat disembuhkan akhirnya akan menghasilkan obat untuk kanker. Sementara saya menulis buku ini ada pembicaraan tentang pembangunan sebuah terowongan di bawah Terusan Inggris untuk menghubungkan Inggris dengan Benua Eropa. Dibangun tidaknya terowongan ini bergantung pada apakah orang-orang yang bertanggung jawab dalam pelaksanaannya percaya bahwa terowongan tersebut dapat dibangun.

Kepercayaan akan hasil yang besar adalah kekuatan penggerak, daya di belakang semua buku besar, drama besar, penemuan ilmiah yang besar. Kepercayaan akan keberhasilan ada di balik semua bisnis yang berhasil, perusahaan yang berhasil, dan organisasi politik yang berhasil, kepercayaan akan keberhasilan adalah satu unsur dasar yang sepenuhnya esensial pada diri orang-orang yang berhasil.

Percayalah, benar-benar percaya bahwa Anda dapat berhasil, maka Anda pun akan berhasil.

Selama bertahun-tahun saya sudah berbicara dengan banyak orang yang gagal dalam usaha bisnis dan bermacam karier. Banyak alasan dan dalih diberikan mengenai kegagalan mereka. Sesuatu yang sangat penting tersingkap ketika Anda berbicara dengan seorang yang gagal. Dengan cara yang sambil lalu orang yang gagal melontarkan komentar seperti, "Terus terang saja, saya rasa ini tidak akan berhasil," atau "Saya ragu bahkan sebelum saya mulai," atau "Sebenarnya, saya tidak terlalu heran usaha ini tidak berhasil."

Sikap "Baiklah – saya mau mencobanya, tetapi saya rasa ini tidak akan berhasil" akan menyebabkan kegagalan.
Kesangsian adalah kekuatan yang negatif. Ketika pikiran tidak percaya atau ragu, pikiran tersebut menarik "dalih" untuk menyokong ketidakpercayaan tersebut. Keraguan, ketidakpercayaan, keinginan bawah sadar untuk gagal, perasaan tidak benar-benar ingin berhasil, bertanggung jawab atas sebagian besar kegagalan. Berpikir ragu, maka Anda gagal.
Berpikir menang, maka Anda berhasil.
Seorang penulis fiksi yang masih muda berbicara dengan saya belum lama ini mengenai ambisinya dalam menulis. Saya menyebutkan nama salah seorang penulis ulung di dalam bidangnya.
"Oh," katanya, "Tuan X memang penulis ulung, tetapi tentu saja saya tidak dapat seberhasil beliau."
Sikapnya membuat saya sangat kecewa karena saya mengenal penulis yang ia sebutkan namanya. Penulis ulung tersebut bukan orang yang super cerdas, super perseptif, atau super apa pun kecuali super percaya. Ia percaya bahwa ia adalah salah satu yang terbaik, dan ia pun bertindak dan berkarya sebagai yang terbaik. Memang baik jika kita menghormati pemimpin. Belajar darinya. Mengamatinya. Mempelajari dirinya. Tetapi, jangan memujanya. Percayalah Anda dapat melebihinya. Percayalah Anda dapat men-gung gulinya. Siapa yang bertahan pada sikap terbaik nomor dua pastilah menjadi orang nomor dua.

Coba lihat dengan cara ini. Kepercayaan adalah termostat yang mengatur apa yang kita capai di dalam hidup. Pelajari orang yang berjalan dengan kaki terseret dalam keadaan pas-pasan. Ia percaya dirinya kurang berharga sehingga ia pun hanya menerima sedikit. Ia tidak percaya dirinya dapat mengerjakan hal-hal besar, dan ia pun tidak mengerjakan hal-hal besar. Ia percaya dirinya tidak penting, maka segala yang ia kerjakan mempunyai tanda tidak penting. Sementara waktu berlalu, tidak adanya kepercayaan akan diri sendiri ini terlihat dalam cara ia berbicara, berjalan, bertindak. Jika ia tidak menyesuaikan lagi termostatnya, ia akan mengerut, tumbuh semakin kecil dan semakin kecil dalam pandangannya sendiri. Dan, karena orang lain melihat diri kita seperti apa yang kita lihat di dalam diri kita, ia tumbuh semakin kecil dalam pandangan orang-orang di sekelilingnya.

Sekarang kita lihat orang muda yang maju dengan pesat. Ia percaya dirinya sangat berharga, dan ia mendapat banyak. Ia percaya dapat menangani tugas yang besar dan sulit – dan ia melakukannya. Semua yang ia kerjakan, cara ia berhadapan dengan orang lain, karakternya, pikirannya, sudut pandangnya, semua mengatakan, "Inilah dia orang yang profesional. Ia adalah orang penting."
Setiap orang adalah produk dari pikirannya sendiri. Percayalah akan hal-hal yang besar. Sesuaikan termostat Anda. Luncurkan serangan sukses dengan kepercayaan jujur dan tulus bahwa Anda dapat berhasil. Percayalah akan kebesaran dan tumbuhlah dalam kebesaran.

Beberapa tahun yang lalu sesudah berceramah di hadapan sekelompok usahawan di Amerika Serikat, saya berbincang dengan salah seorang dari mereka yang menghampiri saya, memperkenalkan dirinya dan berkata, "Saya benar-benar menikmati ceramah anda. Dapatkah Anda meluangkan waktu beberapa menit? Saya ingin sekali berbincang dengan Anda tentang suatu pengalaman pribadi. "Sambil minum kopi ia bercerita dengan tenang:" Saya mempunyai sebuah pengalaman pribadi yang berkaitan dengan apa yang Anda katakan tadi mengenai membuat pikiran kita bekerja untuk kita dan bukannya membiarkannya bekerja melawan kita. Saya belum pernah menceritakan kepada siapa pun bagaimana saya mengangkat diri saya keluar dari dunia menengah, tetapi saya ingin sekali menceritakannya kepada Anda."
"Silakan," saya meminta. "Saya ingin sekali mendengarnya."
"Begini, lima tahun yang lalu saya bekerja keras, dalam pekerjaan yang biasa-biasa saja. Memang saya hidup lumayan menurut standar rata-rata, tetapi masih jauh dari ideal. Rumah kami masih terlalu kecil, dan tidak ada uang untuk membeli banyak barang yang kami inginkan. Syukurlah istri saya tidak banyak mengeluh, tetapi tampak jelas ia menerima saja nasibnya tetapi ia tidak puas. Saya semakin tidak puas. Ketika saya membiarkan diri saya

melihat bagaimana saya mengecewakan istri dan dua anak saya, saya memutuskan untuk mengubah semuanya.
"Sekarang ini, kami mempunyai sebuah rumah baru yang bagus di atas tanah yang luas, dan sebuah pondok kira-kira dua ratus kilometer di sebelah utara. Tidak ada kekhawatiran apakah kami dapat mengirim anak-anak ke perguruan tinggi yang baik, dan istri saya tidak lagi harus merasa bersalah setiap kali ia membelanjakan uang untuk membeli beberapa pakaian baru. Musim panas yang akan datang kami sekeluarga akan terbang ke Eropa untuk menghabiskan liburan selama sebulan. Kami sekarang benar-benar hidup."
"Bagaimana ini semua bisa terjadi?" tanya saya.
"Semuanya terjadi," lanjutnya, "ketika, menurut ungkapan yang Anda gunakan tadi, 'saya memanfaatkan kekuatan kepercayaan.' Lima tahun yang lalu saya mengetahui adanya lowongan di sebuah perusahaan di sini di Detroit. Kami waktu itu tinggal di Cleveland. Saya memutuskan untuk mencobanya, sambil berharap dapat menghasilkan uang sedikit lebih banyak di sana. Saya tiba di sini lebih awal yaitu pada hari Minggu malam, tetapi wawancaranya sendiri baru akan dilakukan pada hari Senin.
"Sesudah makan malam saya duduk di kamar hotel dan entah karena apa saya benar-benar merasa jijik dengan diri saya sendiri. 'Mengapa,' saya bertanya, 'saya hanya menjadi orang gagal kelas menengah? Mengapa saya berusaha mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan langkah maju yang begitu kecil?"
"Sampai sekarang saya tidak tahu apa yang mendorong saya untuk melakukannya, tetapi saya mengambil selembar kertas dan menuliskan nama lima orang yang saya kenal baik selama beberapa tahun yang sudah jauh melampaui saya dalam penghasilan dan kemajuan bisnis. Dua adalah bekas tetangga yang sudah pindah ke subdivisi yang lebih baik. Dua lagi adalah bekas majikan saya, dan yang ketiga adalah kakak ipar saya. "Kemudian, saya bertanya dalam hati apa yang mereka punyai yang tidak saya miliki, selain pekerjaan yang lebih baik? Saya membandingkan kecerdasan mereka dengan kecerdasan saya, tetapi secara jujur saya tidak dapat melihat bahwa mereka lebih unggul dalam hal otak. Secara jujur saya juga tidak dapat mengatakan mereka berpendidikan lebih baik daripada saya, atau mempunyai integritas atau kebiasaan pribadi yang lebih unggul.

"Akhirnya saya tiba pada satu lagi kualitas keberhasilan yang sering kita dengar. Inisiatif. Di sini saya harus mengakui bahwa rekor saya jauh di bawah teman-teman saya yang berhasil.
"Untuk pertama kali saya melihat titik lemah saya. Saya menemukan bahwa saya memang suka menahan diri. Saya menggali ke dalam diri saya semakin dalam dan lebih dalam lagi, dan menemukan alasan mengapa saya kurang memiliki inisiatif adalah karena saya tidak percaya bahwa diri saya sangat berharga.

"Saya duduk di sana sepanjang malam meninjau kembali bagaimana kurangnya kepercayaan akan diri sendiri telah mendominasi saya selama ini; bagaimana saya menggunakan pikiran saya bekerja melawan diri saya sendiri. Saya mendapatkan diri saya mengkhotbahi diri sendiri mengapa saya tidak dapat maju bukannya mengapa saya dapat maju. Saya melihat rentetan sikap menurunkan nilai diri sendiri ini tampak dalam semua yang saya kerjakan. Kemudian, kesadaran saya timbul bahwa tak seorang pun akan percaya kepada saya sebelum saya percaya kepada diri saya sendiri. "Sejak saat itu saya memutuskan, 'Saya tidak mau lagi merasa sebagai orang kelas dua.
Sejak sekarang dan seterusnya saya tidak akan meremehkan diri sendiri. "Keesokan paginya saya masih memiliki kepercayaan itu. Selama wawancara saya menguji untuk pertama kalinya kepercayaan yang baru saya dapatkan. Sebelum wawancara saya berharap memiliki keberanian untuk meminta $1.000, atau mungkin bahkan $1.500 lebih banyak daripada yang saya peroleh dari pekerjaan saya yang sekarang. Akan tetapi sekarang, sesudah saya menyadari bahwa saya adalah orang yang berharga, saya menaikkannya menjadi $5.000. Dan saya mendapatkannya. Saya menjual kualitas saya karena sesudah satu malam yang panjang dengan melakukan analisis diri saya menemukan hal-hal di dalam diri saya yang membuat saya jauh lebih mungkin laku.

"Dalam dua tahun sesudah saya melakukan pekerjaan itu, saya menegakkan reputasi sebagai orang yang cakap dan mampu berbisnis. Kemudian kami mengalami kemerosotan besar dalam bisnis. Ini malah membuat saya lebih berharga karena saya adalah salah seorang yang terbaik dalam mendatangkan keuntungan bagi perusahaan. Perusahaan diorganisasi ulang, dan saya diberi saham dalam jumlah besar ditambah kenaikan gaji yang besar."

Jelaslah, dengan percaya kepada diri sendiri maka segala hal yang baik pasti mulai terjadi.

Otak Anda adalah "pabrik pikiran." Pabrik yang juga sibuk menghasilkan pikiran yang tak terhitung setiap jam.

Produksi di dalam pabrik pikiran Anda berada di ba wah pengawasan dua mandor, salah satunya kita sebut saja Tuan Kemenangan, dan yang satu lagi, Tuan Kekalahan. Tuan Kemenangan bertanggung jawab untuk menghasilkan pikiran-pikiran yang positif. Ia berspesialisasi menghasilkan alasan-alasan mengapa Anda dapat, mengapa Anda cakap, dan mengapa Anda akan berhasil.
Mandor yang satunya lagi, Tuan Kekalahan, menghasilkan pikiran negatif yang menurunkan nilai diri. Ia adalah ahli dalam mengembangkan alasan-alasan mengapa Anda tidak dapat, mengapa Anda lemah, me-ngapa Anda tidak memadai. Spesialisasinya adalah rangkaian pikiran "mengapa-Anda-akan-gagal."
Baik Tuan Kemenangan maupun Tuan Kekalahan sangat patuh kepada Anda. Mereka cepat menjalankan perintah. Yang perlu Anda lakukan untuk memberi isyarat kepada kedua mandor hanyalah kesiapan mental sedikit saja. Jika isyaratnya positif, Tuan Kemenangan akan melangkah maju dan segera bekerja. Begitu pula, isyarat negatif membuat Tuan Kekalahan melangkah maju.

Untuk melihat bagaimana kedua mandor ini bekerja untuk Anda, coba contoh ini. Katakan kepada diri sendri, "Hari ini benar-benar buruk," Ini mengisyaratkan Tuan Kekalahan untuk bertindak, dan ia pun menghasilkan sejumlah fakta untuk membuktikan bahwa Anda benar. Ia menyatakan bahwa hari ini terlalu panas, atau terlalu dingin; bisnis akan buruk hari ini, penjualan akan turun, orang lain akan gelisah, Anda mungkin jatuh sakit, istri Anda dalam suasana hati yang tidak menyenangkan. Tuan Kekalahan benar-benar efisien. Dalam beberapa saat saja, ia sudah membuktikan bahwa hari ini benar-benar buruk, dan sebelum Anda menyadarinya, ini benar-benar menjadi hari yang buruk sekali!

Akan tetapi, katakan kepada diri sendiri, "Hari ini hari baik," dan Tuan Kemenangan diisyaratkan untuk maju. Ia memberitahu Anda "Ini adalah hari yang baik sekali. Cuaca cerah. Hidup ini menyenangkan sekali." Walaupun turun hujan, ia akan mengatakan, "Betapa segarnya hujan ini. Ini membuat kita senang menjalani hidup ini. Hari ini Anda dapat mengejar sebagian kerja Anda." Dan pastilah hari ini ternyata memang hari yang benar-benar baik.

Dengan cara yang serupa, Tuan Kekalahan dapat memperlihatkan kepada Anda mengapa Anda tidak dapat berhasil. Tuan Kemenangan akan memperlihatkan kepada Anda bahwa Anda dapat. Tuan Kekalahan akan meyakinkan Anda bahwa Anda akan gagal, sementara Tuan Kemenangan akan memperlihatkan mengapa Anda akan berhasil.

Sekarang, semakin banyak pekerjaan yang Anda berikan kepada salah satu dari kedua orang mandor ini semakin kuat ia jadinya. Jika Tuan Kekalahan diberi banyak pekerjaan, ia mengambil tempat lebih banyak di dalam otak Anda. Akhirnya, ia akan mengambil alih seluruh divisi pembuat pikiran, dan hampir semua pikiran akan menjadi bersifat negatif.

Satu-satunya tindakan yang bijaksana adalah memecat Tuan Kekalahan. Anda tidak membutuhkannya. Anda tidak menginginkan dia berada di dekat Anda sambil mengatakan kepada Anda bahwa Anda tidak dapat, bahwa Anda tidak dapat mengerjakannya, bahwa Anda akan gagal, dan seterusnya. Tuan Kekalahan tidak akan membantu Anda tiba di tempat yang Anda tuju, maka pecat saja dia. Gunakan Tuan Kemenangan seratus persen selalu. Ketika ada pikiran memasuki benak Anda, minta Tuan Kemenangan agar bekerja untuk Anda. Ia akan memperlihatkan bagaimana Anda dapat berhasil.

Jangan percaya kepada si pesimis yang takut akan Abad Atom. Katakan kepadanya bahwa ini adalah waktu yang paling menyenangkan untuk menjalani hidup. Katakan kepadanya tentang industri baru, terobosan ilmiah baru, pasar yang semakin luas – semua berarti peluang. Ini adalah berita baik.

Sesungguhnya, semua isyarat menunjuk ke arah permintaan akan orang-orang tingkat tertinggi di dalam setiap bidang–orang-orang yang mempunyai kemampuan superior untuk mempengaruhi orang lain, untuk mengarahkan kerja mereka, untuk melayani mereka dalam kapasitas kepemimpinan. Dan orang-orang yang akan mengisi posisi pemimpin ini adalah semua orang dewasa atau yang menjelang dewasa sekarang ini. Salah seorang dari mereka adalah Anda.

Jaminan adanya "boom" tentu saja bukanlah jaminan akan keberhasilan pribadi. Selama beberapa dasawarsa, Amerika Serikat selalu mengalami "boom." Akan tetapi, secara sekilas saja tampak bahwa ratusan ribu orang – sebenarnya, mayoritas dari mereka – memang berjuang tetapi tidak pernah benar-benar berhasil. Kebanyakan tetap biasa-biasa saja walaupun peluang semakin banyak selama dua dasawarsa terakhir. Dan di dalam periode "boom" yang mendatang, kebanyakan orang akan terus khawatir, takut, merangkak menjalani kehidupan dengan merasa diri tidak penting, tidak dihargai, tidak mampu mengerjakan apa yang mereka ingin kerjakan.
Akibatnya, prestasi mereka hanya akan menghasilkan ganjaran yang kecil, kebahagiaan yang kecil. Mereka yang mengubah peluang menjadi penghasilan (dan saya secara tulus percaya Anda adalah salah seorang dari mereka, karena kalau tidak maka anda tidak akan mau repot-repot membaca buku ini) adalah orang bijaksana yang belajar bagaimana berpikir sendiri untuk berhasil.

Masuklah. Pintu menuju keberhasilan terbuka lebih lebar daripada yang pernah terjadi sebelumnya. Catatlah bahwa Anda akan bergabung dengan kelompok pilihan yang akan mendapatkan yang diinginkan dalam hidup ini. Inilah langkah pertama menuju keberhasilan. Inilah langkah dasar. Langkah ini tidak dapat dihindari. Langkah Satu: Percayalah kepada diri sendiri, percayalah Anda dapat berhasil.

Bagaimana Mengembangkan Kekuatan Kepercayaan

Berikut ini adalah tiga pedoman untuk mendapatkan dan mengokohkan kekuatan kepercayaan:

1. Berpikir Sukses, jangan berpikir gagal. Di tempat kerja, dan di rumah, gantilah berpikir gagal dengan berpikir sukses. Sewaktu menghadapi situasi yang sulit, berpikirlah, "Saya akan menang," bukan "Saya akan kalah." Ketika Anda bersaing dengan orang lain, berpikirlah, "Saya sama dengan yang terbaik," bukan "Saya tidak masuk hitungan." Jika peluang muncul, berpikirlah "Saya dapat melakukannya," jangan pernah berpikir "Saya tidak dapat."
Biarkan pikiran utama "Saya-akan-berhasil" mendominasi proses berpikir Anda. Berpikir sukses mengkondisi-kan pikiran Anda untuk rencana yang menghasilkan keberhasilan. Berpikir gagal mengerjakan yang persis berlawanan. Berpikir gagal mengkon-disikan pikiran memikirkan pikiran-pikiran lain yang menghasilkan kegagalan.

2.Ingatkan diri Anda secara teratur bahwa Anda lebih baik daripada yang Anda kira. Orang yang sukses bukanlah orang yang super. Sukses tidak mensyaratkan super-intelek. Juga tidak ada yang mistis mengenai sukses. Sukses tidak didasarkan pada nasib. Orang yang sukses hanyalah orang biasa yang telah mengembangkan kepercayaan kepada diri sendiri dan apa yang mereka kerjakan. Jangan pernah mengakui keraguan Anda atau mengesankan kepada orang lain bahwa Anda bukan orang kelas satu.

3.Percaya Besar. Besar-kecilnya keberhasilan Anda ditentukan oleh besar-kecilnya kepercayaan Anda. Pikirkanlah tujuan-tujuan yang kecil, maka harapkanlah hasil-hasil yang kecil pula. Pikirkanlah tujuan-tujuan yang besar dan dapatkan keberhasilan besar. Ingat ini pula. Gagasan besar dan rencana besar acap kali lebih mudah – yang pasti tidak lebih sulit – dibandingkan gagasan kecil dan rencana kecil. Ralph J. Cordiner, Ketua Dewan General Electric Company, mengatakan hal ini di dalam konferensi kepemimpinan: "... Kita memerlukan dari setiap orang yang bercita-cita menjadi pemimpin – untuk dirinya sendiri dan perusahaannya – suatu tekad untuk menjalankan program pribadi pengembangan diri. Tak seorang pun akan memerintahkan seseorang untuk berkembang . . . Apakah seseorang tertinggal di belakang atau bergerak maju di dalam bidangnya adalah masalah ketekunan pribadinya sendiri. Ini membutuhkan waktu, kerja dan pengorbanan. Tak seorang pun dapat melakukannya untuk Anda."

Advis Cordiner sehat dan praktis. Hayatilah. Orang-orang yang mencapai puncak di dalam manajemen perusahaan, penjualan, rekayasa, kerja keagamaan, penulisan, akting, dan di dalam bidang-bidang lain tiba di sana dengan mengikuti secara sadar dan terus menerus suatu rencana untuk pengembangan dan pertumbuhan diri.

Program pelatihan apa pun – dan buku ini adalah program pelatihan demikian – harus melakukan tiga hal. Program tersebut harus memberikan isi, apa yang harus dilakukan. Kedua, program tersebut harus menyediakan metode, bagaimana mengerjakannya. Dan ketiga, program tersebut harus memenuhi tes pembuktian, yaitu mendatangkan hasil.

Unsur apa dari program pelatihan pribadi Anda untuk mendapatkan keberhasilan dibangun atas sikap dan teknik orang-orang yang sukses. Bagaimana mereka mengatasi rintangan? Bagaimana mereka menimbulkan respek dari orang lain? Apa yang memisahkan mereka dari orang biasa? Bagaimana mereka berpikir?

Unsur bagaimana dari rencana Anda untuk pengembangan dan pertumbuhan diri adalah serangkaian pedoman konkret untuk bertindak. Ini didapatkan di dalam tiap bab. Pedoman ini manjur. Terapkan pedoman tersebut dan lihat sendiri hasilnya?
Bagaimana dengan bagian terpenting dari pelatihan – hasil?
Penerapan secara cermat program yang disajikan di sini akan membawa keberhasilan kepada Anda pada skala yang sekarang mungkin tampak tidak mungkin. Dirinci menjadi komponennya, program pelatihan pribadi Anda untuk sukses akan memberi Anda serangkaian ganjaran: ganjaran berupa respek yang lebih dalam dari keluarga Anda, kekaguman dari teman dan rekan sekerja Anda, perasaan berguna, perasaan menjadi seseorang, mempunyai status, penghasilan yang meningkat dan standar hidup yang lebih tinggi.

Pelatihan Anda dilakukan sendiri. Tidak akan ada orang yang mengawasi Anda, yang mengatakan apa yang harus Anda kerjakan, dan bagaimana mengerjakannya. Buku ini akan menjadi pedoman Anda, tetapi hanya Anda sendirilah yang dapat mengerti diri Anda. Hanya anda yang dapat memerintahkan diri Anda untuk menerapkan pelatihan ini. Hanya anda yang dapat mengecek kemajuan Anda. Hanya anda yang dapat mengambil tindakan koreksi seandainya sedikit menyimpang. Singkatnya, Anda akan melatih diri Anda sendiri untuk mencapai keberhasilan yang lebih besar dan semakin besar.

Anda sudah mempunyai laboratorium dengan peralatan lengkap di mana Anda dapat bekerja dan belajar. Laboratorium Anda ada di sekeliling Anda. Labo ratorium Anda terdiri atas manusia. Laboratorium mi menyuplai Anda dengan tiap kemungkinan contoh tindakan manusia. Dan tidak ada batas untuk apa yang dapat Anda pelajari segera sesudah Anda memandang diri Anda sebagai ilmuwan di dalam laboratorium Anda sendiri. Dan yang lebih penting, tidak ada yang harus dibeli. Tidak ada sewa yang harus dibayar. Tidak ada ongkos apa pun. Anda dapat menggunakan laboratorium ini sesuka Anda, dan gratis.

Sebagai direktur dari laboratorium milik Anda sendiri, Anda akan ingin melakukan apa yang dilakukan oleh tiap ilmuwan: Mengamati dan bereksperimen. Kebanyakan orang mengerti begitu sedikit tentang mengapa orang bertindak sebagaimana yang mereka perbuat, walaupun mereka dikelilingi oleh banyak orang sepanjang hidup mereka. Alasannya adalah, kebanyakan orang bukan pengamat yang terlatih. Salah satu tujuan penting dari buku ini adalah membantu Anda melatih diri Anda untuk mengamati; untuk mengembangkan wawasan ke dalam tindakan manusia. Anda akan ingin mengajukan pertanyaan kepada diri Anda seperti, "Mengapa ada orang yang mempunyai banyak teman, dan yang lain hanya mempunyai sedikit teman?" "Mengapa John begitu berhasil, dan Tom hanya biasa-biasa saja?" "Mengapa orang akan senang sekali menerima apa yang dikatakan oleh seseorang kepada mereka, tetapi mengabaikan orang lain yang mengatakan hal yang sama kepada mereka?"

Segera sesudah terlatih, Anda akan memperoleh pelajaran yang berharga hanya melalui proses mengamati yang sangat sederhana. Di sini diketengahkan dua saran khusus untuk membantu Anda menjadikan diri Anda pengamat yang terlatih. Pilih untuk studi khusus ini dua orang yang paling berhasil dan paling tidak berhasil yang Anda kenal. Kemudian, amati seberapa dekat teman Anda yang sukses mengikuti prinsip-prinsip keberhasilan. Perhatikan pula bagaimana mempelajari kedua ekstrem akan membantu Anda melihat kebijaksanaan yang tidak mungkin salah dalam mengikuti kebenaran yang diikhtisarkan di dalam buku ini.

Setiap kontak yang Anda buat dengan orang lain memberi Anda kesempatan untuk melihat prinsip pengembangan keberhasilan yang sedang bekerja. Sasaran Anda adalah membuat tindakan sukses menjadi suatu kebiasaan. Semakin banyak kita berlatih, semakin cepat menjadi sifat kedua untuk bertindak dengan cara yang diinginkan.

Kebanyakan dari kita mempunyai teman yang suka berkebun. "Menyenangkan sekali menyaksikan tanaman bertumbuh," kata mereka. "Lihat bagaimana tanaman berespons terhadap sinar matahari dan hujan. Lihat bagaimana mereka bertumbuh sejak Anda melihat mereka minggu lalu."

Yang pasti, mengasyikkan sekali menyaksikan apa yang terjadi ketika manusia bekerja sama dengan alam secara seksama. Akan tetapi, ini tidak ada sepersepuluh mengasyikannya dibandingkan menyaksikan diri Anda berespons terhadap program manajemen-pikiran yang dilaksanakan secara cermat. Menyenangkan sekali untuk merasakan diri Anda bertumbuh semakin percaya diri, semakin efektif, semakin berhasil hari demi hari, bulan demi bulan. Tidak ada – sama sekali tidak ada – di dalam hidup ini yang memberi Anda kepuasan lebih besar dibandingkan mengetahui bahwa Anda berada pada jalan menuju sukses dan pencapaian. Dan tidak ada yang berdiri sebagai tandatangan yang lebih besar daripada memanfaatkan diri Anda sepenuhnya. Di bawah ini adalah tiga gagasan yang akan membantu Anda mendapatkan manfaat maksimum dari buku ini:

1.Baca seluruh buku sesegera mungkin. Akan tetapi, jangan membacanya dengan terlalu cepat. Biarkan tiap gagasan dan tiap prinsip meresap sehingga Anda dapat melihat secara persis bagaimana gagasan dan prinsip tersebut berlaku bagi Anda.

2.Berikutnya, habiskan satu minggu untuk mempelajari, benar-benar mempelajari, tiap bab. Rencana yang bagus sekali adalah menuliskan di atas sepotong kartu kecil prinsip yang diringkas pada akhir tiap bab. Tiap pagi selama seminggu katakan kepada diri Anda sendiri, "Hari ini, saya akan menerapkan prinsip-prinsip ini." Kemudian, baca ulang. Bawa kartu tersebut bersama Anda. Sepanjang hari bersangkutan baca kartu tersebut beberapa kali. Tiap malam tinjau seberapa baik Anda sudah berhasil dalam menerapkan tiap prinsip. Buat resolusi untuk bekerja lebih baik lagi besok.

3. Sesudah Anda menghabiskan waktu seminggu dengan tiap bab, baca ulang buku tersebut sedikitnya satu kali sebulan selama setahun. Tiap kali Anda membacanya, evaluasi prestasi Anda sendiri. Siaplah selalu untuk membuat perbaikan lebih jauh dalam diri Anda.

Dan berjanjilah untuk melatih diri Anda sesuai jadwal, suatu jadwal yang pasti. Kebanyakan orang merasa terganggu secara fisik jika mereka melewatkan waktu makan atau menukar aktivitas siang mereka dengan aktivitas malam. Luangkan sejumlah waktu yang pasti tiap hari untuk melatih diri Anda dalam prinsip-prinsip keberhasilan.

Jika bermanfaat, mari kita saling berbagi informasi dengan like dan share.


Sembuhkan Diri Anda dari Dalih, Penyakit Kegagalan

Post sebelumnya Percaya Anda dapat berhasil maka Anda pun akan benar-benar berhasil sudah saya tampilkan ini adalah kelanjutan ceritanya.

Pelajarilah manusia sementara Anda berpikir untuk berhasil. Pelajari mereka secara sangat cermat untuk menemukan mengapa mereka berhasil, dan kemudian terapkan prinsip penghasil sukses pada kehidupan Anda sendiri. Mulailah segera. Perdalamlah studi Anda mengenai manusia, dan Anda akan menemukan bahwa orang yang tidak sukses menderita penyakit pikiran yang mematikan pikiran. Kita menyebut penyakit ini penyakit dalih (excusitis) atau penyakit kegagalan.

Setiap orang gagal mengidap penyakit ini dalam tahap lanjut, dan kebanyakan orang "rata-rata" pernah setidaknya mengalami serangan ringan penyakit ini. Anda akan mendapatkan bahwa dalih menjelaskan perbedaan antara orang yang mengalami kemajuan dan orang yang tidak. Anda akan mendapatkan bahwa semakin berhasil orang bersangkutan, semakin kurang cenderung ia membuat dalih.

Orang yang tidak pernah ke mana-mana, dan tidak mempunyai rencana untuk tiba di suatu tempat selalu mempunyai setumpuk dalih untuk menjelaskan mengapa. Orang dengan prestasi sedang-sedang saja cepat sekali menjelaskan mengapa mereka belum berhasil, mengapa mereka tidak berhasil, mengapa mereka tidak dapat berhasil, dan mengapa mereka bukan orang yang berhasil.

Pelajari kehidupan orang yang sukses, maka Anda akan menemukan kebenaran ini – bahwa semua dalih yang dibuat oleh orang yang sedang-sedang saja boleh jadi ada, tetapi tidak dibuat oleh orang yang sukses. Saya tidak pernah bertemu atau mendengar tentang seorang eksekutif bisnis, perwira militer, wiraniaga, tokoh profesional yang sangat sukses atau pemimpin dalam bidang apa pun yang tidak dapat menemukan satu atau lebih dalih besar untuk mereka bersembunyi di belakangnya.

Roosevelt dapat saja bersembunyi di balik tungkainya yang lumpuh; Truman dapat saja menggunaan dalih "tidak berpendidikan perguruan tinggi;" dan Eisenhower dapat saja bersembunyi di balik serangan jantung yang dideritanya. Seperti semua penyakit, penyakit dalih menjadi semakin buruk jika tidak diobati dengan tepat dan segera.

Korban dari penyakit pikiran ini mengalami proses mental berikut ini: "Saya tidak bekerja sebaik yang seharusnya. Apa yang dapat saya gunakan sebagai alibi yang akan membantu saya supaya tidak kehilangan muka? Coba kita lihat, kesehatan yang buruk? kurangnya pendidikan? terlalu tua? terlalu muda? nasib buruk? kesialan pribadi? istri? cara keluarga membesarkan saya?" Segera sesudah korban penyakit kegagalan ini memilih dalih yang "bagus," ia hidup bersama dalih tersebut. Kemudian, ia mengandalkan dalih tersebut untuk menjelaskan kepada dirinya sendiri dan orang lain mengapa ia tidak maju-maju. Dan tiap kali korbannya membuat dalih, dalih tersebut menjadi tertanam lebih dalam di dalam pikiran bawah sadarnya.

Pikiran, positif atau negatif, semakin kuat jika dipupuk dengan pengulangan terus menerus. Pada mulanya, korban penyakit dalih mengetahui alibinya sedikit banyak merupakan kebohongan. Akan tetapi, semakin sering ia mengulanginya, semakin yakin ia jadinya bahwa dalih itu benar sepenuhnya, dan bahwa alibi tersebut adalah alasan sebenarnya mengapa ia tidak berhasil seperti yang seharusnya. Prosedur Satu, dalam program individual Anda untuk berpikir sukses, ialah memberi vaksin diri Anda terhadap penyakit dalih, penyakit kegagalan. Dalih muncul dalam bermacam bentuk, tetapi jenis yang terburuk dari penyakit ini adalah dalih kesehatan, dalih inteligensi, dalih usia, dan dalih nasib. Sekarang, mari kita lihat bagaimana kita dapatmelindungi diri dari keempat penyakit yang lazim ini.

Empat Bentuk Dalih yang Paling Lazim

Pertama, Tetapi Kesehatan Saya Buruk. Dalih kesehatan berkisar dari "Saya merasa tidak enak badan,"hingga yang lebih spesifik "Ada yang tidak beres de- ngan diri saya."

Kesehatan yang "buruk," di dalam ribuan bentuknya yang berbeda, digunakan sebagai dalih untuk kegagalan melakukan apa yang seseorang ingin lakukan, kegagalan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar, kegagalan untuk menghasilkan uang lebih banyak, kegagalan untuk mencapai keberhasilan.

Jutaan orang menderita dalih kesehatan. Namun, dalam kebanyakan kasus, apakah ini merupakan dalih yang sah? Pikirkan sejenak tentang semua orang yang sangat berhasil yang Anda kenal yang dapat – tetapi tidak mau – menggunakan kesehatan sebagai dalih. Teman-teman saya yang menjadi dokter atau ahli bedah mengatakan kepada saya bahwa tidak ada orang yang memiliki kesehatan sempurna. Ada sesuatu yang kurang beres pada fisik semua orang. Banyak yang menyerah sepenuhnya atau sebagian kepada dalih kesehatan, tetapi orang yang berpikiran sukses tidak.

Dua pengalaman terjadi pada diri saya pada suatu siang yang mengilustrasikan sikap yang benar dan sikap yang salah terhadap kesehatan. Saya baru saja selesai memberikan ceramah ketika seorang berusia sekitar tiga puluh tahun meminta untuk berbicara dengan saya secara empat mata. Ia memuji ceramah saya, tetapi kemudian berkata, "Saya khawatir gagasan Anda tidak banyak berguna buat saya. Kebetulan jantung saya lemah, dan saya harus sering-sering memeriksakan diri ke dokter." Ia menjelaskan bawa ia sudah menemui empat orang dokter, tetapi mereka tidak dapat menemukan penyakitnya. Ia meminta saran saya tentang apa yang harus ia lakukan. "Baiklah," saya berkata, "Saya tidak tahu apa-apa tentang jantung, tetapi sebagai sesama orang awam, ada tiga hal yang akan saya kerjakan. Pertama, saya akan mengunjungi spesialis jantung terbaik yang dapat saya temui, dan menerima diagnosisnya sebagai keputusan final. Anda sudah mengecek dengan empat dokter dan tak seorang pun menemukan sesuatu yang aneh dengan jantung Anda. Biarkan dokter kelima menjadi dokter terakhir yang memberikan keputusan. Kemungkinan besar jantung Anda memang sehat. Namun, jika Anda terus khawatir tentangnya, akhirnya Anda mungkin benar-benar mengidap penyakit jantung yang serius. Mencari-cari penyakit akhirnya sering benar-benar menyebabkan Anda malah mengidapnya.

"Kedua, saya akan menganjurkan Anda membaca buku bagus karya Dr. Schindler, How to Live 365 Days a Year. Dr. Schindler memperlihatkan di dalam buku ini bahwa tiga dari empat ranjang di rumah sakit diisi oleh orang yang mengidap EII – Emotionally Induced Illness (penyakit yang disebabkan oleh emosi). Bayangkan, tiga dari empat orang yang sakit sekarang ini akan sehat jika mereka sudah belajar bagaimana menangani emosi mereka. Baca buku Dr. Schindler dan kembangkan progam Anda untuk manajemen emosi.

Ketiga, saya bertekad untuk hidup sampai saya mati. "Saya terus menjelaskan kepada orang yang menderita ini beberapa nasihat yang saya terima bertahun-tahun lalu dari seorang teman saya, seorang pengacara, yang mengidap penyakit TBC. Pengacara ini tahu bahwa ia harus menjalani hidup yang terbatas oleh banyak aturan, tetapi hal ini tidak pernah menghentikannya menjalankan praktek hukum, menghidupi keluarga yang baik, dan benar-benar menikmati hidup. Teman saya, yang kini berusia 78 tahun, inengekspresikan filosofinya dengan kata-kata ini: "Saya akan hidup hingga saya mati, dan saya tidak akan mencampur aduk hidup dan mati. Sementara saya masih ada di muka bumi ini saya akan terus hidup. Mengapa harus hanya setengah hidup? Setiap menit yang dihabiskan orang untuk khawatir soal kematian sama saja orang itu sudah mati selama satu menit itu."

Pada saat itu saya harus pergi untuk mengejar pesawat. Di dalam pesawat terbang pengalaman kedua yang jauh lebih menyenangkan terjadi. Sesudah ke-bisingan selama lepas landas, saya mendengar bunyi berdetik. Dengan heran, saya melirik pria yang duduk di sebelah saya, karena bunyi itu tampaknya berasal darinya.

Ia tersenyum lebar, dan berkata. "Oh, ini bukan bom. Ini cuma jantung saya." Saya jelas tampak bingung, maka ia pun melanjutkan mengatakan kepada saya apa yang sudah terjadi. Tiga minggu lalu ia menjalani operasi di mana dokter memasang katup plastik ke dalam jantungnya. Bunyi berdetik tersebut, ia menjelaskan, akan berlanjut selama beberapa bulan hingga jaringan baru tumbuh menutupi katup buatan tersebut. Saya bertanya apakah yang akan ia lakukan. "Oh," katanya, "saya punya beberapa rencana besar. Saya akan belajar hukum sekembalinya saya ke Minnesota. Suatu hari nanti saya berharap dapat bekerja di pemerintahan. Dokter mengatakan saya harus bersantai selama beberapa bulan, tetapi sesudah itu saya akan menjadi seperti baru lagi."

Nah, Anda mempunyai dua cara untuk menghadapi masalah kesehatan. Orang yang pertama, yang bahkan tidak yakin bahwa ada yang tidak beres dengan fisiknya, merasa khawatir, depresi, dalam perjalanan menuju kekalahan, menginginkan seseorang untuk menyokong bahwa ia tidak dapat bergerak maju. Orang kedua, sesudah menjalani operasi yang sangat sulit, tetap optimistis, berhasrat mengerjakan sesuatu. Perbedaannya terletak pada bagaimana mereka berpikir tentang kesehatan!

Saya pernah mempunyai pengalaman yang sangat langsung dengan dalih kesehatan. Saya menderita diabetes. Sesudah mengetahui saya mengidap penyakit ini, saya diperingatkan, "Diabetes adalah penyakif fisik; tetapi kerusakan terbesar ditimbulkan karena sikap negatif terhadap penyakit ini. Khawatirlah tentang penyakit ini maka Anda akan benar-benar mengalami kesulitan." Dengan sendirinya, sejak tahu tentang penyakit diabetes yang saya idap, saya harus mengenal banyak penderita diabetes lain. Saya akan ceritakan kepada Anda tentang dua ekstrem. Seorang teman yang mengidap penyakit yang ringan termasuk ke dalam kelompok yang hidup merana. Terobsesi oleh ketakutan akan cuaca, ia biasanya secara menggelikan mengenakan pakaian tebal. Ia takut bekerja terlalu keras sehingga ia hampir tidak melakukan apa pun. Ia menghabiskan sebagian besar energi mentalnya untuk khawatir tentang apa yang mungkin terjadi. Ia membosankan orang lain dengan menceritakan kepada mereka "betapa mengerikan" penyakitnya. Penyakitnya yang sebenarnya bukanlah diabetes. Ia adalah korban dari dalih kesehatan. Ia mengasihani diri hingga menjadi invalid.

Ekstrem yang lain adalah seorang manajer divisi di sebuah perusahaan penerbitan besar. Ia mengidap penyakit yang serius: ia menggunakan insulin kira-kira 30 kali lebih banyak daripada orang yang pertama tadi. Tetapi, ia tidak hidup untuk menjadi sakit. Ia hidup untuk menikmati pekerjaannya dan bersenang-senang. Suatu hari ia berkata kepada saya, "Memang sulit, tetapi begitu juga bercukur, bukan? Itulah sebabnya saya tidak akan berpikir untuk tiduran saja di ranjang. Ketika saya disuntik, saya memuji orang yang menemukan insulin."

Seorang teman baik saya, profesor perguruan tinggi yang terkenal, pulang dari Eropa pada tahun 1945, kehilangan satu lengannya. Walaupun cacat, John selalu tersenyum dan membantu orang lain yang kurang beruntung. Ia sama optimisnya dengan siapa saja yang saya kenal. Suatu hari saya dan dia berbicara panjang lebar tentang cacat yang dialaminya.
"Itu cuma satu lengan," katanya. "Tentu saja dua lebih baik dari satu. Tetapi mereka cuma memotong satu lengan saya. Semangat saya seratus persen utuh. Saya bersyukur untuk itu." Seorang teman saya yang juga berlengan satu adalah seorang pemain golf yang ulung. Suatu hari saya bertanya kepadanya bagaimana ia mampu mengembangkan suatu gaya yang nyaris sempurna dengan hanya satu tangan. Saya katakan kepadanya bahwa banyak pegolf dengan dua lengan tidak dapat melakukan sebaik dirinya. Jawabannya adalah, "Menurut pengalaman saya, satu lengan dan sikap yang tepat akan selalu mengalahkan dua lengan dengan sikap yang salah."

Ia benar. Sikap yang tepat dan satu lengan akan selalu mengalahkan sikap yang salah dan dua lengan. Pikirkan tentang pernyataan itu sejenak. Hal ini berlaku tidak hanya di lapangan golf, tetapi juga di dalam setiap segi kehidupan.

Empat Hal yang Dapat Anda Lakukan untuk Menaklukkan Dalih Kesehatan

Vaksin terbaik untuk mencegah dalih kesehatan terdiri atas empat dosis:
Jangan berbicara tentang kesehatan Anda. Semakin Anda berbicara mengenai suatu penyakit, bahkan cuma pilek, semakin buruk tampaknya penyakit itu. Berbicara tentang cuaca buruk sama seperti menaburkan pupuk di atas rumput. Selain itu, berbicara tentang kesehatan Anda adalah kebiasaan yang buruk. Kebiasaan ini membosankan orang lain. Kebiasaan ini membuat Anda tampak egosentris dan nyinyir. Orang yang berpikiran sukses mengalahkan kecenderungan alami untuk berbicara tentang kesehatan mereka yang "buruk." Orang mungkin (saya tekankan mungkin) mendapatkan sedikit simpati, tetapi ia tidak mendapatkan respek dan loyalitas dengan menjadi pengeluh kronis.

Jangan khawatir tentang kesehatan Anda. Dr. Walter Alvarez, pensiunan konsultan untuk Mayo Clinic yang terkenal di dunia, belum lama ini menulis: "Saya selalu meminta kepada orang-orang yang suka cemas untuk melatih kendali diri. Sebagai contoh, ketika saya melihat laki-laki ini, (orang yang yakin bahwa dirinya mengidap penyakit kandung empedu walaupun delapan pemeriksaan sinar-X yang terpisah memperlihatkan bahwa organ tersebut sepenuhnya normal) saya memintanya berhenti meminta agar kandung empedunya diperiksa dengan sinar-X. Saya meminta ratusan orang yang khawatir mengenai jantung mereka untuk berhenti menjalani elektrokardiogram." Bersyukurlah secara tulus bahwa kesehatan Anda baik sebagaimana adanya. Ada sebuah pepatah kuno yang pantas diulang: "Saya merasa kasihan kepada diri sendiri karena saya mempunyai sepatu butut hingga saya bertemu dengan orang yang tidak mempunyai kaki." Daripada mengeluh tentang "perasaan tidak enak badan," jauh lebih baik bersyukur bahwa Anda sehat sebagaimana adanya sekarang. Hanya dengan bersyukur akan kesehatan yang Anda miliki merupakan vaksinasi yang manjur terhadap berkembangnya penyakit baru dan penyakit yang sesungguhnya.

Sering-sering ingatkan diri Anda: "Jauh lebih baik letih karena bekerja daripada letih karena menganggur." Hidup adalah untuk dinikmati. Jangan disia-siakan. Jangan melewatkan hidup dengan berpikir diri Anda akan berbaring di ranjang rumah sakit.

Tetapi Anda Harus Mempunyai Otak yang Cerdas untuk Berhasil. Dalih inteligensi atau "Saya kurang cerdas" adalah lazim. Sebenarnya, dalih ini begitu lazim sehingga barangkali hingga 95 persen dari orang di sekeliling kita mengidapnya dalam pelbagai tingkat. Berbeda dengan kebanyakan jenis dalih lain, orang yang menderita jenis penyakit khusus ini menderita dalam diam. Tidak banyak orang mau mengakui secara terbuka bahwa mereka merasa kurang cerdas. Mereka lebih suka merasakannya sendiri jauh di dalam.

Kebanyakan dari kita membuat dua kesalahan dasar sehubungan dengan inteligensi:

1. Kita meremehkan kekuatan otak kita, dan
2. Kita terlalu menganggap hebat kekuatan otak, orang lain.

Karena kedua kesalahan ini, banyak orang sering merendahkan nilai diri mereka sendiri. Mereka gagal menghadapi situasi yang menantang karena merasa bahwa untuk itu "diperlukan otak yang cerdas." Akan tetapi, kemudian datanglah orang yang tidak peduli mengenai inteligensi, dan ia mendapatkan pekerjaan itu.

Yang penting sebenarnya bukanlah berapa banyak inteligensi yang Anda miliki, tetapi bagaimana Anda menggunakan apa yang benar-benar Anda punyai. Pikiran yang memandu inteligensi Anda jauh lebih penting daripada kuantitas kekuatan otak Anda. Biarlah saya ulangi sekali lagi, karena ini sangat penting – pikiran yang memandu inteligensi Anda jauh lebih penting daripada berapa banyak inteligensi yang mungkin Anda punyai.

Dalam menjawab pertanyaan, "Haruskah anak anda menjadi seorang ilmuwan?" Dr. Edward Teller, salah seorang ahli ilmu fisika terkemuka, berkata, "Anak tidak memerlukan otak yang dapat berpikir cepat agar menjadi ilmuwan, ia juga tidak memerlukan ingatan yang menakjubkan, dan juga tidak perlu bahwa ia harus mendapatkan nilai yang sangat tinggi di sekolah. Satu-satunya hal yang penting adalah si anak mempunyai tingkat minat yang tinggi akan ilmu pengetahuan."

Minat, antusiasme – itulah faktor yang sangat penting bahkan di dalam ilmu pengetahuan!
Dengan sikap yang positif, optimistis dan kooperatif seseorang dengan IQ 100 akan berpenghasilan lebih besar, mendapatkan respek lebih besar dan mencapai keberhasilan lebih besar dibandingkan orang yang negatif, pesimistis, dan tidak kooperatif dengan IQ 120.
Jika Anda mempunyai cukup ketekunan untuk bertahan pada sesuatu – tugas atau proyek – hing-ga-selesai, maka Anda jauh lebih baik daripada orang dengan inteligensi yang menganggur, walaupun inteligensi itu mungkin mendekati genius. Ketekunan adalah 95 persen dari kemampuan.
Pada suatu acara reuni tahun lalu, saya bertemu seorang teman kuliah yang sudah sepuluh tahun tidak berjumpa. Chuck adalah mahasiswa yang sangat cerdas dan lulus dengan mendapat kehormatan. Tujuannya ketika saya terakhir kali bertemu dengannya adalah memiliki perusahaan sendiri.
Saya bertanya kepada Chuck perusahaan apa yang akhirnya ia dirikan. "Ah," ia mengakui, "saya tidak jadi mendirikan perusahaan sendiri. Saya tidak akan mengakui hal ini kepada siapa pun lima tahun yang lalu, atau bahkan satu tahun yang lalu, tetapi sekarang saya siap membicarakannya.
"Mengingat kembali pendidikan saya di perguruan tinggi, saya melihat bahwa saya menjadi ahli dalam mengetahui mengapa perusahaan yang akan saya dirikan tidak akan berhasil. Saya pelajari semua perangkap yang dapat dimengerti, setiap alasan mengapa suatu perusahaan kecil akan gagal. 'Anda harus mempunyai modal besar.' 'Pastikan bahwa daur bisnisnya benar.' 'Apakah ada permintaan besar untuk apa yang akan Anda tawarkan?' 'Apakah industri lokal stabil?' – seribu satu macam hal harus diperiksa. "Yang paling menyakitkan adalah bahwa ebera-pa dari teman sekolah saya yang lama yang tampaknya tidak terlalu pandai, dan bahkan tidak kuliah di perguruan tinggi, sekarang sudah sangat mapan di dalam perusahaan yang mereka dirikan sendiri. Tetapi saya, saya hanya berjalan terseret-seret, mengaudit pengiriman barang. Seandainya saya dilatih lebih baik dalam hal mengapa perusahaan kecil dapat berhasil, saya pasti akan menjadi jauh lebih baik sekarang ini, dalam segala hal." Pikiran yang memandu inteligensi Chuck jauh lebih penting daripada besarnya inteligensi Chuck.

Mengapa beberapa orang yang brilian gagal?
Saya sudah lama kenal dekat dengan seorang pria yang memenuhi syarat sebagai seorang genius, yang mempunyai inteligensi abstrak yang tinggi. Walaupun inteligensinya sangat tinggi, ia adalah salah satu dari orang paling tidak berhasil yang saya kenal. Ia mempunyai pekerjaan tingkat menengah (ia takut akan tanggung jawab). Ia tidak pernah menikah (ia dibuat takut oleh angka perceraian yang tinggi). Ia hanya mempunyai sedikit teman (orang bosan dengannya). Ia tidak pernah menaruh investasi dalam bidang properti jenis apa pun (ia takut kehilangan uangnya). Orang ini menggunakan kekuatan otaknya yang hebat untuk membuktikan mengapa segalanya tidak akan berhasil, bukannya mengarahkan kekuatan mentalnya dalam mencari cara-cara untuk berhasil.

Karena cara berpikir negatif yang memandu otaknya yang hebat, orang ini sedikit sekali memberikan sumbangan dan tidak menghasilkan apa pun. Dengan sikap yang berubah, ia sebenarnya dapat mengerjakan hal-hal besar. Ia mempunyai otak yang cerdas yang dapat menjadi dasar bagi keberhasilan yang luar biasa, tetapi sayangnya, ia tidak mempunyai kekuatan pikiran.

Seorang lain lagi yang saya kenal terkena wajib militer segera sesudah mendapatkan gelar Ph.D.nya. Bagaimana ia menjalani tahun-tahunnya di Angkatan Darat? Bukan sebagai seorang perwira. Bukan sebagai staf ahli. Alih-alih, ia mengemudi truk. Mengapa? Karena dirinya dipenuhi sikap negatif terhadap sesama serdadu ("Saya lebih unggul daripada mereka"), terhadap metode angkatan darat dan prosedur ("Mereka bodoh"), terhadap disiplin ("Itu untuk orang lain, bukan untuk saya"), terhadap segalanya, termasuk dirinya sendiri ("Saya bodoh karena tidak memikirkan cara untuk melepaskan diri dari hukuman ini").

Ia tidak mendapatkan respek dari siapa pun. Semua pengetahuannya yang besar terkubur. Sikapnya yang negatif mengubahnya menjadi pelayan. Ingat, cara berpikir yang memandu inteligensi Anda jauh lebih penting dari berapa banyak inteligensi yang Anda miliki. Bahkan gelar Ph.D. tidak dapat mengalahkan prinsip sukses dasar ini!
Phil, seorang teman saya, adalah salah seorang dari pejabat senior di sebuah biro iklan besar. Sebagai direktur penelitian pemasaran untuk biro tersebut, ia melakukan pekerjaan kelas satu.
Namun, Phil bukan orang yang "cerdas." Sama sekali bukan. Ia hampir tidak tahu apa-apa mengenai teknik penelitian. Ia bukan lulusan perguruan tinggi (walaupun orang-orang yang bekerja untuknya semua memiliki gelar). Dan Phil tidak berpura-pura mengetahui semua sisi teknis dari penelitian. Lalu apa yang memungkinkannya memperoleh £30.000 setahun sementara tak seorang pun dari bawahannya memperoleh £9.000?
Jawabannya adalah, Phil adalah insinyur "manusia." Phil 100 persen bersikap positif. Ia dapat mengilhami orang lain ketika mereka kurang bersemangat. Ia antusias. Ia membangkitkan antusiasme; ia mengerti manusia, dan karena ia dapat benar-benar melihat apa yang membuat mereka bergerak, ia menyukai mereka.
Bukan otak Phil, melainkan bagaimana ia memanajemeni otak-otak itu, yang membuatnya tiga kali lebih berharga bagi perusahaannya dibandingkan orang yang IQ-nya lebih tinggi.
Dari setiap 100 pelajar yang mendaftar di perguruan tinggi, kurang dari 50 akan lulus. Saya ingin tahu soal ini, maka saya meminta penjelasan kepada Direktur Penerimaan di sebuah universitas besar. "Bukan kurangnya inteligensi," katanya. "Kami tidak menerima mereka jika mereka tidak mempunyai kemampuan yang memadai. Dan itu bukan uang. Siapa saja yang ingin membiayai dirinya sendiri di perguruan tinggi sekarang ini dapat melakukannya. Alasan yang sebenarnya adalah sikap. Anda akan heran." katanya, "berapa banyak orang keluar karena mereka tidak menyukai dosen mereka, mata kuliah yang harus mereka ambil, dan rekan mereka sesama mahasiswa."

Alasan yang sama, berpikir negatif, menjelaskan mengapa pintu menuju posisi eksekutif puncak tertutup bagi banyak eksekutif junior yang masih muda. Sikap murung, negatif, pesimistis, mencela inilah, bukan inteligensi yang kurang memadai, yang menahan ribuan eksekutif muda. Seperti yang dikemuka-kan oleh seorang eksekutif kepada saya, "Jarang sekali kami melewatkan promosi untuk eksekutif muda karena orang bersangkutan kurang cerdas. Hampir selalu sikapnyalah yang membuatnya gagal."

Saya pernah ditugaskan oleh sebuah perusahaan asuransi untuk mempelajari mengapa 25 persen agen tingkat atas menjual lebih dari 75 persen asuransi sementara 25 persen agen kelas bawah hanya menjual 5 persen dari volume total. Ribuan arsip personalia dicek secara cermat. Penelitian tersebut membuktikan bahwa tidak ada perbedaan yang berarti dalam hal inteligensi. Begitu pula perbedaan dalam pendidikan tidak menjelaskan perbedaan dalam sukses menjual. Perbedaan orang yang sangat berhasil dan sangat tidak berhasil akhirnya menunjuk pada perbedaan dalam sikap, atau perbedaan dalam manajemen pikiran. Kelompok atas kurang khawatir, lebih antusias, dan memiliki kesukaan tulus akan orang lain.

Kita tidak dapat berbuat banyak mengubah jumlah kemampuan asli, tetapi kita pasti dapat mengubah cara kita menggunakan apa yang kita miliki.
Pengetahuan adalah kekuatan – jika Anda menggunakannya secara konstruktif. Berkaitan erat dengan dalih inteligensi adalah beberapa cara berpikir yang keliru mengenai pengetahuan. Kita sering mendengar bahwa pengetahuan adalah kekuatan. Akan tetapi pernyataan ini hanya benar separuhnya. Pengetahuan adalah kekuatan yang potensial. Pengetahuan baru menjadi kekuatan jika diterapkan – dan hanya jika pemakaiannya konstruktif.

Ada kisah bahwa ilmuwan besar Einstein pernah ditanya ada berapa kaki (sekitar 30cm) dalam satu mil. Einsten menjawab, "Saya tidak tahu. Mengapa?
saya harus mengisi otak saya dengan fakta yang dapat saya temukan dalam waktu dua menit di dalam buku acuan yang standar?"
Einstein mengajarkan kita suatu pelajaran yang sangat besar. Ia merasa bahwa lebih penting menggunakan otak kita untuk berpikir daripada menggunakannya sebagai gudang fakta.
Suatu kali Henry Ford terlibat dalam perkara pencemaran nama dengan Chicago Tribune. Tribune tersebut menyebut Ford ignoramus (orang yang tidak tahu apa-apa), dan Ford, orang yang terhormat, berkata, "Buktikan."
Tribune mengajukan pertanyaan sederhana seperti "Siapa Benedict Arnold?" "Kapan Perang Revolusioner pecah?" dan lain-lain, yang kebanyakan tidak dapat dijawab oleh Ford yang kurang mendapat pendidikan formal.
Akhirnya ia menjadi sangat jengkel dan berkata, "Saya tidak tahu jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi dalam waktu lima menit saya bisa mendapatkan orang yang dapat menjawabnya."
Henry Ford tidak pernah tertarik untuk memenuhi pikirannya dengan informasi. Ia tahu bahwa kemampuan untuk mengetahui cara mendapatkan informasi lebih penting daripada menggunakan pikiran sebagai garasi untuk fakta.
Berapakah harga seorang manusia–fakta? Belum lama ini saya menghabiskan malam yang sangat menarik bersama seorang teman yang menjabat sebagai direktur sebuah perusahaan manufakturing yang berkembang pesat. Pesawat TV kebetulan sedang menyiarkan salah satu acara kuis yang paling populer. Orang yang ditanyai sudah tampil selama beberapa minggu. Ia dapat menjawab segala macam persoalan, banyak yang tampaknya tidak masuk akal.
Sesudah ia menjawab pertanyaan yang sangat aneh, sesuatu mengenai sebuah gunung di Argentina, tuan rumah saya memandang ke arah saya dan berkata, "Berapa banyak menurut Anda saya akan membayar orang muda itu seandainya ia bekerja untuk saya?"
"Berapa?" tanya saya.
"Tidak lebih dari £100 – bukan per minggu, bukan per bulan, melainkan seumur hidup. Saya sudah menilainya. "Ahli" itu tidak dapat berpikir. Ia hanya dapat menghafal. Ia hanya ensiklopedi berjalan, dan saya kira dengan £100 saya dapat membeli satu set ensiklopedi yang bagus.
"Yang saya inginkan di sekeliling saya," lanjutnya, "adalah orang yang dapat memecahkan masalah, yang dapat memikirkan gagasan. Orang yang dapat bermimpi dan kemudian mengembangkan mimpi tersebut ke dalam aplikasi praktis; dan manusia–gagasan dapat menghasilkan uang. Manusia-fakta tidak dapat."

Tiga Cara untuk Menyembuhkan Dalih Inteligensi

Tiga cara mudah untuk menyembuhkan dalih inteligensi adalah:
Jangan pernah meremehkan inteligensi Anda sendiri dan menganggap terlalu tinggi inteligensi orang lain. Berkonsentrasilah pada apa yang Anda miliki. Temukan bakat unggul Anda. Ingat, bukan berapa banyak inteligensi yang Anda miliki yang penting, melainkan bagaimana Anda menggunakan otak Anda. Manajemenilah otak Anda daripada khawatir mengenai IQ Anda.
Ingatkan diri Anda beberapa kali setiap hari. "Sikap saya lebih penting daripada inteligensi saya." Di tempat kerja dan di rumah, praktekkan sikap positif. Lihat alasan mengapa Anda dapat melakukannya, bukan alasan mengapa Anda tidak dapat. Kembangkan sikap "Saya menang." Manfaatkan inteligensi Anda untuk pemakaian positif yang kreatif. Gunakan otak Anda untuk mencari cara-cara untuk menang, bukan membuktikan bahwa Anda akan kalah.

Ingat bahwa kemampuan berpikir jauh lebih bernilai daripada kemampuan mengingat fakta. Gunakan pikiran Anda untuk menciptakan dan mengembangkan gagasan, untuk mencari cara-cara baru dan lebih baik untuk mengerjakan segala sesuatunya. Tanya diri Anda sendiri, "Apakah saya menggunakan kemampuan mental saya untuk membuat sejarah, atau apakah saya menggunakannya hanya unuk merekam sejarah yang dibuat oleh orang lain?"

Tidak Ada Gunanya. Saya Terlalu Tua (terlalu Muda). Dalih usia, penyakit kegagalan karena tidak pernah merasa berada pada usia yang tepat, muncul dalam dua bentuk yang mudah dikenali: variasi "Saya terlalu tua" dan "Saya terlalu muda." Anda pernah mendengar ratusan orang dari segala usia menjelaskan prestasi mereka yang sedang-sedang saja dalam hidup mereka lebih kurang seperti ini: "Saya terlalu tua (atau terlalu muda) untuk melakukan terobosan sekarang ini. Saya tidak dapat mengerjakan apa yang ingin saya kerjakan, atau saya mampu kerjakan, karena rintangan usia."
Mengherankan sekali dan patut disayangkan bahwa hanya sedikit orang yang merasa bahwa mereka berada dalam "usia yang cocok." Dalih ini menutup pintu bagi peluang yang sebenarnya bagi ribuan orang. Mereka mengira usia mereka salah, sehingga mereka bahkan tidak berniat untuk mencoba.
Variasi "Saya terlalu tua" adalah bentuk yang paling lazim dari dalih usia. Penyakit ini menyebar dengan cara yang samar. Drama dan artikel majalah tentang topik tersebut, "Mengapa Anda Terlalu Tua pada Usia Empat Puluh" sangat populer, bukan karena menggambarkan fakta yang sebenarnya, melainkan karena menarik banyak pikiran khawatir yang mencari dalih.

Bagaimana Mengatasi Dalih Usia
Dalih usia dapat disembuhkan. Beberapa tahun yang lalu sewaktu saya menjalankan suatu program pelatihan penjualan, saya mendapatkan serum yang ampuh untuk menyembuhkan penyakit ini sekaligus memberikan vaksin melawan kekambuhannya. Di dalam program pelatihan itu ada seorang peserta yang bernama Cecil. Ia berusia 40 tahun, ingin mengangkat dirinya menjadi wiraniaga, tetapi mengira bahwa dirinya sudah terlalu tua. "Bagaimanapun," ia menjelaskan. "Saya harus memulai dari awal sekali. Dan pada usia empat puluh, saya sudah jauh terlalu tua."
Saya berbicara dengan Cecil beberapa kali mengenai masalah "usia tua" ini. Saya menggunakan obat yang sudah diuji dengan baik, "Anda setua yang Anda rasakan," tetapi ternyata cara ini tidak manjur. (Terlalu sering orang menjawab dengan ketus "Tetapi saya memang merasa tua!")
Akhirnya, saya menemukan metode yang ampuh. Suatu hari sesudah sesi pelatihan, saya berkata, "C-cil, kapan usia produktif manusia dimulai?" Ia berpikir beberapa detik dan menjawab, "Oh, ketika ia berusia sekitar 20 tahun, saya kira."
"Benar," saya membenarkan. "Nah kapan usia produktif manusia berakhir?" Cecil menjawab, "Kalau ia tetap sehat dan menyukai pekerjaannya, saya kira orang masih sangat berguna ketika ia berusia 70 atau lebih."
"Baiklah," saya berkata, "banyak orang masih sangat produktif sesudah mereka mencapai usia 70, tetapi marilah kita sepakati apa yang baru saja Anda katakan. Tahun-tahun produktif manusia terentang dari usia 20 hingga 70. Itu berarti rentang waktu 50 tahun, atau setengah abad. Anda sekarang baru berusia 40 tahun. Berapa tahun kehidupan produktif yang sudah Anda jalankan?"
"Dua puluh," jawabnya.
"Dan berapa tahun lagi yang tersisa?"
"Tiga puluh," jawabnya.
"Dengan kata lain, Anda bahkan belum mencapai setengah jalan; Anda baru menggunakan 40 persen dari tahun-tahun produktif Anda."
Saya menatap Cecil dan mengetahui bahwa ia mengerti maksudnya. Ia sembuh dari dalih usia. Cecil sekarang melihat bahwa ia masih mempunyai banyak tahun penuh peluang yang tersisa. Ia berubah dari berpikir, "Saya sudah terlalu tua," menjadi "Saya masih muda." Cecil kini sadar bahwa usia kini tidak menjadi soal. Sikap terhadap usia itulah yang menjadikannya berkat atau penghalang.
Menyembuhkan diri Anda dari dalih usia kerap membuka pintu menuju peluang yang Anda kira sudah terkunci rapat. Seorang kerabat saya menghabiskan waktu bertahun-tahun mengerjakan banyak hal yang berbeda – menjual, mengoperasikan per-usahannya sendiri, bekerja di bank – tetapi ia tidak pernah benar-benar menemukan apa yang sebenarnya ingin ia kerjakan. Akhirnya, ia menyimpulkan bahwa satu hal yang ia ingin lakukan lebih dari segala yang lain adalah menjadi pendeta.
Akan tetapi ia berpikir tentang hal itu, ia merasa dirinya sudah terlalu tua. Ia kini berusia 45 tahun, mempunyai tiga anak, dan sedikit uang.

Akan tetapi untunglah ia mengumpulkan segenap kekuatannya dan berkata kepada dirinya sendiri, "Empat puluh lima atau bukan, saya akan menjadi pendeta." Dengan kepercayaan yang sangat besar, ia mulai mengikuti program pendidikan untuk menjadi pendeta yang lamanya lima tahun. Lima tahun kemudian ia ditahbiskan menjadi pendeta dan tinggal di tengah jemaah yang lumayan besar di Amerika Serikat. Tua? Tentu saja tidak. Ia masih mempunyai 20 tahun kehidupan produktif di depannya. Belum begitu lama saya berbicara dengan orang ini dan ia berkata kepada saya, "Anda tahu, jika saya tidak mengambil keputusan besar itu sewaktu saya berusia 45, saya akan menjalani sisa hidup saya dengan menjadi tua dan tidak puas. Sekarang saya merasa sama mudanya dengan 25 tahun yang lalu."

Dan ia memang hampir tampak semuda itu. Jika Anda menaklukkan dalih usia, Anda pun memperoleh optimisme orang muda dan merasa muda. Ketika Anda mengalahkan ketakutan Anda akan keterbatasan usia, Anda pun menambahkan tahun-tahun ke dalam kehidupan Anda, dan juga keberhasilan.

Seorang bekas teman kuliah memberikan sudut pandang yang menarik mengenai bagaimana mengalahkan dalih usia. Bill lulus dari Harvard dalam usia 20-an. Sesudah 24 tahun berkecimpung dalam bisnis pialang saham, di mana selama itu ia memperoleh penghasilan yang lumayan, Bill memutuskan bahwa ia ingin menjadi profesor universitas. Teman-teman Bill memperingatkan bahwa ia akan terlalu membebani dirinya dalam program belajar yang berat. Namun, Bill bertekad mencapai tujuannya ini, dan mendaftar di University of Illinois – pada usia 51 tahun. Pada usia 55 tahun ia meraih gelarnya. Sekarang ini ia adalah Ketua Jurusan Ekonomi di sebuah perguruan tinggi seni liberal murni. Ia juga berbahagia. Ia tersenyum ketika berkata, "Saya masih mempunyai hampir sepertiga dari tahun-tahun saya yang menyenangkan."

Usia tua adalah penyakit kegagalan. Kalahkan penyakit ini dengan menolaknya menahan diri Anda.
Kapan seseorang itu terlalu muda? Variasi "Saya terlalu muda" dari dalih usia mengakibatkan kerusakan yang besar pula. Sekitar satu tahun yang lalu, seorang pemuda bernama Jerry yang berusia 23 tahun datang kepada saya dengan sebuah masalah. Jerry adalah pemuda yang baik. Ia menjadi pasukan terjun selama perang, dan kemudian melanjutkan kuliah. Sementara kuliah, Jerry membiayai istri dan putranya dengan menjual untuk perusahaan transfer dan penyimpanan. Ia telah melakukan pekerjaan yang baik sekali, baik di perguruan tinggi maupun untuk perusahaannya.

Namun, hari ini Jerry merasa khawatir. "Dr. Schwartz," katanya, "saya mempunyai sebuah masalah. Perusahaan tempat saya bekerja menawarkan pekerjaan sebagai manajer penjualan. Ini akan menjadikan saya penyelia (supervisor) atas delapan orang wiraniaga."
"Selamat, itu berita baik!" saya berkata. "Tetapi Anda tampaknya khawatir."
"Ya," lanjutnya, "kedelapan orang yang akan saya selia berusia 7 hingga 21 tahun lebih tua dari saya. Apa menurut Anda yang harus saya lakukan? Dapatkah saya menanganinya?"
"Jerry," saya menjawab, "manajer umum perusahaan Anda jelas menganggap Anda cukup tua, karena kalau tidak ia tidak mungkin menawarkan pekerjaan ini untuk Anda. Ingat saja tiga pokok ini dan segalanya akan berjalan baik: pertama, jangan terlalu memperhatikan usia. Di pertanian, seorang anak laki-laki dianggap dewasa kalau ia terbukti dapat melakukan pekerjaan seorang dewasa. Usia tidak ada kaitannya dengan pengakuan kedewasaan. Dan ini berlaku pada Anda. Jika Anda membuktikan diri mampu menangani pekerjaan seorang manajer penjualan, Anda otomatis sudah cukup tua untuk itu.
"Kedua, jangan sombong. Perlihatkan respek kepada wiraniaga bawahan Anda. Minta mereka memberikan saran. Buat mereka merasa bekerja untuk seorang kapten tim, bukan diktator. Lakukan ini, dan orang-orang itu akan bekerja bersama bersama Anda, bukan menentang Anda.
"Ketiga, biasakan diri membawahkan orang yang lebih tua bekerja untuk Anda. Para pemimpin di segala bidang segera mendapatkan diri mereka lebih muda dibandingkan banyak dari orang yang mereka pimpin. Jadi, biasakan diri mempunyai bawahan yang lebih tua bekerja untuk Anda. Hal ini akan sangat membantu pada tahun-tahun mendatang ketika peluang yang lebih besar muncul.
"Dan ingat, Jerry, usia Anda tidak akan menjadi penghalang jika Anda tidak menjadikannya demikian."
Sekarang ini, Jerry berhasil baik. Ia menyukai bisnis transportasi dan sekarang ia merencanakan untuk mengorganisasikan perusahaannya sendiri dalam beberapa tahun mendatang.
Kemudaan menjadi kelemahan hanya jika orang muda memandangnya demikian. Anda sering mendengar bahwa pekerjaan tertentu mensyaratkan kematangan fisik, pekerjaan seperti menjual surat berharga dan asuransi. Sama sekali omong kosong bahwa Anda harus mempunyai rambut kelabu, atau botak sama sekali, agar mendapatkan kepercayaan investor. Yang benar-benar penting adalah seberapa baik Anda menguasai pekerjaan Anda. Jika Anda menguasai pekerjaan Anda dan mengerti orang lain, Anda cukup matang untuk menanganinya. Usia tidak mempunyai kaitan dengan kemampuan, kecuali jika Anda meyakinkan diri Anda bahwa tahun-tahun itu saja akan memberi Anda bahan yang Anda perlukan untuk menghasilkan nama baik.

Banyak orang muda merasa bahwa mereka dihambat oleh usia mereka yang masih muda. Memang benar bahwa orang lain di dalam organisasi yang merasa tidak aman dan takut kehilangan pekerjaan mungkin berusaha menghambat jalan Anda untuk maju, dengan menggunakan usia atau alasan lain.

Namun, orang yang benar-benar cakap di dalam perusahaan tidak akan berbuat begitu. Mereka akan memberi Anda tanggung jawab sebesar yang mereka rasa dapat Anda tangani dengan baik. De-monstrasikan bahwa Anda mempunyai kemampuan dan sikap positif dan kemudaan Anda akan dianggap sebagai keuntungan.
Ringkasnya, obat untuk dalih usia adalah:
Lihat usia Anda yang sekarang secara positif. Berpikirlah "Saya masih muda," bukan "Saya sudah tua." Berlatihlah memandang ke depan ke cakrawala baru, dan dapatkan antusiasme serta perasaan muda.
Hitung berapa banyak waktu produktif yang masih Anda miliki. Ingat, usia 30 berarti masih ada 80 persen kehidupan produktif yang dimiliki. Dan usia 50 berarti masih ada 40 persen – 40 persen yang terbaik – dari tahun-tahun penuh peluang yang tersisa. Hidup sebenarnya lebih panjang daripada yang kebanyakan orang duga!
Investasikan waktu masa depan dalam mengerjakan apa yang benar-benar ingin Anda kerjakan. Terlalu terlambat jika Anda membiarkan pikiran Anda bersifat negatif dan berpikir bahwa segalanya sudah terlambat. Berhentilah berpikir "Saya seharusnya memulai bertahun-tahun yang lalu." Itu adalah berpikir gagal. Sebagai gantinya berpikirlah, "Saya akan memulai sekarang, tahun-tahun terbaik saya menanti di depan saya." Itulah cara orang sukses berpikir.

Tetapi Kasus Saya lain; Saya Menarik Nasib Buruk. Belum lama ini, saya mendengar seorang insinyur dalam bidang lalu lintas mendiskusikan keamanan jalan raya. Ia menunjukkan bahwa lebih dari 40.000 orang terbunuh setiap tahun di dalam apa yang disebut kecelakaan lalu lintas. Pokok utama dari pembicaraannya adalah bahwa tidak ada apa yang disebut sebagai kecelakaan yang sesungguhnya. Yang kita sebut kecelakaan adalah akibat dari kelalaian manusia atau kegagalan mekanis, atau kombinasi dari keduanya.

Apa yang dikatakan oleh ahli lalu lintas ini menyokong apa yang dikatakan oleh orang bijak zaman dahulu: ada sebab untuk segalanya. Tidak ada yang terjadi tanpa sebab. Tidak ada yang kebetulan mengenai cuaca sekarang ini. Ini adalah akibat dari sebab yang spesifik. Dan tidak ada alasan untuk percaya bahwa urusan manusia merupakan pengecualian.
Namun, hampir tidak ada hari yang berlalu tanpa Anda mendengar seseorang menimpakan kesalahan pada nasib "buruk." Dan jarang sekali Anda tidak mendengar seseorang menghubungkan keberhasilan orang lain dengan nasib "baik."
Mari saya ilustrasikan bagaimana orang mengalah pada dalih nasib. Belum lama ini saya makan siang bersama tiga orang eksekutif junior yang masih muda. Topik percakapan hari itu adalah George C, yang baru saja sehari sebelumnya dipilih dari kelompok mereka untuk mendapatkan promosi besar.

Mengapa George mendapatkan jabatan itu? Ketiga orang muda ini menggali untuk menemukan segala macam alasan: nasib baik, katrol, menjilat, istri George dan bagaimana wanita itu bermain mata dengan bos – yang semuanya tidak benar. Kenyataannya George memang benar-benar memenuhi syarat. Ia selama ini bekerja lebih baik dibandingkan yang lain. Ia bekerja lebih keras. Ia mempunyai kepribadian yang lebih efektif.

Saya juga mengetahui bahwa para karyawan senior di perusahaan tersebut sudah menghabiskan banyak waktu mempertimbangkan mana dari keempat orang tersebut yang akan dipromosikan. Ketiga orang yang kecewa tersebut seharusnya menyadari bahwa para eksekutif puncak tidak memilih eksekutif utama dengan jalan undian. Saya berbicara mengenai keseriusan dalih nasib tersebut belum lama ini dengan seorang wiraniaga dari perusahaan pembuat peralatan mesin. Ia menjadi bersemangat mengenai masalah tersebut dan mulai berbicara tentang pengalamannya sendiri dengan dalih tersebut.

"Saya tidak pernah mendengarnya disebut demikian sebelumnya," ujarnya, "tetapi ini adalah salah satu dari masalah paling sulit yang harus digeluti oleh setiap eksekutif penjualan. Baru kemarin sebuah contoh yang sempurna tentang apa yang Anda bicarakan terjadi di perusahaan saya.

"Salah seorang wiraniaga datang sekitar pukul empat dengan pesanan besar untuk peralatan mesin. Seorang wiraniaga lain, yang volume penjualannya begitu rendah sehingga ia menjadi masalah, berada di kantor saat itu. Mendengar John menyampaikan berita baik tersebut, ia dengan agak iri mengucapkan selamat kepadanya dan kemudian berkata, 'Wah, John, Anda kembali beruntung!'
"Nah, yang tidak mau diterima oleh wiraniaga yang lemah ini adalah bahwa nasib tidak ada kaitannya dengan pesanan besar yang didapat oleh John. John sudah menggarap pelangan itu selama berbulan-bulan. Ia sudah berulang kali berbicara dengan selusin orang di luar sana. John tidak tidur selama beberapa malam memikirkan secara persis apa yang terbaik untuk mereka. Kemudian ia menemui empat insinyur kami untuk membuat desain pendahuluan dari peralatan tersebut. John bukan beruntung, kecuali jika Anda boleh menyebut kerja yang direncanakan secara cermat dan dilaksanakan secara sabar sebagai keberuntungan.

Seandainya nasib digunakan untuk mereorganisasi bisnis. Jika nasib menentukan siapa yang mengerjakan apa dan siapa yang pergi ke mana, semua perusahaan di negara ini akan berantakan. Asumsikan sejenak bahwa sebuah perusahaan dagang yang besar diharapkan melakukan reorganisasi sepenuhnya berdasarkan nasib. Untuk melaksanakan reorganisasi tersebut, nama-nama semua karyawan akan dimasukkan ke dalam sebuah tong. Nama pertama yang keluar akan menjadi direktur pengelola, kedua wakilnya, dan seterusnya hingga pesuruh kantor.

Kedengarannya bodoh, bukan? Nah, begitulah caranya nasib bekerja. Orang yang naik hingga ke puncak di dalam pekerjaan apa pun – manajemen bisnis, penjualan, hukum, rekayasa, akting, atau apa saja – tiba di sana karena mereka mempunyai sikap yang unggul dan menggunakan pikiran sehat mereka dalam kerja keras.

Taklukkan Dalih Nasib dengan Dua Cara

Terimalah hukum sebab-akibat. Perhatikan kembali apa yang tampaknya sebagai "nasib baik" seseorang. Anda tidak akan menemukan nasib baik, melainkan persiapan, perencanaan, dan pikiran penghasil sukses yang mengawali "keberuntungannya." Perhatikan kembali apa yang tampaknya merupakan "nasib buruk" seseorang. Lihat, dan Anda akan menemukan alasan spesifik tertentu. Tuan keberhasilan menerima suatu kemunduran; ia belajar dan mendapatkan keuntungan. Tetapi ketika Tuan Kegagalan kalah, ia lalai untuk belajar.

Jangan menjadi orang yang suka berangan-angan kosong. Jangan boroskan energi mental Anda untuk memimpikan cara-cara tanpa usaha untuk mendapatkan keberhasilan. Kita tidak menjadi berhasil hanya melalui nasib baik. Keberhasilan datang dari pelaksanaan hal-hal dan penguasaan prinsip-prinsip yang menghasilkan keberhasilan. Jangan mengandalkan nasib baik untuk mendapatkan promosi, kemenangan, hal-hal yang baik dalam hidup ini. Sebaliknya, berkonsentrasilah pada pengembangan kualitas-kualitas itu di dalam diri Anda yang akan menjadikan Anda seorang pemenang.

Jika bermanfaat, mari kita saling berbagi informasi dengan like dan share.


Bagaimana Berpikir Besar
Buku Berpikir dan Berjiwa Besar adalah buku pegangan utama orang-orang yang ingin sukses hanya dengan bermodalkan impian. Cerita selanjutnya tentang bagaimana berpikir besar hanyalah kelanjutan post sebelumnya Percaya Anda dapat berhasil maka Anda pun akan benar-benar berhasil -- Sembuhkan Diri Anda Dari Dalih Penyakit Kegagalan -- Bangun Kepercayaan dan Hancurkan Kekuatan. Mari kita lanjutkan.

Belum lama ini saya berbincang dengan seorang pejabat personalia dari salah satu organisasi industri yang sangat besar. Empat bulan setiap tahun ia mengunjungi akademi dan perguruan tinggi guna merekrut staf untuk program pelatihan eksekutif ju-nior di perusahaannya. Nada umum dari komentarnya menunjukkan bahwa ia berkecil hati karena sikap banyak anak muda yang ia ajak berbicara.

"Hampir setiap hari saya mewawancarai antara 8 dan 12 mahasiswa senior, semua termasuk posisi atas di dalam kelas mereka, dan semua setidaknya agak berminat untuk bergabung dengan staf kami. Salah satu hal utama yang kami cari di dalam wawancara penyaringan adalah motivasi diri individu. Kami ingin mengetahui apakah ia termasuk jenis orang yang dapat, dalam waktu beberapa tahun, memimpin proyek-proyek besar, memanajemeni kantor cabang atau pabrik, atau dengan suatu cara lain memberikan sumbangan yang benar-benar besar bagi perusahaan.

"Saya harus mengakui bahwa saya tidak terlalu senang dengan sasaran kebanyakan orang muda yang saya wawancarai. Anda akan terkejut," ia melanjutkan, "berapa banyak orang berusia 22 tahun yang lebih tertarik akan rencana pensiun kami dibandingkan apa saja yang lain yang kami tawarkan. Pertanyaan favorit kedua adalah, 'Apakah saya akan banyak bepergian?' Kebanyakan orang muda tampaknya mendefinisikan kata sukses sinonim dengan jaminan. Dapatkah kita mengambil risiko mempercayakan perusahaan kita kepada orang-orang seperti itu?

"Yang tidak dapat saya mengerti adalah mengapa orang-orang muda dewasa ini harus menjadi begitu ultrakonservatif, begitu berpandangan sempit mengenai masa depan? Setiap hari tampaknya ada semakin banyak peluang. Negara ini membuat kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan perkembangan industri. Populasi bertambah dengan pesat.
Kecenderungan begitu banyak orang yang berpikiran kecil berarti ada jauh lebih sedikit persaingan ketimbang yang Anda kira untuk karier yang sangat memberikan harapan.
Sejauh berkenaan dengan sukses, orang tidak diukur menurut sentimeter, atau kilogram, atau gelar akademis, atau latar belakang keluarga; mereka diukur berdasarkan besar kecilnya cara berpikir mereka. Berapa besar kita berpikir menentukan ukuran prestasi kita.
Sekarang, mari kita lihat bagaimana kita dapat memperbesar cara berpikir kita.

Pernahkah Anda bertanya kepada diri sendiri, "Apa kelemahan saya yang terbesar?" Barangkali kelemahan terbesar manusia adalah sikap mencela diri – yaitu kompleks inferioritas. Sikap mencela diri terlihat melalui cara yang tak terhitung banyaknya. John melihat sebuah lowongan pekerjaan yang diiklankan di koran. Pekerjaan ini persis seperti apa yang ia inginkan. Akan tetapi ia tidak melakukan apa pun sehubungan dengan lowongan tersebut karena ia berpikir, "Saya tidak cukup ahli untuk pekerjaan itu, jadi mengapa harus repot-repot?" Atau, mungkin Jim ingin berkencan dengan Joan, tetapi ia tidak menelepon Joan karena ia mengira gadis ini mungkin menolaknya.
Tom merasa Tuan Richards akan menjadi calon pembeli yang sangat baik untuk produknya, tetapi Tom tidak menghubunginya karena ia merasa Tuan Richard adalah orang yang terlalu penting untuk mau menemuinya. Pete mengisi formulir lamaran untuk suatu pekerjaan. Salah satu pertanyaan berbunyi: "Berapa gaji awal yang Anda harapkan?" Pete menuliskan angka yang kecil saja karena ia merasa ia benar-benar tidak layak mendapatkan jumlah yang lebih besar seperti yang ia inginkan.

Selama ribuan tahun para filsuf telah memberikan nasihat yang bagus: Kenali diri Anda sendiri. Akantetapi kebanyakan orang tampaknya menafsirkan nasihat ini sebagai Kenali diri Anda yang negatif. Kebanyakan evaluasi diri terdiri atas pembuatan daftar mental yang panjang dari kesalahan seseorang, ke-kurangannya dan ketidakmemadai dirinya.
Memang baik jika kita mengenali ketidakmampuan kita, karena hal ini memperlihatkan kepada kita bidang-bidang yang masih dapat kita perbaiki. Akan tetapi jika kita hanya mengenal sisi negatif diri kita, maka nilai diri kita pun menjadi kecil.
Berikut ini adalah sebuah latihan untuk membantu Anda mengukur besarnya diri Anda yang sebenarnya. Saya sudah menggunakannya dalam program pelatihan untuk para eksekutif dan wiraniaga. Latihan ini berhasil.

Tentukan lima aset atau kelebihan utama Anda. Minta beberapa teman Anda yang objektif untuk membantu – barangkali istri Anda, atasan Anda, dosen Anda – memberikan opini yang jujur. (Contoh-contoh aset yang sering didaftar adalah pendidikan, pengalaman, keterampilan teknis, penampilan, kehidupan rumah tangga yang harmonis, sikap, kepribadian, inisiatif.)
Berikutnya, di bawah tiap aset, tulis nama tiga orang yang Anda ketahui sudah mencapai keberhasilan besar, tetapi yang tidak mempunyai aset ini sebesar yang Anda punyai.

Jika Anda sudah menyelesaikan latihan ini, Anda akan mendapatkan diri Anda mengalahkan banyak orang yang berhasil pada setidaknya satu aset atau kelebihan.

Hanya ada satu kesimpulan yang dapat Anda capai: Anda lebih besar daripada yang Anda kira. Jadi, cocokkan cara berpikir Anda dengan ukuran diri Anda yang sebenarnya. Berpikirlah sebesar diri Anda yang sebenarnya.
Ada orang yang dapat membanggakan dirinya bahwa ia mempunyai kosakata yang besar. Akan tetapi apakah ia mempunyai kosakata pemikir besar? Mungkin tidak. Orang yang menggunakan kata dan frase yang sulit dan kedengarannya tinggi yang menyulitkan pendengar mereka untuk memahaminya, biasanya cenderung suka menguasai dan congkak. Dan orang yang congkak biasanya adalah pemikir kecil.
Ukuran yang penting atas kosakata seseorang bukanlah jumlah suku kata di dalam kata-kata yang ia gunakan. Sesungguhnya, satu-satunya hal yang penting mengenai kosakata adalah efek yang ditim-bulan kata dan frase yang disampaikannya atas cara berpikirnya sendiri dan cara berpikir orang lain.

Berikut ini adalah sesuatu yang sangat dasar: Kita tidak beprikir dalam kata dan frase. Kita berpikir ha-nya dalam gambar dan/atau citra. Kata adalah bahan mentah dari pikiran. Sewaktu diucapkan atau dibaca, instrumen yang mengagumkan ini, otak, otomatis mengubah kata dan frase menjadi gambaran pikiran. Jika seseorang mengatakan kepada Anda, "Jim membeli martil baru" Anda melihat satu gambar. Tetapi jika Anda diberitahu, "Jim membeli sebuah mobil merah" Anda melihat satu gambar lagi.

Gambar pikiran yang kita lihat dimodifikasi oleh jenis kata yang kita gunakan untuk menamai dan menggambarkan hal-hal.
Sewaktu berbicara atau menulis Anda sedikit banyak menyerupai proyektor yang menayangkan film di dalam pikiran orang lain. Dan gambar-gambar yang anda ciptakan menentukan bagaimana Anda dan orang lain bereaksi.

Andaikan Anda memberitahu sekelompok orang, "Maaf, saya harus melaporkan bahwa kita telah gagal" – apa yang orang-orang ini lihat? Mereka melihat kekalahan dan semua kekecewaan dan kesedihan yang dibawa oleh kata "gagal" Nah, seandainya sebagai gantinya Anda mengatakan, "Ini adalah pendekatan baru yang saya kira akan berhasil." Mereka akan merasa berbesar hati, siap untuk mencoba lagi.

Andaikan Anda mengatakan, "Kita menghadapi masalah." Anda sudah menciptakan di dalam pikiran orang lain suatu gambar tentang sesuatu yang sulit dan tidak menyenangkan untuk dipecahkan. Sebagai gantinya, katakanlah, "Kita menghadapi tantangan," dan Anda menciptakan suatu gambar pikiran tentang kegembiraan, sesuatu yang menyenangkan dan menggairahkan untuk dilakukan.
Jika Anda berkata kepada orang, "Kita harus mengadakan pengeluaran besar," mereka melihat uang yang dikeluarkan dan tidak pernah kembali. Ini benar-benar tidak menyenangkan. Sebagai gantinya, katakanlah, "kita membuat investasi besar," dan orang melihat suatu gambaran tentang sesuatu yang akan mendatangkan laba nantinya. Suatu keadaan yang sangat menyenangkan.

Intinya adalah ini. Pemikir besar adalah ahli dalam menciptakan gambar yang positif, memandang ke depan, optimistis baik di dalam pikiran mereka sendiri maupun pikiran orang lain. Untuk berpikir besar kita harus menggunakan kata dan frase yang menghasilkan citra atau gambar mental yang positif dan besar.
Di dalam kolom sebelah kiri di bawah ini terdapat contoh-contoh frase yang menimbulkan pikiran kecil, negatif, dan menyebabkan depresi. Di dalam kolom di sebelah kanan, situasi yang sama dibicarakan, tetapi dengan cara yang positif dan besar.
Sementara Anda membaca contoh-contoh ini, bertanyalah kepada diri sendiri: "Gambaran pikiran apa yang saya lihat?"
Pernyataan yang Menimbulkan Citra Pikiran Kecil dan Negatif
Pernyataan yang Menimbulkan Citra Pikiran Besar dan Positif
Tidak ada gunanya; kita sudah kalah.
Kita belum kalah. Mari kita terus berusaha. Ini ada segi lain yang baru.
Saya pernah sekali berkecimpung dalam bisnis itu dan gagal. Tidak mau mencobanya lagi.
Saya memang bangkrut, tetapi itu salah saya sendiri. Saya akan mencoba lagi.
Saya sudah berusaha, tetapi produknya memang tidak laku. Orang tidak menginginkannya.
Sejauh ini saya memang tidak mampu menjual produk ini. Tetapi saya tahu produk ini bagus dan saya akan menemukan Formula yang akan membuatnya laku.
Pasarnya sudah jenuh. Bayangkan – 75 persen dari potensi yang ada sudah terjual. Lebih baik keluar.
Bayangkan, 25 persen dari pasar masih belum terjual. Ikutkan saya. Ini tampaknya besar!
Pesanan mereka selama ini kecil. Hentikan saja.
Pesanan mereka selama ini memang kecil. Mari kita susun rencana untuk meningkatkan pesanan mereka.
Lima tahun adalah waktu yang terlalu lama sebelum saya dapat masuk ke peringkat atas di perusahaan Anda. Keluarkan saya.
Coba pikir, itu masih memberi saya 30 tahun untuk bekerja pada tingkat tinggi.
Pesaing memiliki semua kelebihan. Bagaimana Anda berharap saya menjual melawan mereka?
Pesaing memang kuat. Tidak ada yang menyangkal hal itu, tetapi tak seorang pun memiliki semua kelebihan. Mari kita pikirkan bersama cara untuk mengalahkan mereka dalam permainan mereka sendiri.
Tak seorang pun akan pernah menginginkan produk itu.
Dalam bentuknya yang sekarang, produk ini mungkin memang tidak mudah dijual, tetapi mari kita pertimbangkan beberapa modifikasi.
Mari kita tunggu hingga resesi terjadi, lalu kita beli stok.
Mari kita melakukan investasi sekarang. Bertaruhlah untuk kemakmuran, bukan depresi
Saya terlalu muda (tua) untuk pekerjaan itu.
Usia muda (tua) adalah keuntungan yang mencolok.
Tidak akan berhasil, mari saya buktikan.
Lima tahun bukanlah waktu yang terlalu lama.
Ini akan berhasil, mari saya buktikan.
Citra: Gelap, muram, kekecewaan, kesedihan kegagalan.
Citra: Cerah, penuh harapan, sukses, menyenangkan, kemenangan.

Empat Cara untuk Mengembangkan Kosakata Pemikir Besar

Di bawah ini adalah empat cara untuk membantu Anda mengembangkan kosakata pemikir besar.

1. Gunakan kata dan frase yang besar, positif, dan riang untuk menggambarkan perasaan Anda. Jika seseorang bertanya: "Bagaimana perasaan Anda hari ini?" dan Anda menjawab dengan "Saya letih (sakit kepala, harapan ini hari Sabtu, tidak begitu enak)" Anda sebenarnya membuat diri Anda merasa lebih buruk. Praktekkan ini: cara ini sangat sederhana, tetapi mempunyai kekuatan yang luar biasa. Setiap kali seseorang bertanya kepada Anda, "Apa kabar?" atau "Bagaimana perasaan Anda hari ini?" jawablah dengan "Baik sekali, terima kasih. Dan anda}" atau katakan "Baik sekali" atau "Baik-baik saja." Katakan Anda merasa senang sekali pada setiap kesempatan dan Anda pun akan benar-benar merasa senang – dan lebih besar pula. Jadilah terkenal sebagai orang yang selalu merasa senang. Sikap ini membuat Anda mempunyai banyak teman.

2. Gunakan kata dan frase yang cerah, ceria, dan menyenangkan untuk menggambarkan orang lain. Jadikan ini peraturan untuk menggunakan kata yang besar dan positif untuk semua teman dan rekan bisnis Anda. Jika Anda sedang berdiskusi dengan seseorang tentang pihak ketiga yang tidak hadir, pastikan Anda memujinya dengan kata dan frase yang besar seperti "Ia benar-benar orang baik." "Kata orang ia bekerja sangat baik." Ekstra hati-hatilah agar Anda tidak menggunakan bahasa yang mengecilkan seseorang. Cepat atau lambat, pihak ketiga tersebut akan mendengar apa yang sudah diucapkan, dan kemudian pembicaraan tersebut hanya akan merugikan anda.

3. Gunakan bahasa yang positif untuk membesarkan hati orang lain. Beri selamat secara pribadi pada setiap kesempatan. Semua orang yang Anda kenal sangat mengidamkan pujian. Berikan kata pujian khusus untuk istri atau suami Anda setiap hari. Perhatikan dan puji orang yang bekerja bersama Anda. Pujian yang diberikan secara tulus adalah sarana menuju sukses. Gunakanlah! Gunakan berulang-ulang. Puji orang untuk penampilan mereka, pekerjaan mereka, prestasi mereka, keluarga mereka.

4. Gunakan kata-kata positif untuk mengikhti-sarkan rencana kepada orang lain. Ketika orang mendengar sesuatu seperti ini: "Ini ada kabar baik. Kita menghadapi peluang yang baik sekali ..." pikiran mereka mulai menyala. Akan tetapi ketika mereka mendengar sesuatu seperti "Suka atau tidak, kita harus melaksanakan pekerjaan itu," citra pikiran adalah membosankan dan mereka bereaksi sesuai dengannya. Janjikan kemenangan dan saksikan mata yang menyala. Janjikan kemenangan dan dapatkan dukungan. Bangunlah istana, jangan menggali kubur.
Lihat Apa Kemungkinannya, Bukan Hanya Apa yang Ada

Pemikir besar melatih diri mereka untuk melihat bukan hanya apa yang ada, tetapi apa kemungkinannya. Di sini ada empat contoh untuk mengilustrasikan maksud pernyataan di atas.

1. Apa yang Memberi Nilai kepada Real Estate? Seorang agen real estate yang sangat sukses dan berspesialisasi dalam tanah pertanian di pedesaan memperlihatkan apa yang dapat dilakukan jika kita melatih diri melihat sesuatu di mana ada sedikit atau tidak ada sesuatu pun yang eksis sekarang ini, yaitu melihat kemungkinan-kemungkinannya.
"Kebanyakan tanah pedesaan di sekitar sini," teman saya berkata, "tidak begitu menarik. Saya berhasil karena saya tidak berusaha menjual tanah pertanian ini sebagaimana adanya.
"Saya mengembangkan seluruh rencana penjualan saya berdasarkan kemungkinan apa saja yang dapat dihasilkan dari pertanian ini. Sekedar mengatakan kepada calon pembeli, 'Pertanian ini luasnyasekian hektar yang terdiri atas tanah di sepanjang tepi sungai dan sekian hektar hutan, dan sekian kilometer jauhnya dari kota,' tidak akan menggugahnya dan membuatnya ingin membeli tanah tersebut. Namun, jika Anda memperlihatkan suatu rencana konkret untuk melakukan sesuatu dengan tanah pertanian tersebut, ia sudah tergugah minatnya untuk membeli. Mari saya perlihatkan apa yang saya maksudkan."

Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah arsip. "Pertanian ini," katanya, "43 kilometer jauhnya dari kota terdekat, rumahnya perlu diperbaiki, dan pertanian tersebut tidak diolah selama lima tahun. Sekarang, inilah yang sudah saya lakukan. Saya menghabiskan dua hari penuh di tempat itu minggu lalu hanya untuk mempelajarinya. Saya berjalan berkeliling pertanian tersebut beberapa kali. Saya memperhatikan pertanian-pertanian lain di sekitarnya. Saya mempelajari lokasi pertanian tersebut dalam kaitannya dengan jalan raya yang sudah ada dan yang direncanakan akan dibangun. Saya bertanya kepada diri sendiri, 'Untuk apa baiknya tanah pertanian ini?'
"Saya mendapatkan tiga kemungkinan." Ia memperlihatkan ketiga kemungkinan itu kepada saya.
Tiap rencana diketik rapi dan tampak menyeluruh. Salah satu rencana adalah mengubah pertanian menjadi tempat penyewaan kuda tunggang. Rencana tersebut memperlihatkan mengapa gagasan tersebut bagus: kota yang sedang berkembang, berkembangnya minat akan kegiatan di luar rumah, ada lebih banyak uang untuk rekreasi, jalan yang bagus. Rencana tersebut juga memperlihatkan bagaimana pertanian tadi dapat menampung kuda dalam jumlah lumayan besar sehingga pemasukan dari tempat sewa tersebut akan besar. Keseluruhan gagasan sangat tuntas, sangat meyakinkan – begitu meyakinkan sehingga saya dapat "melihat" selusin pasangan menunggang kuda melewati pepohonan.
Dengan cara yang sama, agen real estate ini mengembangkan rencana yang kedua untuk perkebunan dan rencana ketiga untuk kombinasi perkebunan dan peternakan ayam.

"Nah, waktu saya berbicara dengan calon pembeli saya tidak perlu meyakinkan mereka bahwa pertanian adalah investasi yang bagus sebagaimana adanya. Saya membantu mereka melihat suatu gambaran tentang pertanian yang berubah menjadi proyek yang menghasilkan uang.
"Selain menjual lebih banyak tanah pertanian dengan lebih cepat, cara saya menjual dengan memperlihatkan kemungkinan-kemungkinan yang ada, memberikan imbalan dengan cara yang lain. Saya dapat menjual suatu pertanian dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan pesaing saya. Orang dengan sendirinya membayar lebih besar untuk luas tanah dan suatu gagasan daripada untuk luas tanahnya saja. Oleh karena itu, lebih banyak orang menawarkan tanahnya kepada saya, dan komisi yang saya peroleh dari tiap penjualan lebih besar.

Pelajaran yang dapat diambil di sini: "Jangan memandang sesuatu sebagaimana adanya, tetapi pandanglah kemungkinan-kemungkinannya. Visualisasi menambah nilai pada segala sesuatu. Pemikir besar selalu memvisualisasikan apa yang dapat dilakukan pada masa datang. Ia tidak puas dengan masa sekarang.

2. Berapa Banyak Nilai Seorang Pelanggan? Seorang eksekutif sebuah toserba berbicara di depan suatu rapat manajer. Ia mengatakan, "Saya mungkin sedikit ketinggalan zaman, tetapi saya termasuk aliran yang percaya bahwa cara terbaik untuk membuat pelanggan datang kembali adalah dengan memberi mereka pelayanan yang ramah dan sopan. Suatu hari saya sedang berjalan melewati toko kami ketika saya kebetulan mendengar seorang wiraniaga berdebat dengan seorang pelanggan. Pelanggan tersebut pergi dengan marah.
"Sesudahnya, wiraniaga tadi berkata kepada rekannya, 'Saya tidak akan membiarkan pelanggan kelas teri menyita semua waktu saya dan menyuruh saya membongkar toko untuk menemukan apa yang ia inginkan. Ia benar-benar tidak pantas mendapatkannya.'
"Saya pun melangkah pergi," eksekutif tadi melanjutkan, "tetapi saya tidak dapat menyingkirkan komentar itu dari benak saya. Ini serius sekali, saya pikir, jika wiraniaga kami menganggap pelanggan sebagai kelas teri. Saya memutuskan saat itu bahwa konsep ini harus diubah. Ketika kembali ke kantorsaya, saya memanggil akuntan kami dan memintanya untuk mencari tahu berapa banyak yang dibelanjakan rata-rata pelanggan di toko tahun lalu. Angka yang dihasilkannya mengejutkan saya. Menurut perhitungan cermat akuntan kami, pelanggan yang biasa saja menghabiskan £500 setahun di toko kami.
"Hal berikutnya yang saya lakukan adalah mengadakan rapat dengan semua penyelia (supervisor), menjelaskan kejadian tersebut kepada mereka. Lalu, saya memperlihatkan kepada mereka berapa nilai seorang pelanggan sebenarnya. Segera sesudah saya membuat mereka melihat bahwa seorang pelanggan tidak boleh dinilai hanya pada satu penjualan, tetapi secara tahunan, pelayanan pelanggan jelas membaik."

Pokok yang diajukan oleh eksekutif tersebut berlaku pada jenis bisnis apa pun. Bisnis ulanglah yang menghasilkan laba. Acap kali tidak ada laba sama sekali pada beberapa penjualan pertama. Pengeluaran potensial dari para pelanggan harus dipertimbangkan, bukan hanya apa yang ia beli hari ini.
Menghargai pelanggan setinggi-tingginya akan mengubah mereka menjadi pelanggan besar yang tetap. Memberikan nilai yang rendah kepada pelanggan mengakibatkan mereka membeli di tempat lain.
Seorang mahasiswa mengilustrasikan hal ini ke-pada saya, menjelaskan mengapa ia tidak mau makan lagi di kantin tertentu.
"Untuk makan siang hari ini," mahasiswa tadi memulai, "saya memutuskan untuk mencoba kantin baru yang dibuka dua minggu lalu. Setiap sen sangat berarti bagi saya saat ini, maka saya mengirit sedapat mungkin. Melewati bagian masakan daging saya melihat ada daging kalkun yang kelihatannya enak, dan harganya tercantum jelas £2,50 per porsi.
"Ketika saya membayar, kasir memandang nampan saya dan mengatakan '£5.00!' Saya dengan halus memintanya mengecek lagi karena menurut hitungan saya makanan yang saya ambil hanya berjumlah £4,00. Ia menatap saya dengan mencibir dan mengecek kembali. Yang keliru ternyata harga kalkun tersebut. Ia menagih saya £3,50 seporsi dan bukan £2,50. Saya menunjuk label harga yang terbaca jelas £2,50.
"Gadis itu sangat kasar. 'Saya tidak peduli berapa harga yang tertulis di sana. Harganya seharusnya £3,50. Lihat, ini daftar harga saya untuk hari ini. Pasti ada yang salah memasang label harga itu. Anda harus membayar £3,50.'
"Kemudian saya coba menjelaskan kepadanya bahwa satu-satunya alasan saya memilih daging kalkun itu adalah karena harganya yang £2,50. Jika diberi harga £3,50 saya pasti memilih makanan yang lain.
"Gadis tadi tetap berkeras, 'Anda tetap harus membayar £3,50.' Saya akhirnya membayar sejumlah itu karena tidak mau berdiri terus di sana dan membuat keributan. Akan tetapi, saya memutuskan saat itu juga bahwa saya tidak akan kembali ke kantin itu lagi. Saya membelanjakan sekitar £500 setahun untuk makan siang, dan Anda boleh pastikan mereka tidak akan melihat sesen pun dari uang itu." Itu adalah sebuah contoh tentang pandangan yang kecil. Kasir tersebut begitu peduli dengan uang dalam jumlah yang kecil sehingga ia tidak berpikir tentang £500 yang potensial.

3. Kasus Tukang Susu yang Buta. Mengherankan sekali berapa banyak orang yang buta terhadap kemungkinan (potensi). Beberapa tahun yang lalu seorang tukang susu yang masih muda datang ke rumah kami untuk menawarkan agar kami menjadi pelanggan. Saya menjelaskan kepadanya bahwa kami sudah berlangganan susu setiap hari dan sangat puas dengan pelayanan yang diberikan. Lalu, saya menyarankan agar ia menghubungi tetangga di sebelah rumah dan berbicara dengan nyonya rumah di sana.

Tukang susu tersebut menjawab, "Saya sudah berbicara dengan nyonya tersebut, tetapi mereka hanya memerlukan satu liter susu tiap dua hari, dan itu tidak cukup berharga untuk membuat kami singgah di sana."
"Mungkin saja begitu," saya berkata, "tetapi ketika Anda berbicara dengan tetangga kami itu, tidakkah Anda lihat bahwa permintaan susu di rumah tangga itu akan bertambah dalam jumlah besar dalam satu bulan atau lebih? Akan ada tambahan baru di sana yang akan menghabiskan banyak susu."
Tukang susu tersebut terbengong-bengong sejenak, dan kemudian berkata, "Bagaimana saya menjadi begitu buta?"
Hari ini keluarga yang semula hanya membeli satu liter susu tiap dua hari ini membeli 7 liter susu tiap dua hari dari tukang susu yang mempunyai pandangan ke depan. Anak laki-laki pertama di keluarga itu kini mempunyai dua adik laki-laki dan seorang adik perempuan. Dan saya diberitahu bahwa akan ada satu lagi segera menyusul. Betapa butanya kita kadang-kadang? Lihatlah kemungkinannya, bukan hanya apa yang ada sekarang.

Guru sekolah yang hanya berpikir tentang Jim-my sebagaimana anak itu sekarang – seorang anak nakal yang bodoh – tentu saja tidak akan membantu perkembangan anak tersebut. Akan tetapi guru yang melihat potensi yang ada pada diri Jimmy, akan berusaha membantunya sebaik mungkin.

4. Apa yang Menentukan Berapa Besar Nilai Diri Anda? Sesudah suatu sesi pelatihan beberapa ming-gu yang lalu, seorang pemuda datang menemui saya dan bertanya apakah ia boleh berbicara dengan saya selama beberapa menit. Saya tahu bahwa anak muda ini, yang kini berusia sekitar 26 tahun, selama ini merupakan anak yang sangat kurang mampu. Ia pernah mengalami banyak sekali kemalangan menjelang dewasa. Saya juga tahu bahwa ia sudah berusaha keras menyiapkan diri untuk masa depan yang mantap.
Sambil minum kopi, kami dengan cepat menyusun masalah teknisnya dan diskusi kami beralih pada bagaimana orang dengan sedikit harta milik harus memandang ke arah masa depan. Komentarnya memberikan jawaban yang terus terang dan sehat.
"Saya punya kurang dari £70 di bank. Pekerjaan saya sebagai juru tulis tidak menghasilkan banyak uang dan tidak menuntut banyak tanggung jawab. Mobil saya sudah berumur empat tahun dan saya bersama istri tinggal di sebuah flat kecil di lantai dua.
"Tapi, profesor," ia melanjutkan, "Saya bertekad untuk tidak membiarkan apa yang belum saya miliki menghentikan kemajuan saya."
Itu adalah pernyataan yang membangkitkan minat, maka saya mendesaknya untuk menjelaskan.
"Begini," ia melanjutkan, "Saya sudah menganalisis banyak orang belakangan ini, dan saya melihat bahwa orang yang tidak mempunyai banyak harta memandang diri mereka sebagaimana adanya sekarang. Itu saja yang mereka lihat. Mereka tidak melihat ke masa depan, mereka cuma menatap masa sekarang yang menyedihkan.

"Tetangga saya merupakan contoh yang baik. Ia selalu mengeluh mengenai pekerjaannya yang bergaji kecil, pipa leding yang selalu bocor, keberuntungan yang diperoleh orang lain, berbagai rekening yang menumpuk. Ia mengingatkan dirinya begitu sering tentang kemiskinannya sehingga sekarang ia hanya mengasumsikan bahwa ini adalah keadaan dirinya yang permanen. Ia bertindak seolah ia dihukum seumur hidup untuk tinggal di flatnya yang menyedihkan."
Teman saya jelas berbicara dari hatinya yang tulus, dan sesudah diam sejenak ia menambahkan, "Jika saya memandang diri saya semata sebagaimana adanya – mobil tua, pendapatan kecil, apartemen murah, diet sederhana – tidak melihat seorang pun, melainkan hanya orang yang gagal, maka saya tidak akan menjadi siapa pun dan hanya menjadi orang gagal seumur hidup.

"Tetapi, saya memutuskan untuk memandang diri saya sebagai orang sebagaimana yang saya inginkan dalam beberapa tahun mendatang. Saya memandang diri saya bukan hanya sebagi juru tulis, melainkan sebagai seorang eksekutif. Saya tidak melihat apartemen yang kumuh. Saya melihat sebuah rumah yang bagus di pinggiran kota. Dan ketika saya memandang diri saya sendiri dengan cara itu, saya merasa lebih besar dan berpikir lebih besar. Dan saya mempunyai banyak sekali pengalaman pribadi untuk membuktikan bahwa saya berada pada jalan yang benar."

Bukankah merupakan rencana yang hebat untuk menambahkan nilai pada diri sendiri? Orang muda ini berada pada jalur ekspres menuju sukses. Ia telah menguasai prinsip dasar bahwa yang penting bukan apa yang orang miliki, melainkan berapa banyak yang ia rencanakan untuk ia capai.

Nilai yang diberikan dunia atas diri kita ditentukan kan oleh harga yang kita berikan kepada diri kita sendiri.
Di bawah ini adalah cara Anda dapat mengembangkan kekuatan diri Anda untuk melihat apa ke-mungkinan yang ada, bukan hanya apa yang ada. Saya menyebutnya latihan "menambah nilai."

1. Praktekkan menambahkan nilai pada segala sesuatu. Ingat contoh real estate. Bertanyalah kepada diri sendiri, "Apa yang dapat saya lakukan untuk "menambah nilai" pada ruangan ini, atau rumah ini, atau bisnis ini?" Cari gagasan untuk membuat sesuatu bernilai lebih besar. Sesuatu – entah itu ruangan, rumah atau bisnis – mempunyai nilai sebanding dengan gagasan untuk pemakaiannya.

Praktekkan menambahkan nilai pada manusia. Sementara Anda bergerak semakin tinggi dan semakin tinggi di dalam dunia sukses, semakin banyak tugas Anda menjadi tugas yang bersifat "pe-nyeliaan" (supervisory). Tanyakan, "Apa yang dapat saya lakukan untuk "menambah nilai" pada bawahan saya? Apa yang dapat saya lakukan untuk membantu mereka menjadi lebih efektif?" Ingat, untuk menghasilkan yang terbaik di dalam diri seseorang, Anda harus lebih dahulu memvisualisasikan yang terbaik dalam diri orang yang bersangkutan.
Praktekkan menambahkan nilai pada diri Anda sendiri. Jalankan wawancara dengan diri sendiri setiap hari. Tanyakan, "Apa yang dapat saya lakukan untuk membuat diri saya lebih berharga sekarang ini?" Visualisasikan diri Anda bukan sebagaimana Anda sekarang, tetapi sebaimana Anda dapat menjadi apa nantinya. Kemudian cara-cara spesifik untuk mencapai nilai potensial Anda akan muncul dengan sendirinya. Coba saja dan lihat hasilnya.


Seorang manajer sekaligus pemilik yang sudah pensiun dari sebuah percetakan (60 karyawan) menjelaskan kepada saya bagaimana penggantinya dipilih.

"Lima tahun yang lalu," teman saya memulai, "saya memerlukan seorang akuntan untuk bertanggung jawab atas keuangan dan rutin kantor kami. Orang yang saya angkat – namanya Harry – baru berusia 26 tahun. Ia tidak tahu apa-apa tentang bisnis percetakan, tetapi riwayat kerja sebelumnya me-nunjukan bahwa ia adalah seorang akuntan yang ahli. Namun, satu setengah tahun yang lalu saya mengangkatnya menjadi manajer umum perusahaan.
"Mengingat kembali saat itu, saya menyadari Harry mempunyai satu ciri yang menempatkannya di depan semua orang yang lain. Ia secara tulus dan aktif tertarik akan perusahaan secara keseluruhan, bukan hanya dalam membayar rekening dan membuat catatan. Setiap kali ia melihat bagaimana ia dapat membantu karyawan lain, ia mengajukan sarannya. Setiap kali ia melihat bagaimana ia dapat membantu atasannya, ia melakukan hal yang sama.

"Tahun pertama Harry bersama saya, beberapa orang karyawan keluar. Ia mengajukan skema yang ia janjikan akan mengurangi biaya umum dengan biaya yang sangat rendah. Rencananya berhasil.
"Harry mengerjakan banyak hal lain pula yang membantu perusahaan, bukan hanya departemennya sendiri. Ia membuat studi biaya rinci untuk bagian produksi kami dan menyingkapkan bagaimana suatu investasi yang besar dalam mesin cetak baru akan menghasilkan keuntungan yang besar. Sekali kami mengalami kemerosotan kerja yang sangat buruk. Harry mendatangi bagian 'penetap harga' dan berkata, 'Saya tidak tahu banyak mengenai bidang Anda, tetapi bersediakah Anda mengizinkan saya mencoba membantu?' Dan ia melakukannya. Harry muncul dengan beberapa gagasan yang sangat bagus untuk membantu kami mendapatkan lebih banyak kontrak untuk percetakan kami.

"Ketika seorang karyawan baru bergabung dengan staf, Harry merasa sudah menjadi tugasnya untuk membuat pendatang baru itu merasa nyaman.
"Ketika saya pensiun, Harry adalah satu-satunya orang yang logis untuk mengambil alih.
"Akan tetapi, jangan salah paham," teman saya melanjutkan. "Harry tidak berusaha menonjolkan dirinya di hadapan saya. Ia juga bukan sekadar orang yang sok sibuk. Ia tidak agresif dengan cara yang negatif. Ia tidak menusuk dari belakang, atau berkeliling memberikan perintah. Ia benar-benar menolong, bertindak seolah semua yang ada di dalam perusahaan melibatkan dirinya. Ia menjadikan urusan perusahaan sebagai urusannya."

Kita semua dapat mengambil pelajaran dari Harry. Sikap "saya sudah melakukan tugas saya dan itu cukup" adalah cara berpikir yang kecil dan negatif. Pemikir besar memandang diri mereka bukan sebagai individu belaka, melainkan sebagai anggota tim, menang atau kalah bersama tim. Mereka membantu dengan segala cara yang dapat mereka lakukan, bahkan ketika tidak ada kompensasi atau imbalan langsung dan seketika untuk tindakan mereka. Orang yang tidak menghiraukan masalah yang dihadapi teman sekerja dengan komentar, "Oh, itu bukan urusan saya, biarkan saja dia yang cemas!" tidak mempunyai sikap yang paling dibutuhkan untuk menjadi pemimpin.

Berlatihlah menjadi pemikir besar. Lihat kepentingan perusahaan identik dengan kepentingan Anda sendiri. Barangkali hanya sedikit sekali orang yang bekerja di perusahaan besar mempunyai minat yang tulus dan tidak egois akan perusahaan. Itulah sebabnya hanya relatif sedikit orang yang memenuhi syarat sebagai pemikir besar. Dan yang sedikit ini adalah orang-orang yang akhirnya diberi pekerjaan dengan tanggung jawab paling besar dan gaji paling tinggi.

Banyak orang yang memiliki potensi untuk maju membiarkan hal-hal kecil yang tidak penting menghambat jalan mereka menuju sukses. Mari kita lihat empat contoh:

1. APA YANG DIPERLUKAN UNTUK MEMBUAT PIDATO YANG BAIK?
Hampir semua orang ingin mempunyai "kemampuan" untuk tampil sebagai pembicara kelas satu di muka umum. Hanya sedikit orang yang berhasil mewujudkan keinginan mereka, dan kebanyakan orang tetap menjadi pembicara yang tidak efektif di muka umum.
Mengapa? Alasannya sederhana. Kebanyakan orang berkonsentrasi pada hal-hal kecil yang sepele dalam berbicara dengan mengorbankan persoalan besar yang penting. Dalam menyiapkan diri untuk berpidato, kebanyakan orang melengkapi diri dengan sekumpulan instruksi mental seperti "Saya harus ingat untuk berdiri tegak," "Jangan berjalan berkeliling dan jangan gunakan   tangan Anda," "Jangan biarkan hadirin melihat Anda menggunakan catatan Anda," "Ingat, jangan membuat kesalahan gramatika," "Pastikan dasi Anda lurus," "Berbicaralah dengan jelas, tetapi jangan terlalu keras," dan seterusnya.

Nah, apa yang terjadi ketika pembicara tersebut bangkit untuk berbicara? Ia takut karena ia telah memberi dirinya daftar panjang hal-hal yang tidak boleh ia lakukan. Ia menjadi bingung dalam menyampaikan pidatonya dan mendapatkan dirinya bertanya-tanya dalam hati "Apakah saya berbuat kesalahan?" Pendeknya, ia gagal. Ia gagal karena ia berkonsentrasi pada kualitas yang kecil, sepele, dan relatif tidak penting dari seorang pembicara yang baik, dan gagal berkonsentrasi pada hal-hal besar yang menjadikan seseorang pembicara yang baik: pengetahuan tentang apa yang akan ia bicarakan dan keinginan kuat untuk menyampaikannya kepada orang lain.
Ujian yang sesungguhnya atas seorang pembicara bukanlah apakah ia berdiri tegak atau apakah ia membuat banyak kesalahan gramatika, melainkan apakah hadirin mengerti apa yang ia ingin sampaikan? Kebanyakan dari pembicara terkemuka mempunyai cacat kecil; beberapa dari mereka bahkan mempunyai suara yang tidak enak didengar. Namun, mereka memiliki kualitas yang benar-benar penting. Mereka mempunyai sesuatu untuk dikatakan dan mereka merasakan hasrat yang menyala agar orang lain mendengarnya.

2. APA YANG MENYEBABKAN PERTENGKARAN?
Pernahkah Anda berhenti sejenak untuk bertanya diri apakah yang menyebabkan pertengkaran? Sedikitnya 99 persen pertengkaran dimulai karena persoalan kecil yang tidak penting seperti ini: John pulang ke rumah dengan sedikit letih dan sedikit gelisah. Hidangan makan malam yang disajikan kurang sesuai dengan seleranya sehingga ia memalingkan wajah dan mengeluh. Hari yang dilewati Joan juga tidak terlalu menyenangkan, sehingga ia menuntut, "Baiklah, apa yang engkau harapkan dengan uang belanja yang kecil?" atau "Mungkin saya dapat memasak makanan yang lebih pantas se-Andainya saya mempunyai kompor baru seperti yang tampaknya dimiliki semua orang yang lain." Ini menghina harga diri John, sehingga ia balas menyerang dengan, "Dengar, Joan, sama sekali bukan uangnya yang kurang. Engkau saja yang tidak tahu cara mengaturnya."
Dan begitulah seterusnya. Sebelum terjadi gencatan senjata, segala macam tuduhan dibuat untuk menyerang satu sama lain. Seks, uang, janji pranikah dan pascanikah, dan banyak lagi persoalan lain dilontarkan. Kedua pihak meninggalkan pertempuran dalam keadaan gugup dan tegang. Tidak ada yang dibereskan, tetapi John dan Joan sudah dilengkapi dengan amunisi baru untuk membuat pertengkaran berikutnya lebih keras lagi. Hal-hal kecil, cara berpikir kecil, menyebabkan argumen. Jadi, untuk menghapus pertengkaran, hapuslah cara berpikir picik.

Berikut ini adalah sebuah teknik yang bekerja dengan baik. Sebelum mengeluh atau menuduh atau memarahi seseorang, atau meluncurkan serangan balasan sebagai pembelaan diri, bertanyalah kepada diri sendiri: "Apakah ini benar-benar penting?" Dalam kebanyakan hal, tidak cukup penting, dan Anda pun berhasil menghindari konflik.
Bertanyalah kepada diri sendiri, "Apakah benar-benar penting seandainya ia menjatuhkan abu rokok di atas karpet atau lupa menutup tube pasta gigi, atau terlambat pulang ke rumah?"

"Apakah benar-benar penting seandainya ia memboroskan sedikit uang atau mengundang beberapa orang yang tidak saya sukai?"
Jika Anda merasa ingin mengambil tindakan negatif, bertanyalah kepada diri sendiri, "Apakah ini benar-benar penting?" Jawaban untuk pertanyaan itu bekerja secara ajaib dalam membangun situasi rumah yang lebih baik. Jawabannya juga berlaku di kantor. Cara ini manjur ketika dalam perjalanan pulang ke rumah seorang pengemudi lain memotong jalan di depan Anda. Cara ini manjur di dalam situasi apa pun dalam kehidupan yang cenderung menimbulkan pertengkaran.

3. JOHN MENDAPATKAN KANTOR YANG TERKECIL DAN IA GAGAL.
Beberapa tahun yang lalu, saya menyaksikan bagaimana cara berpikir picik mengenai akomodasi kantor menghancurkan peluang seorang pemuda untuk mendapatkan karier yang menguntungkan dalam periklanan.
Empat orang eksekutif muda, semua pada tingkat status yang sama, dipindahkan ke kantor yang baru. Tiga kantor baru tersebut sama dalam ukuran dan dekorasi. Yang keempat lebih kecil dan lebih sederhana.
J.M. diberi kantor yang keempat, dan ini ternyata merupakan pukulan menyedihkan bagi harga dirinya. Segera saja ia merasa dirinya mengalami diskriminasi. Pikiran negatif, kemarahan, kegetiran, rasa iri menumpuk. J.M. mulai merasa dirinya tidak mampu. Akibatnya ia semakin menaruh dendam kepada rekan-rekan, eksekutifnya. Bukannya bekerja sama dengan mereka, ia malah berusaha sedapat mungkin merusak usaha mereka. Segalanya menjadi semakin buruk, dan J.M. mengalami penurunan begitu buruk sehingga tiga bulan kemudian para direktur tidak mempunyai pilihan lain selain memecatnya.

Cara berpikir picik mengenai persoalan kecil menghancurkan diri J.M. Dalam ketergesaannya merasa didiskriminasikan, ia gagal untuk menyadari bahwa perusahaan sedang berkembang dengan pesat dan ruang kantor benar-benar sangat berharga. Bahkan tidak terpikir olehnya bahwa eksekutif yang mengatur pembagian kantor-kantor tersebut bahkan tidak tahu mana kantor yang kecil. Satu-satunya orang di perusahaan tersebut yang menganggap kantor sebagai indeks nilai dirinya adalah J.M. sendiri.

Cara berpikir kecil mengenai hal-hal yang tidak penting seperti melihat nama Anda tercantum paling akhir pada lembaran gaji, atau menerima salinan karbon keempat dari memo kantor, dapat menyakiti Anda. Berpikirlah besar dan tak satu pun hal-hal kecil ini dapat menahan diri Anda.

4. BAHKAN GAGAP MERUPAKAN HAL KECIL.
Seorang wiraniaga mengatakan kepada saya bahwa bahkan gagap hanyalah soal kecil dalam hal kewira-niagaan jika orang bersangkutan mempunyai kualitas yang benar-benar penting.
"Saya mempunyai seorang teman yang juga seorang wiraniaga," ia mengakui, "yang senang bergurau, walaupun kadang leluconnya sama sekali tidak lucu. Beberapa bulan yang lalu seorang pemuda mengunjungi teman saya yang suka bergurau ini dan meminta pekerjaan sebagai penjual. Pemuda ini sangat gagap, dan teman saya segera melihat peluang untuk memperdayakan saya. Teman saya mengatakan kepada pelamar yang gagap tersebut bahwa saat ini tidak ada lowongan di perusahaannya, tetapi salah seorang temannya (saya) mempunyai lowongan. Ia menelepon saya dan memberikan laporan yang bagus mengenai orang ini. Tanpa curiga saya berkata, 'Kirim dia segera.'

"Tiga puluh menit kemudian masuklah pemuda tersebut. Ia belum mengucapkan lebih dari tiga patah kata ketika saya menyadari mengapa teman saya begitu antusias mengirimnya ke tempat saya. 'S-s-s-aya J-J-Jack R.,' katanya. 'Pak G. mengirim saya untuk berbicara tentang p-p-p-pekerjaan.' Hampir tiap kata yang ia ucapkan merupakan perjuangan, dan saya berkata kepada diri sendiri, "Orang ini tidak dapat menjual uang satu dolar dengan harga satu sen." Saya jengkel kepada teman saya, tetapi saya merasa kasihan kepada pelamar yang masih muda ini. Saya pikir yang paling sedikit dapat saya lakukan adalah mengajukan beberapa pertanyaan basa-basi sambil saya memikirkan alasan untuk menyingkirkannya tanpa melukai perasaannya terlalu banyak.

"Namun, sementara kami berbicara, saya mengetahui bahwa orang muda ini cerdas, bahwa ia dapat membawa diri dengan sangat baik. Sayang sekali ia sangat gagap. Akhirnya, saya memutuskan mengakhiri wawancara dengan mengajukan satu pertanyaan terakhir: 'Apa yang membuat Anda berpikir Anda dapat menjual?'

"'Baiklah,' katanya, 'Saya c-c-cepat belajar, s-s-saya suka kepada orang, s-s-saya pikir Anda mempunyai perusahaan yang baik, dan saya i-i-ingin menghasilkan u-u-uang. Saya tahu saya m-m-memang sulit berb-b-bi-cara, t-t-tetapi itu tidak mengganggu s-s-saya, jadi mengapa ini harus meng-g-g-ganggu orang lain?'

"Jawabannya membuktikan kepada saya bahwa ia memiliki semua kualifikasi yang benar-benar penting bagi seorang wiraniaga. Saya memutuskan memberinya kesempatan. Dan percaya atau tidak, ia berhasil sangat baik."
Bahkan cacat dalam berbicara di dalam profesi yang menuntut kemampuan berbicara yang baik merupakan hal yang sepele jika orang bersangkutan mempunyai kualitas yang besar.

Praktekkan tiga prosedur ini untuk membantu diri Anda tidak memikirkan hal-hal sepele di atas:
1. Usahakan mata Anda tetap terfokus pada sasaran yang besar. Banyak kali kita seperti wiraniaga yang, karena gagal menghasilkan penjualan, melaporkan kepada manajernya, "Ya, tetapi saya meyakinkan si pelanggan bahwa ia keliru." Dalam menjual, sasaran yang besar adalah menghasilkan penjualan, bukan memenangkan argumen.
Dalam perkawinan, sasaran yang besar adalah kedamaian, kebahagiaan, ketenangan – bukan memenangkan pertengkaran atau mengatakan, "Bukankah dulu sudah saya katakan ..."
Dalam bekerja dengan karyawan, sasaran yang besar adalah mengembangkan potensi mereka sepenuhnya, bukan mempersoalkan kesalahan kecil.

Dalam hidup bertetangga, sasaran yang besar adalah respek timbal balik dan persahabatan – bukan mencari-cari agar Anda dapat melaporkan mereka kepada polisi karena anjing mereka kadang menyalak pada malam hari.
Dalam bahasa militer, "Jauh lebih baik kalah dalam pertempuran dan memenangkan perang, daripada memenangkan pertempuran dan kalah dalam perang."
Usahakan agar mata Anda tetap menatap sasaran yang besar.

2. bertanyalah "Apakah ini benar-benar penting?" Sebelum menjadi tergugah secara negatif, bertanyalah kepada diri sendiri, "Apakah cukup penting bagi saya untuk menjadi marah?" Tidak ada cara yang lebih baik untuk menghindari frustrasi karena persoalan kecil daripada menggunakan obat ini. Setidaknya 90 persen dari pertengkaran dan permusuhan tidak akan pernah terjadi jika kita menghadapi situasi yang mengganggu dengan pertanyaan "Apakah ini benar-benar penting?"

3. Jangan jatuh kedalam perangkap hal-hal yang sepele. Dalam berpidato, memecahkan masalah, memberi nasihat kepada karyawan, pikirkanlah hal-hal yang benar-benar penting, hal-hal yang benar-benar menentukan. Jangan menjadi tenggelam di bawah persoalan yang dangkal. Berkonsentrasilah pada hal-hal yang penting.

Ikuti Tes Ini untuk Mengukur Besarnya Pikiran Anda

Di dalam kolom sebelah kiri di bawah ini terdapat beberapa situasi yang lazim. Di kolom tengah dan kanan adalah perbandingan dari bagaimana pemikir yang picik dan pemikir besar memandang situasi yang sama. Uji diri Anda, kemudian putuskan pendekatan mana yang akan membawa Anda ke tempat yang Anda tuju – cara berpikir picik atau berpikir besar?

Situasi yang sama ditangani dengan dua cara yang sepenuhnya berbeda. Pilihannya ada di tangan Anda.
Situasi
Pendekatan Pemikir Picik
Pendekatan Pemikir Besar
Rekening Pengeluar-an
Memikirkan cara menaikan pendapatan dengan menambahkan rekening pengeluaran.
Memikirkan cara untuk menaikkan pendapatan dengan menjual lebih banyak barang.
Percakapan
Berbicara tentang kualitas negatif teman, ekonomi, perusahaan, pesaing.
Berbicara tentang kualitas positif teman, perusahaan, pesaing.
Perkembang-an
Percaya akan penghematan atau paling banter status quo.
Percaya akan ekspansi.
Masa Depan
Memandang masa depan itu terbatas.
Memandang masa depan itu penuh harapan.
Kerja
Mencari cara untuk menghindari kerja.
Mencari lebih banyak cara dan hal untuk dikerjakan, khususnya membantu orang lain.
Kompetisi
Bersaing dengan yang rata-rata
Bersaing dengan yang terbaik.
Masalah Anggaran
Memikirkan cara menghemat uang dengan mengurangi hal-hal yang perlu.
Memikirkan cara untuk menaikkan pendapatan dan membeli lebih banyak barang yang perlu.
Tujuan
Menetapkan tujuan yang rendah.
Menetapkan tujuan yang tinggi.
Visi
Hanya melihat cara yang terbatas.
Asyik dengan jangka panjang.
Jaminan
Asyik dengan masalah jaminan.
Menganggap jaminan hanya sebagai penyerta dalam keberhasilan
Persahabatan
Bergaul dengan para pemikir picik.
Bergaul dengan orang yang penuh gagasan besar dan progresif.
Kesalahan
Membesar-besarkan kesalahan kecil. Mengubah kesalahan kecil menjadi persoalan besar.
Mengabaikan kesalahan kecil yang kurang penting.

Ingat, Berpikir Besar Selalu Memberikan Imbalan

1. Jangan mengidap kompleks inferioritas. Taklukkan kebiasaan mencela diri. Berkonsentrasilah pada aset atau kelebihan Anda. Anda lebih baik daripada yang Anda duga.
2. Gunakan kosakata pemikir besar. Gunakan kata-kata yang besar, cerah, ceria. Gunakan kata-kata yang menjanjikan kemenangan, harapan, kebahagiaan, kesenangan; hindari kata-kata yang menimbulkan gambaran tidak menyenangkan berupa kegagalan, kekalahan, kesedihan.
3. Bentangkan visi Anda. Lihat apa kemungkinannya, bukan hanya apa yang ada. Praktekkan menambahkan nilai pada benda, pada orang, dan pada diri sendiri.
4. Dapatkan pandangan yang besar mengenai pekerjaan Anda. Berpikirlah, benar-benar berpikir bahwa pekerjaan Anda yang sekarang benar-benar penting. Bahwa promosi berikutnya bergantung terutama pada bagaimana Anda berpikir mengenai pekerjaan Anda yang sekarang.
5. Jangan berpikir tentang hal-hal yang sepele. Fokuskan perhatian Anda pada sasaran yang besar. Sebelum terlibat di dalam persoalan yang kecil, bertanyalah kepada diri sendiri, "Apakah ini benar-benar penting?"


Merubah Dunia Dengan 'Sifat Operasi Hitung Matematika'

Jika Anda pernah mengecap pendidikan di Sekolah Dasar (SD) tepatnya sewaktu kelas 4 maka Anda sudah di perkenalkan sifat-sifat operasi hitung pada bilangan bulat. Sifat-sifat operasi hitung bilangan bulat itu akan saya ingatkan kembali dengan sederhana.

1. Sifat Komutatif
sifat komutatif disebut juga sifat pertukaran. Sifat Komutatif ini berlaku pada operasi penjumlahan dan perkalian.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan penjumlahan berikut.
2 + 4 = 6
4 + 2 = 6
Jadi, 2 + 4 = 4 + 2.
Sifat seperti ini dinamakan sifat komutatif pada penjumlahan.
Sekarang, coba perhatikan perkalian berikut.
2 × 4 = 8
4 × 2 = 8
Jadi, 2 × 4 = 4 × 2.
Sifat seperti ini dinamakan sifat komutatif pada perkalian.

2. Sifat Asosiatif
Pada penjumlahan dan perkalian tiga bilangan bulat berlaku sifat asosiatif atau disebut juga sifat pengelompokan.
Perhatikanlah contoh penjumlahan tiga bilangan berikut.
(2 + 3) + 4 = 5 + 4 = 9
2 + (3 + 4) = 2 + 7 = 9
Jadi, (2 + 3) + 4 = 2 + (3 + 4).
Sifat seperti ini dinamakan sifat asosiatif pada penjumlahan.
Sekarang, coba perhatikan contoh perkalian berikut.
(2 × 3) × 4 = 6 × 4 = 24
2 × (3 × 4) = 2 × 12 = 24
Jadi, (2 × 3) × 4 = 2 × (3 × 4).
Sifat ini disebut sifat asosiatif pada perkalian.

3. Sifat Distributif
Sifat distributif disebut juga sifat penyebaran.
Untuk lebih memahaminya, perhatikanlah contoh berikut.
Contoh 1
Apakah 3 × (4 + 5) = (3 × 4) + (3 × 5)?
Jawab:
3 × (4 + 5) = 3 × 9 = 27
(3 × 4) + (3 × 5) = 12 + 15 = 27
Jadi, 3 × (4 + 5) = (3 × 4) + (3 × 5) dan ini disebut sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan

Contoh 2
Apakah 3 × (4 – 5) = (3 × 4) – (3 × 5)?
Jawab:
3 × (4 – 5) = 3 × (–1) = –3
(3 × 4) – (3 × 5) = 12 – 15 = –3
Jadi, 3 × (4 – 5) = (3 × 4) – (3 × 5) dan ini disebut sifat distributif perkalian terhadap pengurangan.



Dalam kehidupan ini, kita juga hidup di dalam banyak tanda kurung. Tanda kurung yang pertama yaitu 'diri kita' lalu kurung berikutnya 'keluarga' kemudian 'kota' lalu 'negara' dan 'Dunia'.
(((((DIRI KITA)KELUARGA)KOTA)NEGARA)DUNIA)
Kita sebagai seorang manusia tidak akan bisa mengubah dunia tanpa terlebih dahulu mengubah diri kita sendiri dan dalam matematika hal itu sudah diterapkan sejak kita SD



Cerita Sumber Inspirasi: “Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini, lalu aku putuskan untuk mengubah negaraku saja. Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku. Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri. Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini.”